Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 206


__ADS_3

Brian masih diam dan menyendiri di kebun belakang rumah Risya, tujuan nya hanya satu. Ingin menenangkan diri lebih dulu sendirian, Brian tipe pria yang akan menyendiri jika dia punya masalah, jika ada yang bertanya dia akan marah-marah tak jelas dan tak jarang terjadi pemukulan, itulah hal yang Brian hindari, dia tak mau menyakiti Risya dengan kata-kata atau perlakuan nya, terlebih kondisi Risya saat ini yang sedang mengandung buah cinta mereka.


Brian menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, hatinya berkecamuk antara marah, sedih dan kecewa. Marah karena kelakuan ibunya yang sangat memalukan, sedih dan kecewa karena ternyata wanita itu tak berubah sedikitpun. Malah semakin menjadi, karena merasa bebas.


"Bibi, Brian rindu Bibi. Cepatlah bangun Bi," Gumam Brian, tak terasa air mata nya menetes jika mengingat tentang keadaan sang bibi yang saat ini masih belum sadar juga dari koma nya.


Bibi nya adalah tempat dia bersandar, berbagi cerita, dan Brian merasa hanya dia satu-satunya orang yang sangat menyayanginya. Dia memang terbiasa dengan kesendirian, dimulai dengan ibu dan ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan hingga tak punya waktu untuknya, lalu di lanjutkan dengan perceraian, tapi bibi nya itu selalu ada untuknya, memberinya nasihat dan petuah untuk menjalani hidup yang lebih baik.


Benar saja, berkat kelembutan hati bibi nya itu, Brian berhenti balapan liar, mabuk, merokok. Semua kebiasaan itu dia hilangkan, dan inilah dirinya yang sekarang.


Dreett..


Sebuah notifikasi pesan masuk, Brian membaca nya dan setelah selesai dia memasukkan nya kembali kedalam saku celana nya.


Brian bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah, dia melihat Risya yang tengah tidur di ruang tamu dengan televisi yang masih menyala. Seketika senyum nya merekah, Risya terlihat sangat menggemaskan di mata Brian saat ini.


Brian berjongkok di depan Risya, dia merasa bersalah karena mengabaikan gadis itu padahal ini semua bukan kesalahan nya. Tangan nya terulur mengusap rambut gadis nya dengan lembut.


"Aku pergi dulu sebentar ya Sayang, tidur nyenyak ya." Brian mengecup kening Risya lalu pergi. Tentunya dia berani meninggalkan Risya karena dia sudah punya anak buah yang akan menjaga ketat rumah ini.


Brian pergi menaiki taksi online yang sudah dia pesan tadi, tujuan nya adalah cafe cemara. Dia ada janji dengan Zen, Bimo dan Azwar.


Setelah 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Brian sampe di cafe itu, dia membayar taksi itu lalu masuk ke dalam cafe. Dia celingukan mencari ketiga abang nya itu, dan setelah menemukan nya dia berjalan mendekat dan duduk di dekat Zen.


"Lama banget Lu, Bri." Celetuk Bimo.


"Gue lagi bersemedi di gua, terus bujuk Risya dulu minta duit buat ongkos kesini." Jawab Brian dengan wajah datar nya.


"Pesen makan, minum gak?" Tanya Zen.


"Nggak deh, duit nya kagak cukup. Cuma ada buat ongkos balik naik bus nanti." Jawabnya lagi.


"Pesen aja, gue yang bayar kali." Ucap Zen membuat Brian berbinar, dia langsung memesan cemilan dan segelas kopi latte.

__ADS_1


"Jadi, kita ngumpul buat apa nih?" Tanya Azwar.


"Gak ada acara pokok sih, cuma pengen kumpul-kumpul aja."


"Halah, paling juga sambil ghibah, iye kan?" Celetuk Brian, seperti biasa dia yang paling nyeleneh.


"Lah itu tau, kita kan suka ghibah sekarang."


"Ketularan bini lah, biasa."


Brian memakan cemilan nya sambil melamun, bahkan celotehan ketiga pria itu tak dia dengarkan sama sekali. Dia kepikiran lagi dengan kelakuan memalukan ibunya itu.


"Heh, Bri nape Lu diem aja? Cacingan?" Tanya Bimo.


"Gak enak ya jadi orang humoris, diem dikit aja pasti tau kalau lagi ada masalah." Jawab Brian dengan senyum yang nampak sangat di paksakan.


"Lu kenapa? Cerita kalau ada masalah, jangan di pendem sendirian, gak engap emang?"


"Gue malu sama kelakuan nyokap gue bang, asli malu nya sampe ke ubun-ubun."


"Tadi, habis dari RS gue niatnya mau mampir ke rumah orang...."


"Tunggu, ngapain Lu ke RS? Siapa yang sakit?" Tanya Bimo memotong ucapan Brian.


"Bisa diem dulu gak?"


"Oke oke, sorry brother." Ucap Bimo sambil cengengesan.


"Sampe mana tadi, lupa.."


"Dari rumah sakit mau mampir ke rumah orang tua Lo." Jawab Zen.


"Iya, gue kira bakal di suguhin kue atau jus gitu, ehh malah di suguhin adegan ++. Kayak di rumah itu tuh gak ada kamar nya, masa mesum di ruang tamu kan edyaan, mana cowok nya seumuran gue Bang. Malu asli, mana gue bawa Risya."

__ADS_1


"Jadi, Lo liat nyokap Lo lagi gituan? Di ruang tamu sama berondong?" Tanya Zen dan Brian mengangguk.


"Itu dah parah banget sihh." Celetuk Bimo, membuat Azwar mendelik.


"Santai aja, gue gak bakal kesinggung. Lagian bener kata bang Bim, udah parah banget. Gue sampe malu tau punya nyokap macam dia, gak ada kapok-kapoknya. Emang nya gituan sama berondong tuh seenak itu apa ya? Sampe terus di lakuin dari jaman punya laki sampe sekarang."


"Susah Bri kalo emang udah suka, susah berhenti maksudnya." Cetus Zen.


"Iya gue tahu, tapi yang gue heran itu, emang seenak apa sih? Padahal nyari yang seumuran dia juga kan banyak. Atau beda beberapa tahun gitu, lah ini mah seumuran anak nya oyy."


"Gue gak tahu sih kalo gitu, gak punya solusi juga. Tapi seenggaknya kalo Lu cerita, sedikit aja pasti bikin hati Lu lega, Bri."


"Iya bang, makasih udah mau denger curhatan gue. Masalah gue banyak memang."


"Gapapa Bri, setiap orang juga punya masalah." Jawab Zen sambil menepuk pundak adiknya.


"Tadi gue nanya belom di jawab."


"Ohh, gue ke RS buat periksa kandungan." Jawab Brian santai, tapi berbeda dengan ketiga pria di depan nya yang sudah menunjukan reaksi keterkejutan.


"Periksa kandungan, siapa yang hamil? Gak mungkin Lo kan, Bri?" tanya Bimo.


"Si anjirr, gue cowok tulen ege."


"Ya terus siapa?"


"Pake nanya lagi, ya Risya lah." Jawab Brian sewot.


"Ap-apa, Risya hamil?" Pertanyaan kompak dari ketiga pria itu membuat Brian yang sedang minum itu tersedak.


Uhukk.. uhukk..


......

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Pertemuan 4 cogan🤭🤭


__ADS_2