
Hari ini, Ica kedatangan tamu istimewa. Azwar datang bersama Sintia, setelah dari kantor Azwar langsung mengajak Sintia bertamu ke rumah Ica, mungkin lebih tepat nya mampir karena Azwar bukan tamu, melainkan kakak nya.
"Permisi.."
Ica yang sedang duduk santai sambil ngemil buah langsung menoleh dan dia bersorak kegirangan saat melihat kakak dan calon kakak ipar nya datang.
"Kakak.." Ica menghambur memeluk Azwar, dia begitu merindukan sosok kakak nya, setelah pernikahan hari itu mereka belum bertemu lagi.
"Ica kangen.."
"Kakak juga, udah meluk nya nanti suami mu marah. Kita semua tau bagaimana posesif nya suami mu itu, Dek."
"Haha, Daddy masih di kantor lembur Kak." Jawab Ica sambil cengengesan.
"Ihhh kakak bawa calon kakak ipar, haii calon kakak ipar." Sapa Ica ramah.
"Hai juga adik ipar."
"Ayoo masuk." Ica menarik tangan Sintia, lalu ketiga nya duduk di sofa ruang tamu.
"Bibi.."
"Iya Non.." Bi Arin yang sedang siap-siap untuk masak makan malam segera datang saat mendengar Nona muda nya memanggil.
"Minta tolong boleh?"
"Boleh Nona, sangat boleh." Jawab Bi Arin.
"Tolong buatin minum untuk kakak sama pacar nya ya?"
"Baik Non."
"Makasih Bi." Ucap Ica, Bi Arin hanya menganggukan kepala nya, lalu pergi ke dapur.
"Ehh btw napa kakak udah balik?"
"Ya emang udah waktu nya, Dek. Kenapa?" Balik Tanya Azwar.
"Tiba-tiba aja kangen Daddy." Keluh Ica dengan ekspresi sendu.
"Telepon aja suruh pulang, Dek. Kamu perlu perhatian, apalagi saat hamil gini." Saran Azwar.
"Kasian, nanti Ica ganggu kerjaan Daddy, Kak."
"Dia sayang banget sama kamu, dia bisa lakuin apapun buat kamu, termasuk ninggalin kerjaan nya demi kamu." Jawab Azwar.
"Bby, kangen Daddy? Daddy pulang sayang.." Ica menoleh, dia melihat Zen sudah berdiri di belakang nya dengan menenteng tas kerja dan jas yang di sampirkan di lengan nya.
"Daddy, huaaa kangenn..." Ica berdiri dan menghambur memeluk suami nya.
Zen pun menyambut hangat pelukan itu, mengecup puncak kepala sang istri bertubi-tubi, lalu mendekap nya erat. Ternyata perasaan nya tak salah, Istrinya benar-benar membutuhkan nya. Biar saja dia menanam asisten nya di kantor.
"Kangen Daddy ya? Pantesan perasaan Daddy gak enak, ternyata istri cantik Daddy lagi kangen." Celoteh Zen sambil mengusap rambut sang istri dengan mesra.
"Kok Daddy tau Ica kangen?"
"Perasaan Daddy gak enak aja, jadi nya Daddy pulang."
__ADS_1
"Kerjaan gimana?"
"Bisa di kerjakan besok, atau Bimo yang urus. Kamu adalah yang paling utama sekarang." Jawab Zen sambil menguyel pipi sang istri dengan gemas.
"Uuuhh Daddy, makin cinta deh sama Daddy."
"Daddy juga makin cinta sama Istri gemoy nya Daddy."
"Lho Daddy tau bahasa kekinian dari siapa?" Tanya Ica.
"Bimo, dia bilang kamu gemoy."
"Tumben Daddy gak marah?" Tanya Ica dengan tatapan menyelidik.
"Ya marah dong, makanya dia Daddy tanam di kantor."
"Kasian dong Assisten Bimo nya Dad, Hani gimana?"
"Bodo amat," Ucap Zen acuh, membuat Ica cemberut.
"Ehemm.." Azwar pura-pura menekan tenggorokan nya, seolah deheman nya itu adalah benar-benar karena tenggorokan nya yang tak nyaman.
"Ehh ada abang ipar," Ucap Zen sambil nyengir, membuat Azwar geleng-geleng, dari tadi dia disini menyaksikan ke uwuan sepasang pengantin baru itu, benar kata orang dunia terasa milik berdua jika sedang jatuh cinta.
