Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 224


__ADS_3

Sintia tersenyum saat melihat salah putra nya sedang di bersihkan dan yang satunya sedang tidur lelap setelah di mandikan. Dia melahirkan sepasang bayi kembar lucu.


"Mau gendong anak kamu, Sayang?"


"Tentu saja Mas." jawab Sintia, Azwar mengambil bayi perempuan yang sedang tertidur itu dengan hati-hati, lalu memberikan nya pada sang istri.


"Mas, kamu sudah mempersiapkan nama untuk mereka?" tanya Sintia. Azwar mengangguk cepat, dia memang sudah menyiapkan nama untuk kedua anak nya jauh-jauh hari.


"Benarkah, Mas?" Tanya Sintia lagi, Azwar tersenyum lalu mengusap lembut kepala putri cantiknya.


"Dia lahir duluan, jadi dia kakak nya. Gretta Putri Mahessa, adiknya Grey Putra Mahessa."


"Apa gak ada makna nya kayak Tuan Zen atau Bimo?" tanya Sintia, dia tak mau suaminya itu memberi nama sembarangan pada kedua putra putri nya, nama anak adalah doa dari orang tua.


"Tentu saja Sayang. Gretta berarti Permata, dan Mahessa adalah nama belakang ayahnya, Sedangkan Grey berarti bijaksana, aku harap Grey bisa membuat keputusan dengan bijaksana jika sudah dewasa nanti, meski dia adik Gretta, tapi dia anak laki-laki yang tetap harus memberikan perlindungan pada kakak perempuan nya, karena dia laki-laki." Jelas Azwar panjang lebar.


"Baby G, aku menyukai nama dan makna nya Mas, terimakasih sudah memberi nama yang bagus untuk anak-anak kita."


"Sama seperti Zen dan Bimo, aku pasti memikirkan nama yang terbaik untuk anak-anak kita Sayang." Jawab Azwar.


Perawat datang dan memberikan bayi laki-laki yang tampan persis seperti Azwar, pria itu menyambut hangat bayi kemerahan itu dan menggendong nya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

__ADS_1


"Grey.." Ucap Azwar lalu tersenyum.


Pintu ruangan terbuka, Ica dan Hani datang, tentunya bersama Meisya dan para pawang nya masing-masing, sedangkan Risya tak bisa datang karena kehamilan nya yang sudah besar membuatnya kesulitan bergerak.


"Wahh, selamat kakak ipar." ucap Ica dengan antusias nya, dia merebut baby Grey dari gendongan kakak nya.


"Aaaaa ganteng banget dedek bayi nya." puji nya sambil tersenyum. Dia membelai lembut keponakan nya dengan penuh kasih sayang.


"Namanya siapa kak?" Kali ini Meisya yang bertanya.


"Gretta putri Mahessa dan Grey putra Mahessa." Jawab Azwar. Meisya menganggukan kepala nya, dia kembali mencolek-colek pipi gembul keponakan nya yang sedang di dalam gendongan Sintia.


"Kakak ipar, bolehkah aku menggendong nya?"


"Izin megang." Celetuk Bimo membuat membuat Azwar mendelik, dia menoel-noel pipi kemerahan Baby Grey yang tengah di gendong Ica.


"Gak boleh, tangan Lo kotor!" Ucap Azwar.


"Dihh pelit amat, megang doang gak di cubit."


"Diem atau ku timpuk?" Ucap Zen, selain suka berdebat dengan Brian, sekarang Bimo juga sering berdebat dengan Azwar, entah di kantor atau dimana pun kalau bertemu ya pasti gelud.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Zen, kedua pria itu langsung diam. Bisa bahaya memang kalau sampai Zen benar-benar kesal dengan tingkah mereka, bisa-bisa dia menimpuk keduanya.


"Nah kan gini adem, gak dimana-mana kalian ini debat aja terus, gak bosen apa ya?" Zen menggelengkan kepala nya, tak habis pikir dengan tingkah resepsionis dan asisten nya ini.


Ruangan ini seketika hening, membuat Sintia heran.


"Kok pada diem, pada takut ya?" Celetuknya membuat Ica terkekeh.


"Pada takut dong kak, Daddy kan nakutin kayak macan, makanya sekali aja dia ngeluarin suara langsung pada diem kek jangkrik ke injek."


"Ya kan takut di potong gaji Ca." Cetus Hani ikut mengeluarkan suara nya.


"Sayang.." Rengek Bimo.


"Dih najong, lebay!" Sindir Azwar, dan ya perdebatan itu pun dimulai kembali, saat Baby Gretta menangis, barulah mereka diam seribu bahasa.


"Debat aja terus, padahal ini bukan lomba!" Rutuk Sintia, perempuan itu juga kesal saat melihat suami nya dan Asisten Tuan Zen itu berdebat hal sepele.


.....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Lomba debat biar rame 🤣


__ADS_2