
Sore hari nya, Zen sudah menunggu Gadis nya di depan gerbang kampus. Sedangkan Ica, dia berjalan pelan sambil ngobrol bersama Risya dan Brian yang setia mengintil di belakang kedua gadis itu.
"Daddy Lu tuh, Ca."
"Iya, gue duluan ya Sya, Bri. Jangan lupa nanti malem."
"Okey, hati-hati di jalan nya."
"Kalian juga hati-hati ya, papay." Ica melambaikan tangan nya ke arah Risya dan Brian, lalu masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah terbuka.
"Pulang bareng aja, Sya? Mau?"
"Bo-boleh aja sih."
"Kok gugup gitu, kenapa Lu? Perasaan gue gak ada baperin Lu."
"Apa sih? Yaudah cepetan, kalo mau nganterin pulang." Ketus Risya.
"Sans aja kali, gak usah ngegas gitu. Udah untung gue mau nganterin Lu."
"Gak ada untung nya juga, gue bisa kok naik taksi."
"Mana? Emang ada?" Tanya Brian, membuat Risya celingukan mencari kendaraan umum itu, tapi tak ada satu pun yang lewat.
"Cepet naik."
"Busett, terkejut daku." Risya memegangi dada nya yang berdetak tak karuan saat tiba-tiba Brian bicara saat dia sedang celingukan.
"Lebay Lu." Celetuk Brian, membuat Risya cemberut, tapi dia tetap menaiki jok belakang motor sport milik Brian.
....
Di mobil, Zen sedang bermanja pada Gadis nya, dia tak menceritakan apapun yang terjadi di perusahaan, tentu nya karena Zen tak mau membuat Ica kepikiran dan berujung pada perubahan mood yang cukup menguras emosi.
"Daddy punya masalah?" Tanya Ica, pria itu sedang mendusel di dada nya.
Pria itu menggelengkan kepala nya sebagai jawaban atas pertanyaan Ica, membuat Ica curiga Daddy nya sedang tak baik-baik saja.
"Apa ada hal yang Ica tak tau, Dad?" Lagi-lagi, Zen menggelengkan kepala nya.
"Baiklah, kalau begitu Ica tanya sama Assisten Bimo aja."
"Jangan berani-berani bicara dengan pria itu lebih dari 1 menit."
"Ya terus, Daddy kenapa? Kok kayak punya masalah gitu."
"Gapapa By, hanya masalah kecil di kantor."
"Kalau kecil, pasti takkan membuat Daddy lesu." Celetuk Ica.
"Baiklah, Daddy menyerah. Saham perusahaan anjlok By, semua itu karena ulah penghianat." Jawab Zen akhirnya.
"Kok bisa? Lagi-lagi anak buah Daddy lengah."
"Daddy curiga pasti orang dalam yang mengendalikan semua nya, By."
"Usut sampai tuntas Dad, jangan kasih kendor." Ucap Ica mengompori.
__ADS_1
"Besok Daddy harus ke kantor polisi, By. Kamu ikut ya? Dampingi Daddy."
"Lho, kenapa Dad? Kok sampai ke kantor polisi segala." Tanya Ica, raut wajah nya tak bisa bohong kalau gadis itu terlihat ketakutan.
"Tak perlu takut, hanya melihat perkembangan kasus 15 tahun lalu."
"Ohh, Ica kira apa." Ica menghela nafas nya lega, dia sudah berpikir yang aneh-aneh tadi.
Tak perlu waktu lama, karena jalanan cukup lengang, akhirnya mobil yang di kemudikan Bimo sampai di halaman mansion milik Azzendra.
"Terimakasih Assiten Bimo."
"Sama-sama Nona." Jawab Bimo ramah, berbeda dengan Zen yang sudah menekuk wajah nya karena kesal saat melihat Ica nya bicara dengan pria lain, meskipun itu adalah assisten nya sendiri.
"Baby.."
"Iya Daddy." Ica paham panggilan itu dan segera mendekat ke arah pria itu, menggenggam tangan nya.
"Sore Bi, makasih kue coklat nya, temen-temen Ica juga suka."
"Kue coklat?" Tanya Zen dengan dahi yang berkerut.
"Tadi Ica bawa bekal kue coklat buatan Bibi, Dad. Rasanya enak banget, Risya sampe ketagihan."
"Sama-sama Non." Jawab Bi Arin dengan senyum ramah nya.
"Masih ada Bi? Pengen nyobain juga."
"Ada den, sebentar Bibi sajikan dulu. Sama kopi?"
