
Di taman, Sintia dan Azwar sedang duduk di salah satu kursi sambil memakan es krim, setelah kejadian panas semalam, Azwar benar-benar mengajak Sintia berjalan-jalan dengan motor nya.
"Es krim kamu kok kayak nya enak ya?" Celetuk Sintia.
"Emang enak sayang, mau lagi?"
"Apanya?"
"Es krim ini kan?" Tanya Azwar sambil menunjuk sesuatu di balik celana nya, membuat Sintia mendelik.
"Ihhh mesoom.." Rengek Sintia lalu menggeplak manja lengan Azwar.
"Serius nih, enak nggak?"
"Iya enak, mantap, gede terus panjang, tahan lama." Jawab Sintia akhirnya, membuat Azwar terkekeh. Dia sendiri yang menggoda Sintia, tapi pas di jawab dia malah merasa geli sendiri.
"Ica hamil berapa bulan yang?" Tanya Sintia.
"6 minggu Yang, berarti 1 bulan setengah." Jawab Azwar.
"Huumm, seneng nya jadi Ica punya suami yang perhatian ya."
"Iya, saking cinta nya dia kena sindrom morning sickness." Jawab Azwar.
"Seriusan?"
"Kata Ica tadi pagi, Tuan Zen muntah-muntah terus."
"Wahh, itu tanda cinta kan ya?"
"Kata orang tua dulu sih iya, aku juga nanti kalau nikah terus kamu hamil, gapapa deh gantiin kamu."
"Gak boleh gitu dong, terus yang nyari buat biaya lahiran siapa? Tuan Zen itu kaya, ngidam 9 bulan gak kerja, gak bakal bangkrut." Celetuk Sintia.
"Iya juga ya, yaudah aku kerja aja."
Sintia mengangguk dan kembali memakan es krim nya, Azwar tersenyum melihat Sintia yang begitu lahap memakan es krim nya. Dari dulu Sintia sangat menyukai es krim vanilla.
"Sayang.." Panggil Azwar, pria itu sudah berjongkok di depan Sintia. Bahkan tanpa di sadari, semua orang yang ada di taman sedang menatap ke arah mereka.
Sintia menutup mulut nya dengan kedua tangan, mata nya berkaca-kaca. Sangat tak menyangka, Azwar melamar nya secepat ini.
"Sintia, aku sudah bilang akan menerima semua kekurangan mu, termasuk kelebihan mu. Aku mencintaimu tulus dari hati, mencintai tanpa syarat. Selama 5 tahun berpisah, aku tetap setia dengan janji kita."
"Aku Azwar Mahessa, dengan sangat meminta mu untuk menjadi istri ku, ibu dari anak-anak ku. Sintia Mawarni, kamu bersedia mendampingi ku dari awal hingga akhir? Menjadi satu-satunya wanita yang hadir di kehidupan ku, satu-satunya wanita yang aku cintai?"
"Ya Azwar, aku bersedia." Jawab Sintia, membuat Azwar tersenyum penuh kemenangan, dia berdiri lalu memasangkan cincin emas sederhana di jari manis Sintia, lalu memeluk perempuan itu dengan mesra. Semua orang bersorak, ikut hanyut dalam suasana haru yang di ciptakan oleh sepasang kekasih itu.
"Terimakasih sudah memberi aku kesempatan Sintia, setelah ini aku ingin kita bersama seperti dulu."
"Aku juga berterimakasih karena kamu sudah mau menerima ku apa ada nya." Azwar hanya tersenyum samar lalu mengecup mesra kening Sintia.
....
Di apartemen, Bimo dan Hani baru saja menyelesaikan kegiatan panas mereka. Saat ini kedua nya sedang berpelukan mesra, masih dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun, hanya tertutup selimut.
__ADS_1
"Honey.."
"Iya sayang, kenapa? Apa yang barusan kurang?" Tanya Hani.
"Lebih dari cukup sayang, sangat cukup."
"Ya terus apa?"
"Jalan-jalan mau?" Tawar Bimo.
"Mau dong sayang, kemana?"
"Kamu mau nya kemana?" Bimo malah balik bertanya.
"Mau nya sih nonton, itu lho film korea yang lagi viral."
"Apa sayang? Aku gak tau."
"Bussines proposal, asisten nya kang tae moo, mirip sama Jungkook lho." Cetus Hani.
"Boleh sayang, kita ke bioskop ya?"
"Makasih sayang ku." Hani mengecup wajah Bimo bertubi-tubi, saking senang nya padahal hanya di ajak ke bioskop.
"Mau mandi sekarang atau nanti, Honey?"
"Males, mandiin boleh?"
"Boleh dong, tapi jangan ngambek kalau aku minta lagi."
"Emmm iya deh gapapa mumpung mood aku lagi baik." Jawab Hani, Bimo tersenyum manis dan segera menggendong Hani ke kamar mandi.