"Apa kabar bang?" Tanya Zen, dia mendekat dan memeluk abang nya singkat.
"Baik Zen, kau sendiri?"
"Aku juga baik, btw kita udah ketemu di kantor."
"Itu kan beda lagi, mana kesini nya sama cewek. Siapa bang?" Tanya Zen melirik Sintia dengan ujung mata nya.
"Wihhh, mau nyusul nih bang? Yuk, adik mu ini mau nyumbang."
"Rencana nya aku mau nikahin Sintia seminggu lagi, tapi hanya acara sederhana saja. Di hadiri keluarga inti aja." Jelas Azwar.
"Kenapa gak pesta aja bang?"
"Gak usah, kami mau nya sederhana aja. Cuma ucap janji, yang penting status nya jelas. Aku gak mau dia pergi lagi, cukup aja kita break 5 tahun."
"Jadi dia mantan mu Bang?" Azwar menganggukan kepala nya.
"Iya, dulu kita break karena aku yang harus kuliah ke luar kota."
"Ohh, yaudah kalo gitu. Aku sama Ica pasti datang, tapi minimal ada jamuan makanan buat keluarga bang."
"Aku udah mikirin itu kok."
"Jamuan nya dari ku saja Bang, jadi abang hanya perlu mengurus pendeta yang akan meresmikan hubungan kalian." Usul Zen.
"Tapi aku tak mau bergantung padamu.."
"Hanya bantuan kecil, tak masalah. Itu takkan membuat aku bangkrut, lagian aku kesana bawa bumil yang doyan makan, jadi takut dia bad mood kalau gak ada apa-apa." Celetuk Zen sambil melirik sang istri yang sudah cengengesan.
"Jadi deal ya bang?"
"Terserah kau saja kalau begitu."
__ADS_1
"Aku kesulitan menghubungi Ibu,"
"Memang nya kenapa kak?" Tanya Ica.
"Dia gak mau ketemu kakak Ca, kamu tau kan gimana ibu?"
"Huum, pasti ini semua gara-gara Ica."
"Nggak dong, kamu gak ada sangkut pautnya sama masalah ini. Kakak bela kamu, karena kamu benar. Kamu gak pernah salah apa-apa, tapi ibu selalu aja nganggap kalau apapun itu pasti salah mu dan kakak gak suka itu." Jelas Azwar.
"Kau ingin ibu mu hadir?" Tanya Zen.
"Tentu saja, siapa yang tak mau di momen bahagia nya ibu nya datang menyaksikan sendiri putra nya bersanding dengan perempuan pilihan nya?"
"Aku yang akan membawa nya, jangan khawatir. Apapun cara nya, dia akan datang saat waktu nya datang." Jawab Zen membuat Azwar menganggukan kepala nya, dia sepenuhnya percaya pada Zen, adik ipar nya.
"Lalu Kak Mei?"
"Entahlah, apa dia sudah pulang atau belum kakak tak tau." Jawab Azwar.
"Kakak tak mencari nya?"
"Sudah, tapi tak membuahkan hasil."
"Meisya hilang?"
"Iya Dad, sudah 3 bulanan kan ya?"
"Kurang lebih segitu Ca." Ucap Azwar.
"Kemana gadis itu, apa dia di culik?"
"Ya bisa saja itu terjadi."
"Serahkan juga padaku, semoga saja ada petunjuk untuk perempuan itu. Palingan dia di culik oleh istri om-om selingkuhan nya." Celetuk Zen membuat Azwar mendongak.
"Maksudmu?"
"Maafkan aku, tapi adik mu itu adalah simpanan om-om. Aku tau dan aku punya bukti nya."
"Ap-apa?" Tanya Azwar, dia merasa tak percaya adik nya bisa melakukan hal semenjijikan itu.
"Terakhir, dia jadi simpanan pengusaha kere Elang Dwi Anggara, dan keponakan nya adalah sahabat istri ku, Brian." Jelas Zen. Rupanya dia memata-matai setiap tingkah laku Meisya secara diam-diam.
"Elang?"
"Ya, pengusaha yang tak mampu berdiri di atas kaki nya sendiri, semua harta nya adalah milik istri nya."
"Huhh rumit sekali, entahlah dimana dia sekarang." Keluh Azwar.
"Sudahlah, semoga saja masih ada petunjuk tentang keberadaan nya."
"Ya semoga saja."
.....
π·π·π·π·
__ADS_1
Apa kabar? Masih ada yang nungguin gak? Kalau ada semangatin author dengan vote yaππ