"Baik den." Jawab Bi Arin patuh.
"Ayo By.." Ajak Zen sambil mengulurkan tangan nya, Ica buru-buru menggenggam tangan Daddy nya, keburu pria itu bicara dua kali.
Kedua nya pun meniti tangga bersama-sama dengan tangan yang saling bertautan.
....
Di sisi lain, Brian menghentikan laju motor nya tepat di depan rumah sederhana bergaya minimalis bercat biru.
"Rumah Lo?" Risya menganggukkan kepala nya.
"Lumayan juga, disini Lo sama siapa Sya?"
"Kemaren-kemaren sih sama kakak gue Bri, tapi sekarang dia ngilang, gak tau kemana." Jawab Risya.
"Mampir dulu Bri, ngopi?" Tawar Risya, Brian menganggukkan kepala nya dan mengikuti langkah Risya.
Brian celingukan mengamati suasana di rumah Risya, terasa dingin, tak ada kehangatan sebuah keluarga disini. Terasa kosong melompong, seperti tak ada kehidupan.
"Lu gak takut disini sendirian Sya?" Tanya Brian, saat gadis itu kembali dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
"Takut sihh kagak, Bri. Cuma kesepian aja," Ada raut wajah kesedihan dalam tatapan Risya, membuat Brian paham kalau Risya kekurangan kasih sayang, entah itu dari keluarga nya atau orang-orang di sekitar nya.
"Nyokap sama bokap Lo kemana?"
"Nyokap masih ada, tapi bokap udah lama meninggal."
__ADS_1
"Lah terus, kenapa Lo gak tinggal sama Nyokap Lo?"
"Nggak lah Bri, malu. Dia udah bahagia sama kehidupan baru nya, lagi pun gue cuma anak yang gak di harepin. Mama selalu mengutamakan kakak gue, karena dia lebih cantik dan dia berhasil menjadi model terkenal." Jelas Risya, hati nya terasa sesak jika harus membahas hal seperti ini.
"Gak gitu konsep nya Sya, setiap orang tua pasti sayang sama anak-anak nya. Mungkin aja dia belum sadar kalo dia butuh anak suatu saat nanti."
"Gak tau lah Bri, gue males bahas."
"Kakak Lo hilang kapan?"
"Sekitar dua hari yang lalu, ponsel nya gak aktif padahal pas malem nya dia masih sempet kirim pesan, katanya gak pulang ada urusan."
"Ohh, belum kawin?"
"Be-lom, dia gagal move on sama mantan nya." Jawab Risya.
"Toilet dimana sih? Kebelet."
"Masuk aja ke kamar tamu, gue ke atas dulu mau ganti baju."
Brian mengiyakan, dan mereka pun berpencar. Risya pergi ke kamar nya, sedangkan Brian pergi ke kamar lain untuk buang air.
Tapi, karena Brian tak tau seluk beluk rumah ini, dia malah nyasar dan masuk ke dalam salah satu kamar yang berada di samping kamar tamu pertama.
Brian membuka pintu nya, dia buru-buru ke toilet dan menuntaskan hajat nya, tanpa menyadari kalau dia masuk ke dalam kamar seseorang.
Baru lah setelah selesai, Brian menganga melihat begitu banyak poster yang di pajang di tembok dan beberapa buku kecil berisi catatan seperti nya.
Brian mengambil salah satu buku nya dan benar saja, dia tak salah menduga. Risya adalah adik dari mantan model cantik, Rosania.
"Gak mungkin kan?" Gumam Brian.
Dia merobek salah satu poster besar itu dan membawa nya keluar. Kebetulan juga, Risya sudah selesai dan menuruni tangga.
"Sya.."
"Ehhh kodok loncat," Latah Risya.
"Seneng banget Lu ngagetin gue, Bri?" Ketus Risya.
"Lu adek nya Rosa kan?" Risya membalikan badan nya, dan seketika itu juga mata nya membulat saat melihat kertas yang Brian pegang adalah foto Rosania saat masih menjadi model dulu.
"Lu tau kan? Ica di culik siapa, dan yang lukain Ica juga siapa? Gak nyangka gue hah, ternyata adek nya berteman ama kita."
"Bri, gue bisa jelasin.."
"Jelasin apa? Kalo Daddy nya Ica sampe tau kalo Lo adik nya si kecoa terbang pengganggu itu, Lo bisa habis di cincang jadi isian bakso!"
"Brii.."
....
🌷🌷🌷🌷
Ketauan Bang Brian😪
Hari senin ini, jangan lupa Vote!😘
__ADS_1