
Meisya datang ke sebuah rumah kontrakan kecil, menurut informasi Azwar tinggal disini. Memberanikan diri, Meisya mengetuk pintu rumah itu dengan perlahan.
Tokk.. tokk.. tokk..
"Sebentar.." Suara seorang pria dari dalam, entahlah dia akan semalu apa kalau ternyata kontrakan ini bukan tempat tinggal kakak nya. Sudah datang malam-malam, mengganggu istirahat.
Ceklek..
Pintu terbuka, Azwar berdiri dengan kedua mata yang terbelalak. Dia melihat sang adik berdiri dengan tas yang di jinjing, penampilan nya kusut.
"Mei, masuk dek.."
"Terimakasih kakak." Meisya pun masuk ke dalam rumah kontrakan Azwar, dia duduk di karpet bermotif bunga itu.
"Darimana?" Tanya Azwar langsung.
"Baru pulang kak, Meisya di culik sama orang. Tapi pas pulang malah di kata-katain sama Ibu, Meisya udah gak kuat, makanya Mei pergi dari rumah." Jelas Meisya, perempuan itu menangis pilu.
"Sini, kakak peluk Meii." Meisya langsung memeluk tubuh kakak nya, dia begitu merindukan sosok Azwar.
"Mei mau tinggal sama kakak aja, Mei gak mau tinggal sama Ibu. Ibu jualin Mei sama om-om." Jelas Meisya, dia menangis tersedu di pelukan Azwar.
Hati Azwar mencelos, begitu serakah nya orang tua nya itu sampai hati menjual anak nya sendiri pada pria hidung belang.
Azwar mengusap rambut Meisya dengan lembut, dia juga ikut menangis setelah tau bagaimana nasib adik nya.
"Meii, kamu tinggal disini sama kakak sama Sintia ya.."
"Kak Sintia?" Tanya Meisya.
"Iya, Sintia calon istri kakak. Seminggu lagi kakak akan menikah dengan nya," Jelas Azwar.
"Selamat untuk kakak, Meisya janji akan berubah."
"Iya, sebagai permulaan kamu harus minta maaf sama Ica. Mau?" Tanya Azwar.
"Ta-tapi kak, Mei malu. Mei udah terlalu jahat sama Ica." Jawab Meisya lirih.
"Ica itu orang yang baik, Mei. Dia pasti mau memaafkan mu, tak ada salah nya berdamai dengan keadaan."
"Meisya malu kak, takut juga."
"Takut kenapa? Oleh tuan Zen? Dia orang yang baik kok, buktinya kakak di kasih kerjaan sama dia. Waktu itu juga motor kakak mogok dia yang bayarin."
"Iya, itu kan sama kakak. Gak tau kalau sama aku gimana."
"Sudahlah, Mei. Tak usah mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi, Zen dan Ica adalah orang baik."
"I-iya Kak, Mei mau minta maaf sama Ica."
"Nah gitu dong, Mei. Besok kita ke rumah Ica ya, setelah kakak pulang kerja."
"Baik kak."
__ADS_1
"Ohh iya, siapa yang menculik mu?"
"Aku gak tau kak, dia selalu pakai topeng gitu kalau datang ke tempat aku di sekap. Tapi dari badan nya sih, kayak masih muda gitu." Jawab Sintia.
"Tinggi? Kamu melihat warna rambut nya?"
"Hitam kak, rambut nya hitam." Jawab Meisya.
'Rambut pria bernama Brian itu abu-abu sekarang, mungkin bukan dia.' Batin Azwar.
"Kenapa gitu kak?"
"Nggak Mei, kamu sudah makan?" Tanya Azwar, Meisya menggeleng. Jangan kan makan, baru sampai rumah langsung kena sumpah serapah.
"Tunggu, biasa nya ada tukang sate atau bakso lewat." Azwar pergi keluar rumah nya, tak lupa membawa mangkok dan piring.
Meisya mengedarkan pandangan nya, kontrakan kakak nya begitu kecil dan sempit tapi rapih.
"Andai saja dari dulu aku ikut kakak, mungkin aku takkan tersesat, salah jalan seperti ini." Gumam Meisya. Dia bertekad ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi.
"Makan dulu Mei, disini yuk sambil liatin pemandangan." Ajak Azwar, Meisya menurut dan ikut makan bersama kakak nya di teras.
"Wihh, siapa War?" Tanya pemuda orang sini yang sedang meronda.
