
Masih di acara pesta pernikahan Hani dan Bimo, banyak sekali wanita yang menatap iri ke arah pelaminan, dimana sepasang suami istri yang baru saja sah itu tengah duduk dan melayani beberapa kerabat yang ingin foto bersama.
"Bener-bener definisi hari patah hati sedunia." Gumam salah satu perempuan yang juga bekerja di perusahaan Zen. Dulu, dia sempat menyukai Asisten CEO itu, tapi setelah dia tau sifat aslinya yang terlampau dingin, dia memilih mundur saja.
"Iya, mana Pak Bimo ganteng banget lagi." Puji yang lain, Bimo terlihat sangat tampan mengenakan setelan tuxedo yang membalut tubuh sempurna nya.
"Dua pria tampan sold out." celetuk yang lain nya lagi, mereka kompak mengangguk dan menatap kedua pasangan itu dengan sendu. Zen yang nampak mesra dengan sang istri, dan Bimo juga begitu.
"Aaaaa baperr!" Pekik mereka bersamaan, membuat pusat perhatian langsung teralihkan ke arah mereka. Ketiga perempuan itu merasakan malu yang cukup kentara, hingga membuat wajah mereka merah padam. Jelas malu lah.
"Itu cewek-cewek kenapa ya? Kayaknya mereka gila sih, karena cowok idaman mereka dah nikah." Ucap Brian datar, tanpa ekspresi apapun.
"Ya jelaslah, CEO sama asisten nya itu ganteng kuadrat, jadi hari ini bisa di sebut hari patah hati sedunia." Bangga Zen, membuat Ica mendelik dan langsung menjejeli mulut suaminya itu dengan siomay yang baru saja akan dia makan.
"Baby.." Rengek Zen dengan mulut yang penuh dengan siomay.
"Inget, udah punya bini. Ini juga udah mau punya buntut, masih aja genit, mau tidur di luar hmm?"
__ADS_1
"Ihh enggak Sayangku, maaf ya maaf istriku sayang." Bujuk Zen membuat Brian tergelak melihat bapak CEO yang biasanya terlihat berwibawa itu, ternyata tidak ada apa-apa nya di depan istri nya. Definisi suami takut istri, mungkin lebih tepatnya takut tak di beri jatah kali ya?
"Nape ketawa Lu?" Ketus Zen, sambil memegangi lengan sang istri.
"Gapapa bang, tapi lucu aja liat Lu begini, padahal di kantor nya damage nya parah." Jawab Brian sambil terkekeh geli melihat ekspresi Zen yang sudah kusut seperti bungkus nasi uduk.
"Diem Lu, nasehatin tuh cowok Lu." Ucap Zen ketus pada Risya yang sedari tadi diam saja saat pacarnya itu memojokkan nya, dia sudah merasa terpojok saat ini, makanya meminta bantuan Risya untuk menghentikan ulah Brian.
"Sayang, udah ya? Atau baju mu gak aku cuciin sebulan, mau?" Ancam Risya, membuat Brian langsung menghentikan tawanya. Risya tau benar kalau Brian paling tak suka dengan yang namanya mencuci pakaian, padahal dia bisa mencuci piring, memasak, mengepel lantai karena itu pekerjaan nya, menyapu, tapi paling anti dengan mencuci baju, entah kenapa.
"Eehhh iya sayang, maaf." Ucap Brian, kali ini gantian Zen yang terkekeh saat melihat Brian yang ketakutan saat Risya mengancam nya, padahal hanya ancaman yang simple, tapi mampu membuat Brian bertekuk lutut.
"Heehhh, bisa aja ngatain gue bucin, gue takut istri lah, nahh terus dia apa dong? Sama aja deh." Brian hanya mendelik lalu kembali bersandar di pundak Risya, sedangkan gadis itu fokus makan bakso di mangkuk nya.
Sedangkan di sebuah bangunan tua, Chloe kembali berteriak histeris, beberapa kali dia merasa mual saat melihat seprai basah dan cipratan-cipratan benih anak manusia, ya anak buah Brian tak melepaskan benih mereka di dalam lubang Chloe, mereka juga punya otak tak mungkin mengambil langkah salah, meski meledak di dalam adalah suatu kenikmatan yang tak terhingga, tapi daripada mengambil resiko perempuan itu hamil ya kan? Siapa yang repot, mereka juga!
"Lepasin gue!" teriak Chloe, tak ada kapok-kapoknya, padahal setiap berteriak anak buah Brian akan menjejeli mulut Chloe dengan botol atau kain, tapi setelah berhasil melepaskan nya dia kembali berteriak.
__ADS_1
"Hehh, bisa diam?" Chloe langsung diam saat melihat pria berambut gondrong dan berwajah sangar mendekat, dialah pemilik senjata paling besar disini, yang membuat lubang miliknya terasa di tusuk dua kejantanan sekaligus.
"Tolongg..." Pekik Chloe saat pria itu akan pergi, membuat dia berbalik dan tanpa ragu lagi dia membuka resleting celana nya, lalu menjejeli mulut Chloe dengan pisang tanduk yang besar dan panjang itu hingga masuk setengahnya, membuat Chloe berkaca-kaca saking mualnya.
Pria itu bergerak maju mundur sambil memejamkan matanya, semakin lama semakin cepat pria itu menggerakan pinggul nya, hingga beberapa menit kemudian dia menyemburkan cairan hangat nan kental di mulut Chloe.
Hueekkk...
Chloe memuntahkan cairan itu, dia begitu jijik. Meskipun dia sering melakukan oral sekss, tapi dia juga belum pernah kalau menelan habis cairan kental berbau amis itu. Paling hanya sisa-sisa yang tertinggal di mulutnya, itupun dengan terpaksa.
"Nikmat sekali, jika kau berisik lagi aku takkan ragu melakukan hal ini lagi sampai kau pingsan sekalipun!" Ancam nya lalu pergi meninggalkan Chloe yang berurai air mata.
'Kenapa hidupku jadi begini, apa orang tua ku tak mencariku saat aku hilang? Apa aku hanya sebuah alat yang di manfaatkan dengan kedok anak? Sialan sekali, mereka menyuruhku menjerat Brian tapi malah ini yang aku dapat!' Batin Chloe, dia menangis pilu merenungi nasib nya. Makan susah, tidur juga susah karena banyak nyamuk yang menggigit, belum lagi perlakuan anak buah Brian begitu melecehkan nya, tapi tentu saja mereka melakukan ini atas perintah. Semua mereka lakukan di bawah perintah atasan mereka, yaitu Brian.
......
π·π·π·π·
__ADS_1
Kasian kamu Chloe, tapi yasudahlah.π