
Di rumah sakit, kedua sahabat itu masih mengobrol hal random. Semua nya mereka bahas, sampai detail nya juga.
"Ohh iya gue lupa, Han. Partner Lu nama nya siapa?"
"Bimo." Jawab Hani sambil makan keripik.
"Bimo? Namanya tak asing, atau mungkin hanya perasaan ku saja, yang nama nya Bimo kan bukan cuma asisten nya Daddy." Batin Ica.
"Gimana kalo nanti setelah gue sembuh, kita double date?" Usul Ica.
"Boleh tuh, boleh banget. Nanti gue bilangin sama ayang, tapi dia kerja jadi palingan bisa juga malem atau hari minggu."
"Yeee Lu kira Daddy gue gak kerja gitu? Dia juga kerja kali."
"Gue kira pemilik perusahaan gak perlu kerja." Celetuk Hani.
"Terus yang kasih tanda tangan sama gaji karyawan siapa dong?"
"Lahh iya juga." Hani menepuk kepala nya, dia menjadi pelupa sekarang, entah kenapa.
"Lu jadi oonn setelah ngerasain terong ungu ya." Ledek Ica.
"Bukan main Ca, bahkan ini gue dah lecet pun gua gak bisa nolak kalau ayang minta lagi."
"Nah kan, candu banget rasanya."
"Nanti gue mau nyoba gaya laen, tapi ya nanti setelah gue ngumpulin mental dulu."
"Nape? Malu ya kalau agresif?" Tanya Ica, Hani menganggukan kepala nya.
"Pas gituan malu Lu otomatis bakalan ilang, nahh setelah main baru tuh ngerasa malu kalo inget."
"Kok Lu tau?"
"Gue pernah ada di posisi Lo, jadi partner ranjang tanpa cinta, cuma sebatas kebutuhan dari sebuah kesepakatan. Gue gak bisa nikmatin, tapi setelah gue ngerasa nyaman sama Daddy baru gue berani buat mimpin permainan, tapi ya besok nya muka gue merah terus kalo ketemu Daddy." Jelas Ica, sesekali bibir nya melengkung membentuk senyuman.
"Gue udah nyaman sih, tapi belum seberani itu Ca."
__ADS_1
"Coba Lu yang di atas, buat dia meracau nyebut nama Lo terus Han. Dia bakal muja Lo kalau Lo bisa muasin dia."
"Gue nyoba nanti aja deh,"
"Siapin diri dulu, beri dia pelayanan yang terbaik Han."
"Iya suhu."
Kedua nya kompak tertawa, Hani banyak belajar cara bermain dari sahabat nya yang lebih berpengalaman dalam berhubungan.
....
Di bangunan tua, seorang gadis tengah terlelap tubuh nya kotor, maklum lah sudah semingguan dia disini, tak di biarkan lepas sedetik pun dari ikatan kuat di kursi yang sedari awal dia duduki.
Gadis itu merasa lemas karena hari ini dia makan, kemarin-kemarin pun dia hanya di beri makan sekali sehari nya, sebagai gadis yang aawalnya doyan makan, makan sehari sekali sangat menyiksa nya.
"Bangun.." Seorang pria datang, menyipratkan air ke wajah nya.
"Sialan, sebenarnya kau siapa? Apa hubungan mu dengan Elang Dwi Anggara?"
"Tidak ada, hanya sebuah hubungan jauh." Jawab Pria itu, membuat wanita itu berdecih.
"Kau banyak bicara ternyata? Bagaimana kalau wajah yang mulus ini aku sayat agar wajah mu rusak? Dengan begitu pria tua tak tau diri itu akan meninggalkan mu setelah puas dengan tubuh mu." Pria itu menyeringai jahat, apalagi saat melihat ekspresi ketakutan dari wajah gadis di depan nya.
"Jangan lakukan itu, kumohon!"
"Wajah memelas yang tak mendukung dengan wajah angkuh mu itu, Nona Meisya."
Pria itu mengeluarkan pisau lipat dari saku nya, dia benar-benar mewujudkan ucapan nya, dia menyayat wajah Meisya hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan.