Suara canda tawa terdengar dari kamar mandi, tapi tak lama suara tawa itu berubah menjadi desahaan, tentu nya sudah bisa di tebak apa yang kedua orang itu lakukan di kamar mandi kan ya?
....
Hari ini, Ica di perbolehkan pulang. Zen juga tetap kekeuh tak mau di periksa, akhir nya mau tak mau Ica harus mengalah dan mengiyakan saja keinginan Zen, membawa nya pulang bersama.
"Makan dulu disana apa, Bby?" Tunjuk Zen pada sebuah warung di pinggir jalan.
"Ihh iya, ayam bakar nya kayak nya enak ya Dad?"
"Iya yuk beli." Ajak Zen dengan antusias. Zen menyuruh sang supir untuk berhenti dan sepasang suami istri itu turun untuk sekedar makan.
"Satu ekor aja beli nya, kamu kan doyan makan Bby."
"Wokay, apalagi aku punya dedek di dalam sini." Jawab Ica merasa terdukung, apalagi dalam kondisi nya yang tengah hamil muda.
"Bang, ayam nya satu ekor yang montok ya.."
"Siap Pak." Jawab pedagang ayam bakar itu, warung nya sederhana tapi pembeli nya sampai mengantri.
Ica dan Zen duduk di kursi panjang, dengan orang-orang yang sibuk makan. Melihat orang yang makan dengan lahap, beberapa kali Ica menelan ludah nya dengan kepayahan. Zen yang melihat itu pun segera meminta penjual untuk mendahulukan pesanan nya.
"Bang, pesanan saya bisa di dulukan? Istri saya ileran nanti, lagi hamil muda soalnya."
__ADS_1
"Bisa pak, tunggu sebentar ya."
"Dad, lihat itu.." Ica menunjuk salah satu pengunjung yang sedang makan.
"Iya sayang, ada apa sama orang itu?"
"Rambut nya ngembang, liat nya buat kepala Ica gatel." Jawab Ica, dia menggaruk kepala nya yang terasa gatal setelah melihat salah satu pengunjung dengan rambut kribo.
"Ya terus? Apa harus Daddy usir dari sini?"
"Nggak gitu juga konsep nya Dad, sisirin sana."
"Ha-hah? Daddy harus nyisir tuh orang? Ogahh, mending nyisir bulu jemb*t." Jawab Zen.
"Cepetan, ini keinginan anak kamu Dad." Mendengar ucapan istri nya, Akhirnya Zen luluh dan mau menyisiri rambut pria itu, dia sudah bersiap dengan sisir di tangan nya.
"Pe-permisi Pak.."
"Ya, ada apa Nak?" Tanya Bapak paruh baya itu, membuat wajah Zen memerah, kalau saja ini bukan permintaan istri cantik nya, dia takkan mau merendahkan diri dan meminta izin untuk menyisiri rambut pria asing.
"Maaf pak, istri saya ngidam. Eemm, boleh saya sisir rambut anda?"
"Istri nya yang mana Nak?"
"Yang duduk disana, pakai dress biru." Tunjuk Zen ke arah istri nya yang sedang sibuk mengabadikan momen itu dengan ponsel nya.
"Boleh Nak, silahkan." Jawab pria paruh baya itu dengan ramah, tanpa tau siapa pria di depan nya itu adalah pemilik perusahaan terbesar di kota ini.
Zen menghela nafas nya lega, Zen mulai menyisiri rambut kribo bapak itu dengan perlahan takut saja kalau tiba-tiba pria itu mengamuk karena dia menyisir nya terlalu kuat.
Ica cekikikan melihat ekspresi Zen yang sangat terpaksa itu, dia mengupload video nya di media sosial dan berhasil menuai berbagai tanggapan yang membuat perut sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Ihh calon bapak gemoyy, selamat Tuan Zen. Selamat menderita karena ngidam unik nya Nona Ica." Tulis salah satu karyawan Zen di kantor, membuat Ica terkekeh.
Tak lama, Zen sudah selesai menyisir rambut bapak itu dan kembali duduk di samping Ica dengan wajah yang di tekuk.
"Dad, Lihat nih komenan karyawan mu, pada kocak-kocak." Ica menunjukan komentar itu pada Zen.
"Kamu mengupload nya Bby?"
"Iya dong, kesempatan emas tak mungkin di sia-siakan." Jawab Ica santai, berbeda dengan Zen yang merasa derajat nya sebagai bos tercabik-cabik.
"Kenapa di up Bby? Nakal."
"Habis nya lucu sih Dad, lihat wajah Daddy lucu banget." Ica menunjukan video saat Zen menyisir rambut pria itu dengan wajah tertekan nya.
"Tertekan banget, padahal cuma nyisirin rambut doang."
"Kamu puas Bby? Awas di rumah nanti Daddy hukum."
Mendengar kata hukum, Ica langsung membisu. Zen tau benar dia takut dengan kata hukum, padahal hukuman nya enak.
.....
π·π·π·π·
__ADS_1
Jangan lupa kasih gift sama like, komen, vote jugaπππ