Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 140


__ADS_3

Singkat nya, mobil yang membawa Zen dan Ica sampai di rumah sakit terdekat. Zen langsung berlari sambil menggendong Ica menuju ruangan UGD.


"Sus, tolong istri saya dia tak sadarkan diri." Ucap Zen dengan panik.


"Baik, tuan tunggu sebentar." Suster itu pun segera berlari sambil membawa brankar. Zen langsung membaringkan istri nya di brankar dan suster pun segera membawa nya masuk.


"Maaf tuan, anda tunggu di luar."


"Tapi saya suami nya!" Tegas Zen membuat Azwar memegang lengan adik ipar nya dengan lembut, mencoba menenangkan pria itu.


"Sabar Zen, jangan begini. Biarkan Ica di periksa dulu, tenang Zen."


"Baik sus, segera periksa adik saya sekarang." Suster itu pun mengangguk dan mendorong brankar nya memasuki ruangan, lalu menutup pintu nya.


Azwar menarik tangan Zen, mengajak nya duduk di kursi tunggu, pria itu lemas dan memilih mengikuti Kakak nya.


"Ica kenapa ya bang? Aku kok takut ya?" Tanya Zen lirih, suara nya hampir tak terdengar.


"Kita tunggu vonis dokter ya Zen, Ica pasti baik-baik saja." Azwar masih berusaha menenangkan Zen yang sedang terpuruk.


"Aku takut bang,"


"Tenang Zen, kau harus tenang jangan begini."


Tak lama, terdengar suara derap langkah yang mendekat, ya itu 5 orang yang menyusul dengan mobil anak buah Zen.


"Gimana Ica?" Tanya Hani.


"Masih di periksa dokter di dalam," Jawab Azwar, karena Zen memilih diam dan menunduk dengan menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"Semoga Ica baik-baik saja." Ucap Hani, di angguki semua nya.


Mereka masih menunggu dokter keluar untuk tau kondisi Ica sebenarnya, bahkan Zen sedari tadi mundar mandir seperti setrikaan, membuat Azwar jengah, karena bosan melihat pria itu yang bolak balik di depan nya.


"Bisa duduk tenang, Zen? Gak capek itu kaki dari tadi mundar mandir terus?" Celetuk Azwar, membuat Bimo yang sedang melamun terhenyak. Dia mengulumm senyum saat melihat Zen langsung duduk setelah kena semprot dari kakak ipar nya.


Tak lama dokter keluar dengan sneli putih dan stetoskop yang menggantung di leher nya.


"Keluarga Nona Ica?"


"Saya suami nya."


"Saya kakak nya dok." Jawab Azwar dan Zen barengan.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Zen.


"Nona Ica hanya kelelahan saja, di tambah sedang hamil muda jadi sangat mudah kelelahan. Nona juga kekurangan cairan, mungkin karena gejala morning sickness." Jawab Dokter itu, membuat semua orang yang tadi nya begitu khawatir kompakan mengusap dada, merasa lega karena Ica baik-baik saja.


"Saya ingin menjelaskan sedikit, kehamilan Nona masih sangat rentan, dan kandungan nya lemah."


"A-apa dok? Kandungan istri saya lemah?" Tanya Zen dengan raut wajah tak percaya.


"Benar tuan, kandungan Nona Ica lemah. Harus sangat di jaga," Jawab dokter perempuan itu, membuat Zen mengusap wajah nya kasar.


"Lalu saya harus bagaimana Dok?"


"Cukup berikan perhatian yang lebih, sudah banyak kasus keguguran karena suami nya kurang memberi perhatian. Jangan kelelahan, sebisa mungkin jangan berhubungan badan terlebih dulu dengan durasi lama, kalau sebentar selama Nona masih merasa nyaman, tidak masalah." Jelas dokter itu.


"Baik dok."


"Jangan lupa makan makanan yang sehat dan bergizi, buah-buahan dan sayur, daging atau ikan itu bagus untuk pertumbuhan janin. Saya hanya akan meresepkan vitamin dan obat penguat kandungan."


"Baik dok, apa bisa saya menemui istri saya?"


"Silahkan tuan, siapa yang ikut bersama saya untuk mengambil resep?"


"Saya dok," Jawab Azwar.


"Mari tuan." Azwar pun pergi mengikuti Dokter itu bersama Sintia, karena Azwar tak melepaskan sedetik pun genggaman tangan nya pada perempuan itu.


