Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 219


__ADS_3

Zen menangis melihat sang istri yang sedang beristirahat setelah hampir 2 jam berjuang melahirkan buah cinta mereka. Dia mengusap lembut kepala sang istri, sungguh demi apapun ini adalah pengalaman pertama nya, dia sangat panik sampai tak sadar ngompol di celana, apa yang akan orang pikirkan jika tahu hal ini, ahhh memalukan.


"Terimakasih Sayang, sudah mau melahirkan anak-anak ku, aku mencintaimu, sangat." Gumam Zen, tapi Ica yang kelelahan tak terganggu, dia tertidur lelap setelah jahitan nya selesai dia langsung tidur.


Pintu terbuka, seorang perawat datang dan meminta Zen untuk mengikuti nya.


"Permisi Tuan, bisakah anda ikut saya sebentar?"


"Baik Sus." Jawab Zen, dia bangkit dari duduknya lalu mengecup singkat kening Ica dan pergi mengikuti perawat itu.


Ternyata, perawat itu membawa Zen ke kamar khusus bayi new born, atau bayi yang baru saja di lahirkan agar identitas nya tidak tertukar.


"Anda sudah menyiapkan nama?" Zen menganggukan kepala nya.


"Yang laki-laki Dave Grew Nicholas, dan yang perempuan Daisy Grew Nicholas." Jawab Zen, perawat itu mengangguk lalu memberikan gelang di kaki kedua putra dan putri Zen, dia tersenyum penuh haru saat melihat kedua anak nya yang sedang tertidur lelap.


"Bisakah saya menyentuh anak saya, Sus?"


"Silahkan Tuan, tapi tolong pastikan tangan anda bersih, atau cuci tangan terlebih dahulu disana." Tunjuk sang perawat pada tempat cuci tangan yang sudah di sediakan, Zen langsung menuju tempat cuci tangan itu dan mencuci tangan nya sebersih mungkin.

__ADS_1


Dia menyentuh pipi Baby Daisy terlebih dahulu, pipi yang cabi dan kemerahan, bulu mata lentik, hidung nya mancung seperti miliknya, tapi bibirnya mewarisi sang istri, Zen kembali meneteskan air mata nya, lalu menggenggam tangan mungil yang mengepal itu dan mengusap nya lembut.


"Kamu adalah penyempurna hidup Daddy dan Mommy, Darl. Kami sangat mencintai kalian berdua." Ucap Zen, dia beralih pada Baby Dave. Dia tersenyum kecil saat melihat ternyata Baby Dave sangat mirip saat dirinya masih kecil, bahkan alis tebal nya sangat mirip dengan miliknya.


"Pewaris keluarga Nicholas sudah lahir, terimakasih Darl, sehat selalu. Setelah Mommy bangun, kalian harus bertemu dengan Mommy ya, dia pasti senang melihat kalian berdua." Ucap Zen dia sungguh tak tahan ingin mencubiti pipi cabi kedua buah hati nya, sangat menggemaskan.


"Maaf Tuan, sudah selesai. Silahkan keluar terlebih dahulu."


"Baik Sus, jaga anakku dengan baik jangan teledor atau kau tau akibat nya, aku bisa saja menutup rumah sakit ini dalam semalam!" Ancam Zen membuat suster itu kesulitan menelan ludahnya sendiri. Jadi, beginilah tuan Azzendra yang sebenarnya, berkuasa dan penuh dengan ancaman-ancaman mematikan, yang tentunya bukan sebuah lelucon semata.


"B-baik Tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin." Zen mengangguk lalu pergi dengan langkah lebarnya, meninggalkan ruangan yang di penuhi bayi baru lahir itu. Tapi semua nya tengah tertidur lelap, kebiasaan bayi baru lahir memang seperti itu kan? Tidur saja seharian, paling menangis kalau ingin menyusu atau pipis saja.


"Bagaimana cicit ku, Zen?"


"Mereka tampan dan cantik, seperti ayah dan ibunya." Jawab Zen dengan membanggakan diri.


"Kau sudah memberi mereka nama?" Zen menganggukan kepala nya, dia tersenyum lebar saat membayangkan betapa manis nya kedua buah hatinya.


"Dave dan Daisy." Jawab Zen,

__ADS_1


"Dave? Daisy?" Tanya Kakek Arhan.


"Dave, artinya kuat, tangguh dan pemberani. Dia calon pewaris keluarga Nicholas, jadi harus memiliki itu. Daisy, aku terinspirasi dari nama bunga yang sangat cantik, berwarna putih dengan putik berwarna kuning. Daisy juga berarti Matahari yang di ambil dari frase inggris kuno. Jadi aku memutuskan memberikan nama itu pada putriku, karena dia matahari yang akan selalu menyinari keluarga kami." Jelas Zen panjang lebar.


Semua orang yang menatap Zen dengan tatapan kagum, ternyata di balik nama yang indah terselip makna yang dalam juga.


"Selain indah, nama yang kau berikan sarat akan makna, Zen."


"Tentu saja, aku memikirkan nama anak-anak ku dengan baik." Jawab Zen lalu tersenyum.


"Cucuku sudah sangat dewasa sekarang, kau sudah menjadi suami dan ayah sekarang. Kalau orang tua mu melihat semua ini, mereka pasti akan sangat bangga melihat putra mereka."


"Tentu saja Kek, aku takkan pernah mengecewakan mendiang ayah dan ibuku!" Jawab Zen, kakek Arhan terkekeh lalu memeluk cucu nya yang sudah sangat dewasa saat ini. Bukan hanya dari usia nya, tapi dari sikap dan sifat nya yang sangat mencerminkan dia adalah pria dewasa yang bertanggung jawab.


.....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Yeee welcome to the world Baby Dave and Baby Daisy๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2