
Azwar datang dengan panik, setelah mendapat telepon dari seseorang, membuatnya segera datang ke kontrakan adiknya, tentu bersama sang istri yang saat ini tengah ngidam. Ya, Sintia sedang mengandung 1 bulan saat ini, padahal mereka menikah baru beberapa hari, berarti penyatuan waktu itu membuat sel telur Sintia terbuahi.
"Mana adikku?"
"Di kamar, dia masih belum sadarkan diri." Jawab pria berbadan tegap dengan seragam serba hitam dan alat komunikasi di telinga nya.
"Kamu anak buah Zen yang waktu itu mengantar Mei kan?" tanya Azwar, pria itu mengangguk mengiyakan.
"Saya Arian." jawabnya, Azwar heran kenapa bisa pria itu datang disaat yang tepat?
"Kenapa kau bisa disini?"
"Saya merindukan Meisya, sudah dua hari ini dia tak membalas pesan atau menjawab telepon dariku, jadi aku berinisiatif untuk menemuinya. Tapi setelah beberapa kali aku ketuk pintunya, tak ada jawaban sama sekali. Awalnya aku ingin pulang saja, kukira Meisya mungkin sudah tidur, tapi aku mendengar suara benda pecah dari dalam, cukup keras. Lalu aku memutuskan mendobrak pintunya dan ternyata ada seorang pria bertopeng yang sedang mengungkung Meisya."
"Tangan nya di ikat di dipan, mulut nya juga di sumpal sapu tangan, saya kalap dan langsung menghajar pria itu hingga tak sadarkan diri, atau mungkin mati, saya tak peduli yang penting Meisya baik-baik saja!" Jelas Arian panjang lebar, membuat Azwar mengusap dada nya lega.
"Siapa pria itu, Arian?"
"Saya dengar namanya Beben, katanya dia anak pemilik konveksi." Jawab Arian, membuat Azwar mengepalkan tangan nya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Sialan pria itu, dari awal dia memang terobsesi dengan Mei." Gumam Azwar.
"Mas, aku ke kamar Mei dulu ya. Mau lihat keadaan nya dulu." Azwar mengangguk dan mengizinkan sang istri masuk lebih dulu.
"Tolong hati-hati, di dikamar nya ada pecahan kaca yang masih berserakan." peringat Arian pada Sintia.
"Harusnya aku tak meninggalkan adikku sendirian disini." Gumam Azwar lagi, membuat Arian menoleh.
"Saya akan membawa Meisya ke paviliun yang di berikan Tuan Zen di belakang mansion."
"Untuk apa?" Tanya Azwar dengan kening yang mengernyit.
"Setidaknya jika dia tinggal bersama saya, dia akan ada yang menjaga. Saya takkan tenang jika harus meninggalkan Meisya setelah kejadian ini, lagipun saya sering bekerja lembur. Jadi jarang tidur di paviliun itu,"
"Kenapa aku harus percaya padamu? Sedangkan aku saja tak tau apa motifmu ingin membawa Meisya bersama mu." Tanya Azwar, sebagai seorang kakak, tentunya dia ingin yang terbaik untuk sang adik.
"Saya menyukai adik anda, maaf jika saya lancang. Tapi setelah mengantar Meisya pulang hari itu, tidur ku tak nyenyak dan hatiku selalu berdebar jika mengingat Meisya." Jawab Arian dengan wajah datar nya.
"Meskipun begitu, aku tak bisa langsung percaya padamu! Ini tentang keselamatan adikku, adik yang aku sayangi."
"Saya mengerti, anda bisa memikirkan tentang perkataan saya, jika setuju silahkan hubungi saya." Arian memberikan secarik kertas ke tangan Azwar dan dia berbalik.
"Malam ini saya bagian jaga, Meisya baik-baik saja dan sudah anda yang akan menjaga nya selama saya bekerja, saya permisi dulu. Tolong jaga Meisya dengan baik, nanti siang mungkin akan ada keributan."
"Keributan apa, Arian?" Tanya Azwar tak paham maksud pria itu.
"Nanti anda akan tau sendiri, saya permisi. Tuan Zen tak mentoleransi keterlambatan bekerja, pagi nanti saya akan kesini." Arian pun pergi dengan menaiki motor sport nya, mengendarai nya dengan kecepatan maksimal.
