
Masih dalam suasana duka di rumah sakit karena tragedi penusukan yang terjadi, acara resepsi pernikahan yang harusnya di penuhi dengan kebahagiaan, justru menjadi petaka. Bukan saja kejadian Meisya, Zen juga menanggung malu karena klien bisnis besar nya di permalukan di pestanya, meski sekretaris nya, tapi tetap saja dia malu. Apalagi saat perempuan yang menjabat sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi itu pingsan, dia pendarahan.
Zen merasa curiga, apa perempuan bernama Riana itu tengah hamil? Tetapi setaunya dia belum menikah. Tapi entahlah, itu hanya praduga nya. Terlebih istri Danish sudah lama mengalami kelumpuhan, tak menutup kemungkinan Danish bisa berpaling. Tapi ya semuanya balik lagi kepada orangnya, memilih setia atau berpaling, setiap manusia punya pilihan berdasarkan logika. Mereka sudah dewasa untuk menentukan mana yang salah dan benar.
Derap langkah membuat Ica dan Zen mendongak bersamaan, ternyata Bimo datang dengan menenteng paperbag berisi pakaian untuk Ica.
"Silahkan Nona." Bimo mengulurkan paperbag itu pada Ica, dan perempuan berstatus istri Azzendra itu langsung meraih nya.
"Bantuin dong, kayaknya bakal ribet deh." Pinta Ica kepada dua sahabatnya. Karena Sintia menemani Azwar yang tak sadarkan diri tadi.
Ketiga perempuan itu pun pergi ke toilet dengan memegangi ekor gaun Ica, menyusahkan memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Gaun ini memang harusnya di pakai di acara pesta, bukan di pakai ke rumah sakit.
"Ada apa Tuan? Wajah anda terlihat lesu." tanya Bimo.
"Meisya kritis Bim, luka tusukan nya dalam, belum lagi pisau nya di beri racun, rahim nya robek, jadi harus di angkat." Jawab Zen pelan sambil menunduk dalam. Bimo menganga mendengar fakta yang terjadi saat ini, meski wanita itu jahat, tapi itu dulu. Disaat dia sudah berubah, malah banyak sekali rintangan nya.
"Lalu kemana Arian?"
"Dia lagi di ambil darahnya Bim, kebetulan darahnya cocok sama Meisya." Jawab Zen, masih dengan kepala yang tertunduk.
"Semoga saja wanita itu baik-baik saja, memang jalan untuk berubah itu tak selalu mulus, ada saja cobaan nya. Azwar kemana?"
"Banyak tanya Lo, Bim! Dia pingsan, puas Lo? Kepala gue pusing ini, pijitin cepet!" Perintah Zen dengan nada ketus, membuat Bimo mencebikkan bibirnya. Dia duduk di samping Zen dan memijat kepala nya dengan perlahan.
__ADS_1
"Kencengan dikit napa Bim? Lemes amat Lo." Bimo yang sudah terlanjur kesal, memperkuat pijatan nya di kepala Zen, membuat pria itu meringis bersiap mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya.
"Sakit anjirr! Lo udah bosen kerja sama gue ya Bim? Sono pergi, gak usah balik Lo."
"Lah, kan Elu nya sendiri yang nyuruh kuatin pijatan nya, gue cuma nurut doang." Jawab Bimo dengan ekspresi kesalnya.
"Tapi gak sekuat itu juga kali, minta di tampol ya Lo."
"Iya-iya, maaf tuan Zen." Jawab Bimo, di situasi seperti ini lebih baik mengalah saja daripada terjadi perdebatan sengit yang tak berkesudahan.
Tak lama, Arian datang dengan berjalan sempoyongan, wajah nya pucat dengan dahi yang di penuhi keringat.
"Nape Lo?" Tanya Bimo.
"Baru donor darah aja, udah kayak mau mati." Celetuk Zen, membuat Arian langsung membuka mata nya.
"Jangan lupa ya, Lo juga takut sama anjing." Balas Arian, jika di luar mansion begitulah keduanya. Seperti teman pada umumnya,
"Seenggaknya gue gak takut sama jarum suntik!"
"Ehemm, siapa ya yang pernah di kejar anjing sampe nyungsep di selokan? Nyesel gue nolongin waktu itu, iya gak Bim?" Ucap Arian meminta pendapat pada Bimo, tapi Bimo keburu mendapat lirikan tajam dari mata elang milik Zen, jadi dia memilih diam saja, takut bonus dan gaji nya di potong. Dia sangat membutuhkan uang saat ini, karena akan menikahi Hani minggu depan.
"Awas aja ya Lo, Ar. Gue pastiin gaji Lo di potong 100%,"
__ADS_1
"Lho, kok larinya ke gaji sih? Ahh Lo mah gak seru, Zen! Padahal Lo sendiri yang mulai." Zen hanya memutar matanya jengah dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu, dia sudah tak mau mengingat kejadian memalukan itu, tapi Arian malah mengungkit nya.
Hari itu, Ica merengek ingin rujak mangga muda. Ketiga pria itu sudah hampir mengelilingi tempat-tempat yang berpotensi menjual buah itu, tapi nihil tak ada satupun pedagang buah yang menjualnya. Kebiasaan, jika sedang di butuhkan akan sangat sulit mencarinya, tapi akan sangat banyak ketika sedang tidak mencarinya. Apalagi untuk ibu hamil yang tengah mengidam, di jamin susah menemukannya.
Hingga akhirnya, Bimo menyarankan untuk mengelilingi perumahan sekitar mansion, kalau tak salah ada salah satu rumah yang punya pohon mangga di depan rumahnya. Dan benar saja, pohon mangga itu berbuah lebat. Zen memberanikan diri meminta izin pada sang pemilik rumah untuk mengambil beberapa buah mangga muda itu, dia juga mengatakan alasan nya meminta buah yang belum cukup matang itu, setelah tau alasan nya pun sang pemilik mempersilahkan.
Tapi naas nya, sepertinya pemilik rumah lupa memasukkan anjing peliharaan nya ke kandang, membuat Zen yang sedang memanjat pohon itu di gonggongi, karena terkejut dia malah terjatuh, namun sialnya anjing itu malah mengejarnya, tentu saja Zen lari tunggang langgang menghindari anjing itu, hingga di ujung perumahan dia tersandung dan menabrak pohon palm, dan akhirnya terperosok ke selokan.
Bimo dan Arian yang juga ada disana segera menolong Zen yang kotor di penuhi lumpur, pemilik anjing pun segera meminta maaf dan memberikan buah mangga muda itu secara cuma-cuma. Meskipun begitu, raut wajah Zen sangat kesal karena sebelum menolong Zen, kedua pria bawahan nya itu malah tertawa terbahak-bahak melihat keadaan sang atasan yang mengenaskan.
Kejadian yang sangat memalukan memang, nasib juga malah pergi dengan bawahan modelan Arian dan Bimo, sengklek semua, sialan. Mungkin itulah yang ada dalam benak Zen sekarang.
.....
🌷🌷🌷🌷
ketawa dulu dikit, sebelum termehek-mehek lagi nanti 🤭
Btw ada yang udah baca cerita Danish sama Riana di aplikasi sebelah? Kalau belum, coba mampir deh, dijamin panas dingin, no sensor🤭🤭
korban anjing galak ini😂😂🤣🤣
__ADS_1