"Kalau begitu kami akan pulang dulu, Ica sudah baik-baik saja." Ucap Risya.


"Ya pulang lah dan datang saat aku membutuhkan mu, terutama kau Bim."


"Baik tuan, hubungi saja saya." Jawab Bimo, lalu kedua pasangan itu pun pergi.

__ADS_1


Zen masuk ke dalam ruangan Ica, perempuan itu masih belum sadarkan diri. Selang infus menggantung meneteskan antibiotik, Zen duduk di sisi brankar istri nya.


"Sayang, kau selalu saja membuat aku khawatir." Gumam Zen sambil mengusap punggung tangan Ica.


"Aku tak tau bagaimana hidup ku tanpa mu sayang, begini saja sudah membuat aku takut setengah mati." Ucap Zen lagi, tanpa terasa air mata nya luruh membasahi tangan Ica.


"Daddy..." Panggil Ica lirih.


"Sayang, kamu sudah bangun? Ada yang sakit, apa sayang?"


"Aku baik-baik saja Dad, anak kita juga." Jawab Ica sambil tersenyum.


"Kamu selalu saja membuat Daddy khawatir, kamu tau? Daddy sangat takut sayang."


"Ica baik-baik saja Suami tampan ku, apa itu? Kamu menangis? Hanya karena aku? Ohh ayolah Daddy, aku baik-baik saja." Ucap Ica sambil mengusap sisa air mata di ujung mata Zen.


"Aku takut Bby.."


"Sini peluk dulu." Ica merentangkan tangan nya dan Zen langsung memeluk erat tubuh istri nya.


"Kata dokter, kandungan kamu lemah. Kamu harus banyak istirahat, tak boleh kelelahan dan tak boleh berfikir berat."


"Kandungan ku lemah, Dad?" Tanya Ica, melerai pelukan mereka.


"Iya Bby.."


"Tak masalah, aku bisa menjaga nya dengan baik. Anak ku kuat cerminan Mami dan Papi nya." Ucap Ica sambil mengusap lembut perut datar nya.


"Ya, dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat seperti kamu sayang." Zen mencolek hidung mancung istri nya dengan gemas.


"Jadi aku tak boleh kelelahan?"


"Iya istri ku sayang, kamu hanya perlu makan, tidur dan melayani ku. Itu pun kalau kamu merasa nyaman, kalau sakit Daddy takkan memaksa." Jawab Zen.


"Ohh itu pasti sangat membosankan Dad.." Keluh Ica.


"Lalu? Kamu ingin bagaimana sayang?"


"Aku ingin kuliah lagi Dad, boleh?" Tanya Ica dengan wajah yang di buat se memelas mungkin, agar Zen mengizinkan nya.


"Kamu bisa menunda pendidikan mu itu dan fokus pada kehamilan mu saja, setelah melahirkan kamu bisa kuliah lagi."


"Anak ku gimana?" Tanya Ica.


"Anak kita sayang, tentu nya Daddy akan menyewa Nanny terbaik untuk menjaga anak kita."


"Terserah Daddy saja lah." Pasrah Ica, berdebat dengan Zen takkan pernah membuat nya menang, pria itu punya seribu satu cara untuk memenangkan debat.


"Iya istri ku."


"Bagaimana dengan pesta di rumah, Dad?"


"Daddy punya banyak anak buah yang akan membereskan nya, termasuk biang kekacauan."


"Biang kekacauan? Siapa Dad?"


"Ibu tiri mu tadi mengamuk di luar, Sayang." Jawab Zen membuat Ica menganga.


"Jadi keributan itu di buat Ibu?"


"Siapa lagi sayang? Ibu tiri mu itu kan biang onar!" Jawab Zen ketus.


"Ya iya sih, Dad. Apa dia datang sama kak Mei?"


"Mana Daddy tau, Daddy hanya melihat nenek lampir itu tadi." Jawab Zen.


"Ohh begitu ya, kalau kak Azwar kemana?"


"Nebus obat di apotek kayak nya."


"Obat buat siapa?" Tanya Ica lagi.


"Yang sakit kan kamu, pake nanya lagi."


"Aku gak sakit Dad, aku udah sehat. Yuk pulang yuk." Ajak Ica, dia paling tidak suka minum obat, karena tak suka rasa nya.