Azwar masuk ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu yang engsel nya sudah rusak karena Arian mendobrak nya tadi, dia melangkah pelan ke arah kamar. Samar-samar dia mendengar suara isakan tangis.
__ADS_1
Ternyata, adik dan kakak itu tengah berpelukan. Meisya menangis terisak di pelukan Sintia, dan istrinya yang sedang berusaha menenangkan adiknya itu dengan menepuk-nepuk pundak Meisya dengan lembut.
Azwar masuk dan mengusap rambut Meisya yang berantakan, bahkan kedua pipi nya lebam bekas tamparan. Pergelangan tangan nya memerah, dan sedikit darah di ujung bibir nya. Azwar berkaca-kaca melihat keadaan adiknya setelah kejadian ini, dia benar-benar tak bisa diam saja. Dia harus menuntut keadilan untuk sang adik!
"Mei, maafkan kakak sayang. Kakak gagal lagi menjaga mu, harusnya kakak membawamu, dan tak membiarkan mu tinggal sendirian, pasti semua ini takkan terjadi."
"Kakak..." Panggil Meisya, lalu beringsut memeluk Azwar, sebelumnya dia sudah berpakaian dengan di bantu Sintia.
"Kakak yang buruk ini datang terlambat Sayang, maafkan kakak yang tak bisa menjagamu dengan baik."
"Meisya kotor kan Kak?" Tanya Meisya pelan, nyaris tak terdengar.
"Tidak Mei, ini bukan salahmu. Ini salah pria itu yang membuatmu seperti ini." Ucap Sintia, dia juga merasa sakit saat melihat keadaan adik ipar nya.
"Sintia benar, Mei. Ini semua bukan salahmu, sudahlah lebih baik kamu istirahat dulu ya, kakak mu akan menemani mu disini." Azwar melerai pelukan nya dan membiarkan Meisya tertidur sebentar, kejadian ini pasti sangat mengganggu mental dan psikis nya. Meski dulu ini adalah pekerjaan nya, tapi saat ini dia sudah berubah dan ingin hidup lebih baik seperti manusia biasa.
"Temani Mei dulu ya, sayang."
"Mas mau kemana? Ini sudah hampir pagi." Tanya Sintia khawatir.
"Mas ingin melihat wajah pria cabull itu sayang, hanya sebentar dan Mas akan baik-baik saja."
"Baiklah, jangan luka sedikitpun Mas." Peringat Sintia, membuat Azwar tersenyum lalu mengusap kepala sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Azwar melangkah di antara dingin nya udara pagi yang terasa menusuk kulit. Meski sudah memakai jaket yang cukup tebal, tapi dia merasa sedikit kedinginan juga.
Di rumah Pak RT, warga berkumpul dengan berbagai macam umpatan yang keluar dari mulut mereka merutuki Beben, anak sang pemilik konveksi.
Tak lama, suasana ricuh itu seketika hening saat Azwar melangkah mendekat ke rumah pengurus di kampung ini. Warga langsung sepi senyap begitu Azwar datang, dengan wajah datar dan tatapan yang tajam.
Tak ada yang berani menyapa, mereka tau benar saat ini pria itu tengah di landa api kemarahan karena kejadian tak mengenakan yang di lakukan salah satu warga pada adiknya.
Suasana di dalam terasa mencekam, mata tajam Azwar menatap seorang pria yang duduk dengan kepala menunduk dalam.
"Tegakkan kepala mu bajingaan!" Ucap Azwar dengan suara tegas yang begitu mendominasi, warga kembali berbisik-bisik, ternyata Azwar sangat menakutkan saat marah. Selama beberapa bulan tinggal di daerah ini, tak sekalipun orang melihat kemarahan seorang Azwar Mahessa, tapi saat ini mereka melihat nya sendiri. Bahkan suara nya saja mampu membuat bulu kuduk merinding.
Beben tak menurut, dia tak berani mendongak memperlihatkan wajahnya.
"Bagaimana cara anda mendidik putra anda? Apa anda tak mengajarkan nya tentang cara menghormati wanita? Apa anda salah mendidik nya, katakan!"
