Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 49


__ADS_3

Keesokan pagi nya Ica melakukan kegiatan rutin nya dengan malas-malasan, rasa rindu nya pada Zen membuat Ica uring-uringan.


"Daddy kapan pulang nya sih? Dah kangen, padahal baru 4 hari di tinggal." Gumam Ica sambil berendam, gadis itu memainkan air di bath up yang di penuhi busa sabun.


Ica tersenyum, dia ingat saat pria itu mengerjai nya di bilik shower sambil berdiri. Pria itu melakukan nya dengan lembut tapi sangat bernafsuu, sentuhan-sentuhan nya sangat memabukkan, bahkan mengingat momen itu saja membuat inti nya berkedut.


"Uhh Daddy, kau pengaruh buruk bagi ku.." Gerutu Ica sambil memukul air mandi nya hingga beriak menyiprat ke segala arah.


"Cepat pulang Dad, kangenn.." Ica membilas tubuh nya di bilik shower dan menuntaskan kegiatan mandi nya di pagi hari yang terlihat begitu cerah ini.


Ica memasang bath robe di tubuh nya, tak lupa dia juga menggulung rambut nya dengan handuk kecil.


Tringg..


Bunyi ponsel berisi notifikasi pesan masuk, Ica segera menyambar ponsel nya dan membuka pesan itu, dia berharap Zen yang mengirimi nya pesan singkat, tapi dia menelan pil pahit saat yang di harapkan ternyata tak mengirimkan apapun.


"Ca, maaf kita gak jadi nge gym ya. Kakak aku belum pulang, gak tau kemana. Jadi aku harus nungguin rumah, takut nya ada maling."


Isi pesan dari Risya yang membatalkan rencana mengubah penampilan nya dengan berolahraga.


"Jadi, kuliah libur dan Risya batal ke gym, aku harus ngapain ya?" Gumam Ica sambil memegang dagu runcing nya.


"Di rumah aja lah, tidur seharian." Putus Ica, akhirnya seharian itu dia hanya diam di rumah, menonton drama di ponsel nya, memakai kutek, maskeran, sederet kegiatan yang dia lakukan hari ini.


...


Siang hari nya, Ica turun dari kamar nya dengan malas. Gadis itu terlihat sangat cantik bahkan hanya dengan pakaian rumahan, celana hotpants dengan tangtop ketat yang membungkus tubuh sexy nya, juga rambut yang dia cepol donat, membuat leher jenjang putih mulus nya terekspos.


"Bi, pengen ngemil dong.." Pinta Ica, dia bosan di kamar terus, sesekali dia ingin ngemil yang tak sehat, mumpung Zen tak ada di rumah.

__ADS_1


"Ngemil apa Non?"


"Ngemilikin kamu aja deh, eeeaaa.."


"Bisa aja Non." Ucap Bi Arin dengan senyum geli nya.


"Mie pedes bi, kayaknya enak. Jangan lupa telor setengah mateng nya.."


"Disini gak ada mie instan Non, ada nya pasta. Mau?"


"Boleh lah, spaghetti bolognese pedes ya, jangan lupa pake keju yang banyak, dua porsi." Pesan Ica pada Bi Arin, membuat nya segera pergi ke dapur membuatkan makanan pesanan Nona muda nya itu.


Sedangkan Ica, dia bosan menunggu, menonton televisi pun tak ada acara yang menarik.


"Bosen nya ih.."


Gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar mansion, dia ke taman belakang. Tempat bunga-bunga mawar merah yang di tanam oleh Zen untuk mengenang mantan kekasih nya.


"Kesini bukan nya nyari angin segar yang bikin sejuk, ehh malah bikin sesak." Gerutu nya, lalu pergi meninggalkan taman bunga itu.


Ica beralih ke kebun buah milik Zen, kebetulan ada beberapa penjaga yang berjaga di kebun buah itu.


"Nona, mau makan buah?" Tawar mereka.


"Enggak, mau lihat-lihat aja. Kalau ada yang buat aku ngiler ya aku makan, sekalian sama pohon nya." Jawab Ica ketus, membuat penjaga itu saling pandang.


Ica nyelonong masuk ke kebun buah, tanpa memperhatikan ekspresi kedua penjaga kebun buah itu.


Ica berjalan menyusuri kebun yang luas dengan berbagai macam tanaman buah di rumah kaca besar.

__ADS_1


Beberapa poly bag tersusun rapi berisi tanaman buah stroberi yang berbuah lebat, bahkan sebagian buah nya sudah memerah, membuat Ica tergiur.


Ica memetik buah itu dan meniup-meniup nya, menerbangkan debu-debu nya, tapi tak mungkin berdebu sih, kan di rumah kaca.


"Manis banget.." Ucap Ica setelah satu buah stroberi itu masuk ke dalam perut nya.


Ica terus memakan buah itu hingga tak terasa dia menghabiskan buah stroberi matang itu.


"Eehh maaf ya, aku habisin.."


"Tak apa Nona, lagian itu tuan muda tanam khusus untuk Nona." Celetuk salah satu penjaga, kelihatan nya dia keceplosan. Terlihat dari gerak gerik nya yang langsung menutup mulut nya, juga satu penjaga yang menepuk bahu nya kasar.


"Keceplosan ya? Nanggung, emang kapan Daddy nanam stroberi disini?" Tanya Ica.


"Sekitar 3 bulanan, sejak Nona datang ke rumah ini tuan Muda langsung menanam buah ini."


"Darimana Daddy tau kalau aku suka stroberi?" Gumam Ica, tapi biarlah dia tak peduli. Yang penting dia bisa makan buah manis itu setiap hari, kapanpun dia mau, tanpa harus beli ke supermarket. Tinggal pergi ke belakang mansion aja.


"Yaudah, Ica kesana dulu." Dua penjaga itu menganggukan kepala nya sebagai jawaban.


Ica pergi ke kamar nya, dia menatap jendela besar yang menghubungkan kamar dengan balkon.


"Tiga bulan disini, aku baru sadar kamar ini punya balkon dengan view sekeren ini." Gumam Ica sambil berdiri di sisi pagar balkon, angin sore berhembus pelan, menerbangkan rambut indah Ica ke belakang.


Tiba-tiba saja, ada sepasang tangan yang melingkar di perut nya, membuat Ica refleks menendang ke arah selang*angan nya.


Seseorang mengaduh, tepat itu juga pelukan nya terlepas. Ica melihat siapa orang yang sudah berani memeluk nya, tapi seketika dia membulatkan mata nya.


"Daddy..."

__ADS_1


....


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2