__ADS_1


"Kamu harus tetep minum obat nya meskipun udah sembuh, Bby!" Tegas Zen, membuat Ica mengerucutkan bibir nya kesal.


"Uhh gemes!" Zen menguyel-uyel pipi kenyal Ica saking gemas nya.


"Sakit.." Ketus Ica sambil mendelik, membuat Zen terkekeh geli.


Cup..


Zen mencium bibir Ica dengan lembut nna mesra, seperti biasa.


Hingga suara pintu terbuka membuat Ica refleks mendorong Zen hingga terjungkal dari kursi yang di duduki. Zen meringis mengusap bokongg nya yang mencium keramik rumah sakit. Sedangkan Azwar dan Sintia mematung di tempat setelah melihat pemandangan yang tak seharusnya mereka lihat, meski pun tadi mereka sudah melihat sepasang suami istri itu berciuman saat di altar. Tapi ini kan di rumah sakit, ya beda lagi.


"Maaf, ganggu ya?"


"Banget!" Ketus Zen, pria itu masih meringis karena masih merasakan nyeri di pantatt nya.


"Sorry, kita cuma mau ngasih obat ini. Terusan mau pamit juga, nganterin calon pacar pulang."


"Yaudah sana pergi, ganggu aja!" Cetus Zen membuat Ica menatap suami nya itu dengan tajam.


"Gak sopan begitu sama kakak ipar, sayang!"


"Iya iya maaf, kalau mau pulang ya silahkan kakak ipar." Ucap Zen membuat Azwar terkekeh, karena pria itu sangat takut dengan Ica.


"Isti." Celetuk Azwar.


"Apaan itu isti bang?" Tanya Zen.


"Ikatan suami takut istri." Ucap Azwar lalu segera berlari keluar dari ruangan Ica, sebelum Zen mengamuk.


"Abang kamprett!" Pekik Zen, tadinya dia ingin melempar pria itu dengan sepatu nya, tapi Azwar keburu ngacir.


"Hahaha.." Ica tertawa melihat suami nya yang nampak begitu kesal karena di jahili oleh kakak nya.


"Kamu senang hmm?"


"Daddy lucu banget sihh.."


"Lucu lucu, dari awal kan kamu tau sendiri aku tuh gemesin." Bangga Zen.


"Ihh yang ada nyebelin bukan gemesin, kalo aja aku gak ingat kalo Daddy yang udah nyelamatin plus nolong aku waktu itu, udah sering aku lempar wajah tampan Daddy pake sendal saking ngeselin nya."


"Beneran? Waah, kalau aku tau kamu punya pikiran gitu, aku hukum kamu di kamar 24 jam!" Ucap Zen dengan tatapan tajam nya.


"Jangan menatap ku begitu Dad, aku tak takut!"


"Tapi maaf, ternyata pria menyebalkan ini yang jadi suami mu ya." Ucap Zen sambil menggelitik perut istri nya karena gemas.


Ica tertawa karena kegelian, tapi tak membuat Zen berhenti, bahkan saat wanita itu meminta berhenti.


"Daddy sakitt.." Pekik Ica sambil meringis, membuat Zen panik dan segera menghentikan gelitikan nya.


"Apa nya yang sakit Bby?"


"Hehe, nggak kok. Tapi Ica capek Daddy gelitik."


"Kamu tuh ya, gemesin banget jadi cewek. Untung sayang, kalo nggak Daddy udah lempar kamu dari balkon saat kamu nendang senjata Daddy."


"Masih inget ya Dad? Kan waktu itu Ica udah minta maaf, terus kan kita main semalaman saat itu."


"Iya juga sih, ngomongin itu jadi pengen. Ini kan malam pertama kita sebagai suami istri."


"Tapi ini di rumah sakit Daddy," Ica berusaha menolak saat Zen mulai meraba tubuh nya.


"Memang nya kenapa sayang? Tetap enak kok."


"Jangan Dad.."


Tapi terlambat karena Zen sudah bermain dengan leher dan dada nya, kalau sudah begini menolak pun Ica tak bisa, karena dia menikmati nya.


.....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Ihhh si Daddy๐Ÿ˜‚ masih ada vote gak? Sumbangin kesini yok๐Ÿ˜Š๐Ÿ’œ๐Ÿ”ฅ

__ADS_1


__ADS_2