Bu Romlah diam seribu bahasa, mau bagaimana pun dia sudah memberikan pendidikan yang terbaik untuk putranya, tapi ini benar-benar di luar dugaan nya. Dia memang tau kalau anaknya menyukai Meisya, tapi dia tak menduga kalau Beben akan nekat melakukan hal semenjijikan ini. Tetap saja, dia yang akan di cap gagal mendidik anak.
"Harusnya pria ini di pasung, tak layak hidup bermasyarakat setelah melakukan hal semenjijikan itu, brengsekk!"
"Lakukan saja apa yang menurutmu benar, saya sebagai ibunya saja malu mengakui nya sebagai anak. Silahkan lakukan apapun, saya menyerah." Ucap Ibu Romlah, air mata nya luruh membasahi wajah tua nya.
Azwar mendekat, dia menarik kerah hoodie yang di pakai Beben, membuat pemuda itu berdiri. Azwar menatap nya nyalang, dia benar-benar sangat marah.
Bukk..
__ADS_1
Azwar meninju wajah Beben yang sudah babak belur di hajar oleh Arian tadi, tapi dia belum puas, rasanya ini masih belum cukup.
"Dimana saja kau sudah menyentuh tubuh adikku hah? Tangan yang mana!" Pekik nya, bahkan Pak RT pun tak berani menghentikan kemarahan Azwar.
"Bajingaan!" Teriaknya.
Bruakk...
Azwar kembali menghantamkan kepalan tangan nya di wajah Beben, membuatnya limbung dan terjatuh ke lantai.
"Ini semua belum sepadan dengan apa yang sudah kau lakukan terhadap adikku, adik kesayangan ku!"
"Aku ingin membunuhmu, tapi aku sadar itu perbuatan yang menyalahi aturan hukum negara ini. Hukuman apa yang pantas? Bagaimana kalau itu mu aku potong habis?" Tanya Azwar, membuat pria itu melotot. Juga para warga yang berkumpul disana kaget mendengar ucapan Azwar.
"Siksa saja dia sampai mati." Suara bariton yang tak asing, Zen datang setelah tau kejadian ini dari Arian.
Azwar menoleh, dia melihat Zen berdiri tegak di ambang pintu dengan wajah datar dan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celana.
"Zen, kau datang?"
"Tentu saja, walau aku tak menyukai Meisya tapi dia tetap kakak dari istriku." Warga semakin kaget saja, adik Azwar yang mana yang menjadi istri pria seberpengaruh Azzendra?
"Aku sangat marah mendengar semua ini, aku sebagai pria sangat malu dengan kelakuan bejat pria ini. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal."
Zen menepuk tangan nya dua kali, seketika pria berbadan tegap memenuhi ruang tamu rumah Pak RT itu.
"Bawa dia ke penjara, tuntut dia seberat mungkin!" Tegas Zen membuat ibu Romlah membulatkan mata nya.
"Tuan, ampun tuan. Bisakah hukuman anak saya di beri keringanan?" Ibu Romlah memohon pada Zen, tapi pria itu malah tersenyum smirk.
"Ini lebih ringan di bandingkan apa yang sudah dia perbuat, melecehkan seorang wanita?"
Ibu Romlah diam, tentu takkan semudah itu berurusan dengan pria sekelas Zen, pria yang sangat berpengaruh.
"Atau kau ingin aku memberikan nya hukuman mati?" Tanya Zen membuat ibu Romlah memohon lagi.
"Kalau begitu biarkan anak buah ku membawa anak brengseek mu itu, kau bisa menjenguk nya di penjara!" tegas Zen. Membuat Ibu Romlah tak punya pilihan lain selain membiarkan anak nya di gelandang oleh anak buah Zen ke penjara.
"Selesai? Aku ingin pulang, istriku menunggu di rumah."
"Ica tak ikut?" Tanya Azwar.
"Tidak, dia sedang tidur." Jawab Zen datar, lalu pergi di ikuti oleh Azwar.
"Bubar!" Tegas Zen, membuat para warga yang tadi berkumpul langsung bubar, pulang ke rumah mereka masing-masing.
.....
π·π·π·
__ADS_1
Haii author kembali, masih nungguin atau sudah pindah haluan? maaf dua hari ini author gak up karena sibuk di dunia nyata, terimakasih kalau kalian masih setia dengan cerita Zen dan Ica, Big Love ππ
jangan lupa vote,gift dan tap favorit juga like dan komentar nyaπ