"Pake nanya lagi, ya pasti pacar nya." Celetuk yang lain nya.
"Enak aja pacar, dia adek gue." Jawab Azwar.
"Jan ngeledek ya Lu, gue banting baru tau."
"Becanda kali, War. Dia kerja?"
"Baru dateng, napa? Ada kerjaan?" Tanya Azwar.
"Bi Romlah lagi butuhin karyawan buat ngejahit."
"Mau Mei?"
"Mau kak, tapi gak tau caranya."
"Santai, disana di ajarin kok sama Bi Romlah nya. Kalau mau, nanti gue bilangin."
"Mau kak, Mei mau." Jawab Meisya.
"Yakin Dek?"
"Yakin kak, masa Mei tinggal disini tapi gak kerja, kan malu sama kak Sintia nanti."
"Yaudah, tapi kalo capek bilang ya."
"Iya kak, makasih."
"Sama-sama."
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan makan nya, orang-orang tadi juga sudah pergi melanjutkan ronda keliling kampung.
"Mei, nanti setelah kakak nikah kita cari kontrakan yang lebih layak ya?"
"Mei terserahh kakak aja, Mei perlu menyesuaikan diri juga dengan keadaan sekarang. Btw kakak udah bicara sama Ibu tentang pernikahan?" Tanya Mei.
"Ibu gak mau ketemu kakak, dia masih beranggapan kakak begini karena Ica, padahal Ica gak ada sangkut pautnya sama semua ini, kakak gak suka aja sama sifat ibu." Jelas Azwar.
"Sama Mei juga dia gak bakal mau ketemu kak, Mei juga pergi dari rumah udah gak tahan sama sikap nya Ibu. Mei gak mau terus-menerus di jadikan ladang uang doang buat Ibu."
"Dulu yang Ica alami, sekarang berbalik sama Mei kak. Setelah Ica pergi, Mei yang di jadikan ladang uang nya sama Ibu." Ucap Meisya dengan sendu.
"Kakak gak habis pikir sih, kenapa sama Ibu? Kenapa dia begitu terobsesi dengan uang, padahal itu hanya sementara? Kalau mengejar dunia dan gaya hidup itu takkan ada habis ya, dunia terus menjauh kalau kamu kejar."
"Mei juga gak tau dan gak ngerti kak, dari dulu ibu begitu kan?"
"Iya Mei, tapi sudahlah. Sebaiknya kamu tidur, besok kamu mulai kerja di Bi Romlah."
"Mei gak tau rumah nya yang mana?"
"Besok kakak antar sebelum berangkat kerja."
"Oke kak, Mei tidur dimana?"
"Di kamar aja, biar kakak yang tidur di luar."
"Tapi kan kak, masa kakak tidur di luar?"
"Udah, gapapa kok. Kamu tidur yang nyenyak ya, kakak mau nyuci piring dulu."
"Iya kak, makasih ya udah nerima Mei."
"Kamu adik kakak, Mei. Sudah ya, gak usah banyak pikiran, sebaiknya kamu tidur sekarang."
Meisya menganggukan kepalaa nya lalu pergi tidur di kamar Azwar, sedangkan Azwar mencuci piring bekas dia dan Meisya makan sebelum tidur.
Setelah selesai, baru lah Azwar bisa tidur. Dia mengambil selimut tipis di lemari dan menyelimutkan nya ke tubuh nya.
....
Tengah malam, Meisya merasakan haus, dengan langkah malas dia berjalan ke dapur untuk minum. Tapi dia berhenti saat melihat Azwar sedang tertidur lelap berbalutkan selimut tipis.
Seketika hati nya terasa sesak, Meisya menangis dalam diam. Begitu baik nya sosok kakak, dia rela tidur di lantai beralaskan karpet spons, sedangkan untuk adiknya? dia memberikan tempat yang nyaman.
"Kak Azwar, maafin Mei kak. Mei baru sadar kalau kakak sayang sama Mei," Meisya bergumam, sambil terisak.
Telat untuk nya menyadari kasih sayang seorang kakak takkan pernah habis untuk adik nya. Dimana Meisya yang dulu serakah juga seperti ibu nya? Kini dia sudah sadar, kemarin-kemarin dia hanya di butakan oleh obsesi yang membuat hidup dan masa depan nya hancur.
.....
🌷🌷🌷
Meisya dah tobat, tinggal ibu nya😪
__ADS_1