
Di rumah, Meisya sedang terduduk sendirian. Dia tak bekerja karena Sintia yang melarang nya secara langsung. Sekarang Meisya menempati kontrakan tempat Azwar tinggal dulu, sedangkan pria itu kini pindah ke kontrakan Sintia. Meisya tak bisa melarang, kakak nya sudah menikah dan dia tak berhak apapun atas pria itu.
"Bosen banget." gumam Meisya, dia berjalan-jalan di sekitar kampung. Tak sengaja dia bertemu Beben, anak bu Romlah pemilik konveksi tempat Meisya bekerja hari itu.
"Haii Mei." Sapa nya dengan senyum ramah.
"Darimana Ben?"
Habis dari warung beli rokok, mau kemana?" tanya Beben.
"Gak kemana-mana sih, bosen aja di rumah terus jadinya keluar rumah aja jalan-jalan." Jawab Meisya.
"Kenapa gak kerja di konveksi ibu lagi, Mei?"
"Kata istri nya Bang Azwar gak boleh, Ben. Padahal kan jenuh kalo cuma duduk-duduk aja di rumah." Keluh Meisya.
"Jadi di rumah sendirian ya, Mei?"
"Iya, kadang bang Azwar balik kesini sih." Jawab Meisya, meskipun setelah menikah Azwar tak pernah berkunjung saat malam hari, pasti siang hari itupun bersama Sintia.
Tapi dia tak bisa percaya pada sembarang orang, terlebih orang yang baru dia kenal. Bisa saja orang itu berniat jahatkan?
"Yaudah, gue duluan ya Mei. Sampai jumpa lagi lain waktu."
"Oke Ben." Jawab Meisya, pria itu pergi. Meski penampilan nya urakan, tapi ternyata pria itu cukup baik padanya, meski dia tak bisa menjamin 100% bagaimana pria itu di belakang nya.
Meisya melanjutkan acara jalan-jalan sore nya, semilir angin menerbangkan rambut lurus nya, Meisya memang cantik dan mempunyai wajah manis yang membuat para pria tertarik, tapi entah akan seperti apa jika mereka tau masa lalu kelam seorang Meisya, pastinya takkan jauh dari nyinyiran dan hujatan mulut tetangga yang maha benar, padahal dirinya sendiri belum tentu lebih baik dari pada yang hujat, ya begitulah sifat manusia.
Iri dengki sering kali menguasai diri, tak senang jika melihat orang baik ada kemajuan, seperti nya sudah mendarah daging di kehidupan manusia. Tapi begitulah hidup, anggap saja itu semua hiburan, jangan di dengar karena semakin di respon pasti mulut nya akan semakin menjadi.
__ADS_1
Meisya memutuskan pulang setelah puas berjalan-jalan, dia menutup pintu dan mengunci nya dari dalam. Dia menyalakan televisi dan mengambil nasi, dia menonton acara variety show sambil makan.
Tapi terdengar suara sesuatu yang pecah dari belakang dekat dapur. Tapi Meisya membiarkan nya, dia tak mencurigai apapun. Mungkin kucing yang tak sengaja menabrak kaca, jadi dia mendiamkan nya dan memilih meneruskan acara makan nya.
Setelah selesai, Meisya membawa piring bekas nya makan ke kamar mandi dan sempat mencuci nya. Dia pergi ke kamar, dia ingin istirahat, tubuh nya terasa lelah padahal tak melakukan apapun kecuali, makan dan tidur.
Meisya membaringkan tubuh nya di ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh nya, angin malam terasa menusuk, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Tiba-tiba saja, seseorang menarik selimut nya, membuat Meisya refleks berteriak, tapi dengan cepat orang itu membekap mulut Meisya dengan sapu tangan.
Dengan cepat, tangan pria itu merobek pakaian yang di pakai Meisya, hingga membuat nya polos tanpa sehelai benang pun.
"Sudah kuduga memang tubuhmu sangat menggiurkan!" Puji nya, membuat Meisya beringsut tapi terlambat karena kedua tangan nya sudah di ikat ke atas menggunakan tali tambang. Meisya berontak sekuat mungkin, tapi percuma saja, pria itu meraba-rabaa tubuh nya dengan liar.
Meisya ingin menjerit sekuat mungkin, tapi tak bisa karena mulut nya di sumpal oleh pria itu. Pria itu mulai menyentuh tubuh Meisya, tangan besar nya meraup dua bulatan ranum di dada Meisya, sedangkan wajah nya terus mencoba mencium bibir perempuan itu, tapi Meisya terus meronta, lagi pun dia kesusahan karena ada sapu tangan di mulutnya.
