Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 61


__ADS_3

"Kenapa Lu cegukan mulu sih? Biasa nya kalo Lo cegukan itu karena Lo bohong!"


"Apa sih Ca? Gue bohong apa, lagian gue emang beneran lagi dateng bulan." Jawab Hani dengan panik. Tapi cegukan nya malah tambah sering hingga membuat nya kelelahan.


"Oke oke, gue jujur. Jadi," Hani menjelaskan semua nya, juga tentang pria yang merenggut kesucian nya tadi malam.


"A-apa? Jadi sahabat ku ini sudah di unboxing? Siapa nama nya, Han?"


"Aku tak tau, ini hanya tawaran One night stand. Jadi aku tak tau identitas nya sama sekali." Jawab Hani.


"Pria misterius yang merenggut mahkota sahabatku, siapa kau?" Gumam Ica sambil mengepalkan tangan nya kesal.


"Udahlah, lagian tuh cowok gak salah-salah banget. Gue yang nerima tawaran ONS nya karena penasaran."


"Lu di bayar kagak?" Tanya Ica. Hani menganggukan kepala nya.


"Dia nyimpen duit dua gepok di meja sebelum pergi, tapi gue gak bawa. Buat apa, toh gue juga menikmati."


"Ada bagus nya sih, jadi dia gak nyangka Lo cewe matre yang rela jual keperawanann cuma buat duit." Cetus Ica.


"Terus sekarang gimana Han?"


"Gimana apa nya?" Hani malah balik tanya.


"Itu nya, apa masih sakit? Aku dulu sakit sama ngilu nya seharian."


"Sakit lah begoo, makanya gue jalan ngangkang!" Ketus Hani.


"Lu di unboxing dimana Han?"


"Stop, udah jangan di bahas gue malu Ca!"


"Ayolah, gue aja cerita sama Lo semua nya."


"Di hotel yang deket bar itu lho." Jawab Hani akhirnya.


"Wahh, itu kan hotel bintang lima, Han? Berarti pria yang udah unboxing Lu tuh tajir kali."


"Mungkin, bisa jadi. Kalau gak tajir, mana mungkin dia nyimpen duit dua gepok di meja buat bayar gue Ca?"


"Kalo Lo ketemu dia lagi, terus dia minta Lo nemenin dia lagi, Lo mau gak kira-kira?" Tanya Ica.


"Tergantung, gimana waktu nya aja Ca. Jujur, gue ketagihan." Celetuk Hani dengan semburat kemerahan di wajah nya.

__ADS_1


"Tuh kan, gue bilang juga apa! Kalo udah sekali pasti pengen lagi, rasanya candu banget kan?" Hani menganggukan kepala nya perlahan.


"Cieee, jangan main sembarangan ya.." Peringat Ica.


"Lu gila ya? Gue emang udah kagak gadis lagi, tapi ya bukan berarti gue ngumbar nafsuu gue kali Ca."


"Jangan marah dong, gue minta maaf ya."


"Oke gapapa, mana nih makanan nya. Gue laper.." Hani meraba perut nya yang berbunyi krucuk-krucuk.


"Gue lupa njirr, gue pesenin dulu ya.." Ica pun pergi dari hadapan sahabat nya, memesan makanan yang sudah dia janjikan tadi.


....


Kedua perempuan dengan selera makan tinggi itu sedang melahap porsi besar ayam goreng krispi, entah sudah berapa puluh potong yang masuk ke dalam perut mereka, tapi mereka masih terlihat begitu menikmati.


"Jadi kamu pergi dari kantor itu untuk pesta makanan tak sehat, Baby?" Mendengar suara yang tak asing itu, Ica menoleh dan langsung di hadiahi tatapan tajam bak elang pada mangsa nya, siapa lagi kalau bukan Zen yang memutuskan menyusul gadis nya.


Hani yang melihat tatapan itu menelan ludah nya dengan kepayahan, dia merasa sangat takut bahkan hanya dengan melihat tatapan nya saja.


"Ehh Daddy, haii Dad.." Ica cengengesan sambil meletakan kembali sepotong ayam goreng yang belum sempat dia makan.


"Pulang.."


"Kan ada teman mu yang makan, kamu harus pulang sekarang!" Tegas Zen, kalau sudah begini lebih baik menurut saja daripada kena hukum.


"Yaudah, Han aku pulang dulu ya. Kamu habisin ayam nya, udah aku bayar kok."


"T-api masih banyak njirr, gue kagak bakal mampu ngabisin ini." Jawab Hani.


"Kan bisa Lu bawa pulang, punya otak tuh di pake makanya. Jangan lupa habisin atau bungkus bawa pulang, gue dah ngeluarin duit buat beli tuh ayam."


"Ya deh, sono pulang." Usir Hani dengan kesal, lagi enak-enak nya mukbang, ehh malah temen makan nya di jemput paksa.


....


Ica tak berani menatap Zen yang duduk di samping nya, dia dengan tau apa kesalahan nya. Ya dia makan fast food yang sangat Zen larang, dia boleh makan banyak tapi bukan berarti makan sembarangan.


"By.."


"Ya Dad.."


"Apa yang tadi itu Hani?"

__ADS_1


"Iya, memang nya kenapa?" Tanya Ica balik.


"Wajah nya terasa tak asing, aku merasa pernah melihat nya dari seseorang."


"Ya dan seseorang itu aku, Dad. Aku pernah menunjukan poto Hani sama Daddy waktu itu.."


"Mungkin iya tapi Daddy lupa, tapi Daddy rasa ada seseorang lagi yang menunjukan poto gadis itu, tapi siapa?" Gumam Zen berusaha mengingat-ingat.


"Tak usah di pikirkan, Dad."


"Iya, tak penting juga. Ohh ya, sampai rumah kamu harus di hukum!"


"A-pa? Hukuman lagi Dad? Tadi di kantor aku juga di hukum kan? Tidak Dad, aku lelah." Tolak Ica.


"Kamu berani menolak Daddy?"


"Ya bukan begitu Dad, tapi kan gak setiap jam juga. Daddy harus tau diri, milik Daddy gede banget dan lama kalau main."


"Terus?"


"Ya ini Ica sakit Dad, ngilu kalau terlalu sering di masukin." Jawab Ica apa adanya. Inti nya memang sakit, apalagi setelah Zen memakai nya dengan waktu yang lama.


Setiap bermain tak pernah kurang dari satu jam, dan bahkan setelah meledak pun terong ungu itu akan terus menegang.


"Kalau tak mau di hukum, patuhilah perintah Daddy. Makanan itu tak sehat walau rasa nya enak, By!" Tegas Zen membuat Ica kembali menunduk.


"Iya Dad, Ica minta maaf. Habis nya Ica kesel sama Daddy.."


"Iya Daddy juga minta maaf sayang,"


Zen meraih Ica ke dalam pelukan nya, tanpa memikirkan perasaan sang supir dan asisten nya yang duduk di bangku depan.


"Jadi jomblo gini amat ya pak?" Tanya Bimo.


"Sabar, itu tanda nya kita harus cepet-cepet nyari pasangan juga biar bisa uwuu."


"Bahasa apa itu uwuu?"


"Bahasa gaul buat so sweet, pak." Bimo hanya membulatkan bibir nya tanda mengerti.


....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Masih bingung sama bimo, di gabung atau di pisah😪🤣


__ADS_2