Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 246 S2


__ADS_3

Setelah acara makan ramen, keduanya pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai sore, sebentar lagi Arian harus bekerja.


Sepanjang perjalanan, Meisya terus saja tersenyum dengan tangan yang tak pernah melepaskan sedetik pun pinggang Arian. Dia menyandarkan kepala nya di pundak kokoh Arian, dia merasa sangat bahagia padahal hanya di belikan jepit rambut dan ramen, namun moment yang tercipta di antara keduanya membuat Meisya sangat bahagia, dia merasa beruntung karena memiliki Arian di sampingnya.


"Cie yang habis jalan-jalan, di beliin apaan Neng?" Tanya Ari sambil tersenyum menyebalkan di mata Arian.


"Minggir Lo, gak usah godain cewek gua!" Sewot Arian, setelah Meisya melepas helm nya, pria itu segera menarik tangan wanita nya masuk ke dalam paviliun, menutup pintu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Entahlah, Arian selalu saja merasa kesal jika teman-teman nya itu menyapa Meisya, padahal mereka tidak genit sampai menggoda Meisya, tapi ya itulah Arian, dia posesif terhadap apa yang sudah jadi miliknya.


"Bby, ihh lepasin sakit!" Pinta Meisya, karena Arian menarik tangan nya cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Sayang, Maaf."


"Kamu mah selalu aja gitu, padahal mereka cuma nyapa doang, tapi kamu..." Belum selesai Meisya mengomel, bibirnya keburu di bungkam oleh ciuman lembut yang membuat nya diam seketika.


"Ngomel aja terus."


"Ya habisnya kamu tuh suka.." Lagi-lagi, Omelan Meisya harus terhenti karena Arian sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di atas bibir Meisya.


"Ngomel lagi? Aku cium lagi, sekalian aku bawa ke kamar."


Meisya memutar mata nya jengah, lalu memilih diam dan pergi ke dapur untuk mengambil air dingin, tenggorokan nya terasa kering setelah mengomeli Arian.


Namun siapa yang menyangka kalau Pria tampan itu juga akan mengintil nya ke dapur? Tangan nya langsung menarik pinggang ramping Meisya dan memaksa nya duduk di pangkuan nya, tentu saja itu membuat Meisya kurang nyaman.


"Bby, kenapa harus di pangku sih? Aku kan bisa duduk di kursi."


"Gak rela aku pantatt kenyal kamu nyentuh kursi." Astaga, sama kursi aja pria itu cemburu. Mengherankan sekali.


"Posesif nya calon suamiku."


"Soalnya kamu terlalu cantik, Sayang."


"Iya-iya terserah kamu. Ayo, mau ronde lagi?" Tawar Meisya dengan senyuman nakal nya.


"Jadi dong, ayo ke kamar."


"Kaki aku lemes nih." Rengek Meisya membuat Arian terkekeh, dia pun langsung menggendong Meisya ala bridal style.


Meisya melingkarkan kedua tangan nya di leher Arian, kedua nya terkekeh bersama. Meisya membantu membukakan pintu, setelah mereka masuk Arian menutup nya dengan menggunakan lutut nya.


Dan ya, permainan tambahan sesuai janji tadi pagi pun terjadi dengan hebat nya. Membuat kamar yang semula rapih itu saat ini berubah menjadi seperti kapal pecah, berantakan. Bahkan selimut dan bantal sudah tak berada di tempatnya lagi, semua nya beterbangan entah kemana.


Pakaian berserakan di lantai, itu menjadi saksi bagaimana hebat nya pertarungan ketiga yang di lakukan sepasang kekasih di sore hari ini.


....

__ADS_1


Malam harinya, Arian sudah siap dengan seragam serba hitam nya, dengan alat komunikasi di telinga dan di saku depan.


"Bby, aku kerja dulu ya."


"Masih sore ini, Yang. Kok udah mau berangkat aja?" Tanya Meisya, perempuan itu baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil.


"Ada sesuatu yang mau aku omongin sama Tuan Zen."


"Ohh yaudah, hati-hati kerja nya Sayang. Semangat buat nikahin aku."


"Siap ayangku." Arian mengecup singkat kening Meisya lalu pergi ke luar paviliun tempatnya tinggal dengan perasaan berbunga-bunga.


"Selamat sore Mas Arian." Sapa Ari yang sedang memakai sepatunya.


"Sore Mas Bejo." Balas Arian, namun ekspresi wajah Ari langsung asam saat Arian memanggil nya Bejo.