"Berisik!"
Betapa kejam nya pria itu, dia malah menaburkan garam di luka Meisya, bertambah kuat saja teriakan gadis itu.
"Selamat tinggal, besok aku kemari lagi. Selamat malam, bau anyir darah pasti akan memancing hewan buas kemari, bersyukurlah kalau besok kau masih hidup."
Pria itu pergi meninggalkan Meisya begitu saja setelah membuat luka menganga di wajah Meisya.
__ADS_1
Meisya menatap punggung tegap yang menjauh itu dengan kemarahan, dia tak tau siapa pria itu dan apa hubungan nya dengan Elang, pria yang selama ini dia layani selayaknya suami, dan pria itu pun memberi nya uang sebagai imbalan.
"Siapa pria itu sebenarnya? Elang, ku harap kau datang dan menyelamatkan ku!"
"Menyelamatkan? Aku rasa hal semacam itu takkan pernah terjadi, bahkan mustahil. Elang sedang sibuk mengurus istri nya yang sakit, jadi kau tau alasan nya sekarang kan?"
"Elang tak bisa menyalurkan nafsuu nya pada istri nya karena dia sakit, jadi dia mencari pelampiasan lain. Jadi kau harus tau diri, kau hanya di jadikan pelampiasan saja, tak lebih." Pria itu datang kembali dengan sepiring makanan yang dia bawa dengan baki.
"Hari ini aku sedang berbaik hati, jadi kau bisa makan." Pria itu meletakan piring itu di meja yang ada tepat di depan tubuh Meisya.
"Bagaimana cara nya aku makan jika tangan ku saja masih terikat?" Tanya Meisya, ini kesempatan yang bagus untuk melarikan diri.
"Kau pikir aku bodoh? Tentu tak semudah itu, aku tak peduli bagaimana cara mu makan." Pria itu tersenyum sinis dan pergi lagi, entah kemana.
Meisya menelan ludah nya kasar saat melihat sepotong daging yang tersaji di piring menguarkan aroma yang membuat perut nya semakin terasa lapar.
Terpaksa lah Meisya makan dengan menggunakan mulut nya secara langsung, tanpa bantuan tangan karena pria itu benar-benar tak melepaskan ikatan di tangan nya.
Meisya menangis dalam acara makan nya, bahkan untuk makan saja dia harus mengemis, dulu dia bisa kapan pun, dimana pun, dengan apapun semau nya, tapi kini semua nya seolah terbalik. Hidup Ica yang dulu susah menjadi senang, dan dia yang kesusahan sekarang.
....
Disisi lain, Azwar baru saja sampai ke rumah sakit. Dia berniat menjenguk adik nya, mumpung Zen tidak ada jadi dia bebas bicara dengan adik nya, tanpa harus merasa canggung karena di lihat mata tajam Zen.
Dia berpikir kalau Zen bekerja, pasti ruangan Ica akan aman. Tapi ternyata dia salah, di luar pintu nampak berjejer pria berseragam serba hitam sedang berjaga.
"Bagaimana bisa aku masuk ya?" Gumam Azwar.
"Bisa jika lewat nya bersama ku." Suara yang sangat tak asing, membuat Azwar menoleh kan wajah nya. Benar saja, Zen sudah berdiri dengan kedua tangan yang dia masukan kedalam saku celana.
"Mau? Kalau kau menolak, jangan mimpi kau bisa bertemu Ica ku!" Tegas nya, membuat Azwar kesal bukan main.
"Itu terserah padamu." Ucap Zen lagi, dia berjalan dengan gaya angkuh nya, di ikuti Asisten Bimo yang nampak menenteng tas dan sebuah kresek.
Tak ada pilihan lain, jadi Azwar mengikuti pria angkuh di depan nya, meski dengan umpatan-umpatan yang dia ucapkan di dalam hati, mana berani dia bicara langsung di depan Zen, bisa-bisa hidup nya takkan tenang.
....
__ADS_1
🌷🌷🌷
Karma is real, Meii🙄