Pria itu kembali berusaha mencium Meisya, tapi perempuan itu belum menyerah, dia terus meronta hingga membuat nya di ambang batas kesabaran. Dia menampar pipi Meisya hingga membuat nya diam seketika, air mata nya mengucur deras. Meski dulu dia melakukan hal itu dengan senang hati, tapi sekarang dia merasa malu setelah memutuskan untuk berubah.
"Jangan menolak ku, atau aku bisa menyakitimu lebih dari sekedar tamparan!" tegas nya membuat Meisya diam, haruskah dia pasrah? Tapi dia merasa tak rela, di jamah pria yang dia sendiri tak tau siapa.
Meisya menatap mata pria itu dengan sendu dia mengiba, meminta sedikit belas kasihan, air mata nya jatuh membasahi pipi mulus nya. Tapi pria itu seperti sudah kesetanan, dia tak memperdulikan tangisan Meisya dan terus menyentuh tubuh Meisya dengan penuh nafssu.
Tepat disaat terakhir, pintu terdengar di ketuk dari luar, membuat Meisya merasa punya harapan. Dia ingin berteriak meminta tolong, tapi tak bisa.
"Siapapun kau, tolong aku. Aku lebih baik memberikan tubuh ku padamu jika kau menolong ku," batin Meisya, dia terisak, tapi pria itu masih tetap melakukan nya dengan buas, meski belum penyatuan tapi tubuh mereka sudah bergesekan.
Meisya menendang aset pria itu, karena kaki nya tak di ikat, mungkin pria itu lupa. Pria itu meringis sambil memegangi senjata nya yang kena tendangan maut dari Meisya.
"Sial.." umpat nya, Meisya masih belum menyerah, kebetulan di meja dekat ranjang dia meletakan vas bunga berukuran besar. Dia berusaha menjatuhkan nya, tapi pria itu langsung menaiki tubuh nya, dan kembali menyerang Meisya tanpa ampun.
__ADS_1
Pyarrr...
Bunyi vas bunga yang terjatuh, membuat Meisya merasa sedikit lega, tapi pria itu tak menghentikan serangan demi serangan yang dia lancarkan di tubuh Meisya.
Buakk..
Pintu depan terbuka, seperti nya di dobrak oleh seseorang, mendengar itu Meisya menghela nafas lega, tapi pria di depan nya seolah tak peduli dan terus melakukan nya pada Meisya. Hingga tarikan kuat membuat pria itu terhuyung, tanpa basa-basi lagi seseorang yang baru saja datang itu langsung menghajar nya habis-habisan.
"Sialan kau, pria sialan!" Umpat nya sambil memukuli tubuh pria itu, bahkan menarik topeng pria itu hingga terpampang lah wajah asli pria itu yang ternyata adalah Beben.
Meisya membulatkan mata nya, rasaanya tak percaya tapi ini kenyataan.
Setelah pria itu tak sadarkan diri, malaikat penolong itu mendekat, dia mengambil sapu tangan yang di pakai Beben menyumpal mulut Meisya. Dia juga menutupi tubuh polos Meisya dengan selimut, menatap keadaan perempuan yang berantakan itu dengan nanar.
"Aku tak rela melihatmu begini, Meisya!" Ucap nya tegas, lalu pergi keluar dan memanggil beberapa warga yang kebetulan lewat untuk ronda malam. Sontak saja, membuat warga berkumpul dan dengan mudah membawa Beben keluar dari kontrakan Meisya untuk di adili di rumah pak RT.
"T-terimakasih.." Ucap Meisya, lalu dia tak sadarkan diri. Membuat pria itu kelimpungan, haruskah memanggil warga untuk meminta bantuan? Tapi kondisi Meisya sudah telanjangg bulat saat ini.
Pada akhirnya, dia memilih untuk menunggui perempuan itu hingga sadar kembali. Tak lupa, dia juga menghubungi seseorang, memberitahukan peristiwa ini.
.....
π·π·π·π·
pahlawan datang disaat yang tepatπ
btw, maafin ya up nya telat. mungkin juga besok author gak up, ada acara keluarga. setelah beres nanti author up lagi, jangan kabur dan terus pantengin cerita ini ya, author gak lama kok π
Big Loveππππ
__ADS_1