Bejo adalah nama panggilan dari Arian untuk Ari. Saudara kembar berbeda bibit dan usia nya.


"Kok sore? Mau kemana dulu?"


"Biasa, ketemu bapak negara." jawab Arian sambil tersenyum penuh kepuasan. Sesama AB, sudah biasa memanggil Zen dengan sebutan Bapak Negara, karena dia menggaji semua AB yang bekerja di mansion ini.


"Yaudah Sono, ntar jangan lupa kumpul di tempat biasa." Peringat Ari.


"Siap, gue duluan."


"Permisi." Zen sudah menunggu di meja billiard, ya pria itu mengajak Arian untuk bermain billiard, permainan orang kaya.


"Kau sudah datang, ayo kita bermain." Ajak Zen sambil melempar tongkat ke arah Arian dan dengan sigap pria itu menangkap nya.


"Jadi, bagaimana rencana mu bersama Meisya? Jangan terlalu lama!" Tanya Zen memulai pembicaraan.


"Meisya sudah setuju untuk menikah meski tidak mendapat restu dari ibunya, Tuan."


"Bukankah itu bagus? Jadi kau menunggu apa lagi?" Tanya Zen lagi, mata nya sesekali menatap pria itu lalu kembali menatap meja billiard dengan seksama.


"Dua Minggu Tuan, saya ingin menikahi Meisya dalam waktu dua Minggu."


"Kau butuh bantuanku?"


"Tentu saja Tuan."


"Apa yang bisa aku bantu untuk anak buah kepercayaan ku?" Tanya Zen santai, dia membidik bola dengan tepat sasaran.


"Saya ingin meminjam gaun pernikahan milik Nona Ica untuk pernikahan saya dan Meisya." Pinta Arian, dia tak yakin bisa membelikan Meisya gaun pengantin, jadi meminjam adalah jalan terbaik menurut nya saat ini.


"Meminjam? Ckkk, kau tak punya uang? Serahkan padaku, aku akan memesankan gaun yang hampir sama dengan milik istriku!"

__ADS_1


"T-api tuan, meminjam saja itu sudah cukup. Lagipun gaun pernikahan hanya di pakai satu kali."


"Pernikahan juga terjadi sekali seumur hidup Arian, jadi sebisa mungkin kau harus mengusahakan yang terbaik untuk pengantinmu, paham?"


"Baiklah Tuan." Pasrah Arian.


"Aku akan menyulap taman belakang menjadi tempat pesta, jangan membantah. Meisya adalah kakak ipar ku!"


"Baiklah, terserah tuan saja. Tapi bagaimana dengan ibu Santi, apa tuan akan membebaskan nya?" tanya Arian pelan. Jika menyangkut wanita jahat itu, Zen seringkali emosi.


"Tidak, jika bisa mencegah kenapa harus mengobati Arian? Biarkan saja dia di penjara."


"Tapi, pasti dia akan sangat ingin melihat putrinya menikah." Bujuk Arian.


"Kau tahu seperti apa aku, Arian. Jangan mencoba membujuk ku, sekali tidak tetap tidak, kau paham?"


"Baik tuan." Jawab Arian pelan, kedua pria itu pun kembali melanjutkan permainan billiard mereka dengan santai dan tenang.


.....


🌷😍🌷🌷


hai-hai, hari ini author bawa rekomendasi novel punya temen author lagi, jangan lupa mampir ya bestie😍


blurb👇



NERAKA DALAM PERNIKAHAN


(Elprida Wati Tarigan)



Anatasya hidup bagaikan di neraka dalam pernikahannya. Sifat suami Ana yang begitu manja dan pemalas bahkan memiliki tempramental yang tinggi membuat hidup Ana semakin menderita.


Siapa sangka sosok pria yang dulu berjanji akan membahagiakannya dan mau menerima kesalahannya di masa lalu akan selalu mengungkitnya dan membuat hidup Ana semakin menderita.


Hingga akhirnya Ana kembali bertemu dengan sahabatnya di masalalu saat keadaan Ana begitu tragis.


Hingga akhirnya Rangga sahabat Ana memilih untuk menolong Ana agar keluar dari Neraka yang di bangun oleh suaminya sendiri.


Tapi seseorang di masa lalu Ana kembali muncul.


Apakah Ana memilih bertahan dengan suaminya yang kejam atau dia lebih melilih sahabat atau mantanya?


__ADS_1


__ADS_2