
Malam sudah larut, waktu yang tepat untuk mengistirahatkan tubuh dari lelah nya kegiatan di siang harinya. Tapi tidak bagi Risya, sejak tadi pagi dia sudah merasakan kram di perutnya, tapi dia tak berani bilang pada Brian karena menurut dokter masih ada beberapa hari lagi hingga hari lahiran. Dia juga tak mau kalau pria itu khawatir, dan dia rasa masih bisa menahan nya, tapi sakit kali ini benar-benar tidak bisa dia tahan lagi, rasanya benar-benar sakit.
Dia menepuk lengan suami nya, tapi pria itu tertidur lelap, mungkin karena dia kelelahan setelah seharian bekerja sebagai cleaning servis di perusahaan.
"Sayang.." Panggil Risya membuat Brian yang awalnya berbaring miring membelakangi sang istri berbalik dan membuka mata nya yang terasa berat.
"Kenapa, Sayang? Kamu berkeringat, kenapa, ada yang sakit?" Panik Brian.
"Jangan panik, Sayang."
"Tapi kenapa? Apa perutmu sakit?" tanya Brian, Risya mengangguk membuat Brian menganga. Bukan nya bersiap membawa sang istri ke rumah sakit, Brian malah tepar tak sadarkan diri.
"Astaga, nasib punya suami konyol ya gini. Bukan nya nolongin bini mau lahiran, malah tepar!" gerutu Risya sambil geleng-geleng kepala, dia mengambil segelas air dari nakas dan memercikan nya ke wajah Brian. Barulah pria itu bangun dan mengucek mata nya.
"Bangun, bukan nya cepetan bawa aku ke rumah sakit, malah tidur lagi."
"Maaf Sayang, aku akan memesan taksi online." Jawab Brian, dia mengutak-atik ponsel nya dan setelah selesai langsung bersiap memasukkan beberapa pakaian untuk di bawa ke rumah sakit dan mengganti pakaian sang istri yang sudah basah karena ketuban nya sudah pecah duluan.
"Masih ada pembalut disana, Sayang." Tunjuk Risya pada laci.
"Buat apa pembalut sih Yang, gak mungkin kamu menstruasi kan?" Otak Brian mendadak blank, padahal pembalut kan bisa di pakai agar tak rembes keluar saat dalam perjalanan.
"Terus kamu pikir aku naik mobil terus ini rembes gimana? Mikir sampe kesana dong, cepetan ambilin, sakit ini." Ketus Risya, Brian cengengesan lalu mengambil bungkusan pembalut itu dan mengambil satu pembalut pada Risya lalu perempuan itu memakai nya, Brian juga memasukan sisa pembalut itu ke dalam tas dan mereka pun segera berangkat dengan Brian yang menggendong Risya ala bridal style.
Singkatnya, kedua nya sampai di rumah sakit. Brian di larang masuk sementara karena akan di lakukan pengecekan dan pemeriksaan terlebih dulu, Brian mondar mandir di luar. Hatinya di liputi ketakutan luar biasa, dia tak tahan melihat istrinya kesakitan.
__ADS_1
Dia mengambil ponsel dan menghubungi Bibi Yasmin agar segera datang dan menenangkan nya, dia juga menghubungi Zen dan Bimo untuk menemani nya.
Tak butuh waktu lama, Bibi Yasmin datang dengan wajah paniknya.
"Bagaimana Risya, Bri?" Tanya Bibi Yasmin, tapi Brian malah menangis tergugu tanpa sempat menjawab.
"Hei jawab dong, bibi nanya lho ini. Masa calon bapak cengeng,"
"Risya kesaki-tan Bi, aku gak sanggup lihat dia kek gitu." Ucap Brian, dia masih menangis sesenggukan di pelukan Bibi Yasmin.
"Ya ampun Brian, melahirkan memang sakit. Makanya harus baik, harus sayang sama istri."
"Heh Brian, gimana Risya?" Tanya Bimo dengan nafas tercekat, seperti nya dia habis berlari.
"Masih di periksa di dalam Nak Bimo."
"Jorok ihh anjir!" Celetuknya, bahkan Zen juga yang biasa nya kalem dan jarang berdebat, dia juga nyengir geli melihat Brian mengusap ingus dengan baju nya.
"Emang disini gak ada tissu ya? Sampe baju di jadiin lap ingus, seenggaknya bawa sapu tangan Brian. Bener-bener jorok Lo," Cetus Zen membuat Brian nyengir.
"Permisi, keluarga pasien? Siapa yang akan menemani lahiran? Ada suaminya?" Tanya perawat yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Sana Bri," Zen mendorong Brian masuk ke dalam ruangan.
"Takut Bang.."
__ADS_1
"Cemen amat, biasa nya Lo psikopat. Sana masuk, cepetan kasian bini Lo." Zen kembali mendorong Brian, tapi pria itu tak bergerak sama sekali hingga membuat Zen kesal dan menendang pantatt Brian, hingga pria itu terdorong masuk. Perawat itu terkekeh dan langsung menutup pintu ruangan.
"Takut katanya, mau bikin nya doang tapi gak mau nemenin pas brojolin. Sialan," Gerutu Zen setelah pintu tertutup. Dia memilih duduk di kursi tunggu dengan kaki yang di tumpangkan. Untung saja tak ada yang tau, kalau dia juga sampai ngompol di celana saat istrinya sedang kontraksi, kalau sampai Brian tahu bisa bahaya.
Di dalam ruangan, Brian mendekat dan memegang tangan istrinya.
"Kesini sayang.." Pinta Risya, Brian menurut tapi siapa yang tahu, Risya menjambak rambut Brian sebagi pelampiasan rasa sakit nya. Dia juga menarik kaos penuh ingus Brian hingga robek, membuat Brian seperti korban kebakaran. Rambut nya berantakan, pakaian nya juga cumpang camping. Tapi dia tak bisa marah, karena ini karena ulah nya juga yang membuat istrinya itu hamil.
"Aaaaa sakitt..." Brian keceplosan berteriak, tapi perawat itu maklum dan memilih membiarkan saja.
Hingga satu bayi berhasil di lahirkan, dia menangis kuat membuat seisi ruangan di isi oleh suara tangisan bayi. Perawat yang satunya langsung membawa bayi itu dan membersihkan nya, tak lupa memberikan gelang identitas nya.
"Mules lagi dok.."
"Semangat Nona.." Ucap dokter memberikan semangat, dan hanya berselang beberapa menit saja bayi kedua lahir, keduanya perempuan. Dengan wajah yang sama-sama cantik mewarisi wajah Risya dan Brian.
"Huaaa, anak-anak ku cantik sekali.." teriak Brian membuat Risya memerah, bisa-bisa nya suami nya itu bertingkah absurd di saat seperti ini.
Dokter dan perawat kompak tergelak, suasana tegang itu mencair sudah, semua gara-gara tingkah Brian yang kelewatan absurd nya. Brian sadar kalau perawat, dokter termasuk istrinya menertawakan nya langsung memalingkan wajah nya karena merasa malu.
'Haisshh malu amat, dimana harga dirimu sebagai seorang suami dan ayah Brian, malu-maluin aja!' Batin Brian.
....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Selamat ngakak readers semua🤣🤣