
Di kost an, suasana panas pun sedang terjadi. Dimana sepasang suami istri itu tengah mencari keringat dengan bergerak maju mundur di atas tubuh polos sang wanita, siapa lagi kalau bukan Azwar dan Sintia. Keduanya sedang menikmati nikmat nya penyatuan, dengan gerakan cepat dia terus memacu tubuhnya. Membuat sang wanita terus mendesahh nikmat.
"Aaahh Mas.."
"Kenapa sayang?" Tanya Azwar, tanpa menghentikan gerakan tubuhnya.
"Ganti posisi yuk, aku pengen di atas." Pinta Sintia membuat Azwar langsung menghentikan gerakan nya.
"Tumben mau di atas, biasanya mageran."
"Jadi ceritanya gak boleh nih?" Tanya Sintia lagi.
"Boleh dong Sayang, boleh." Jawab Azwar dengan cepat, dia langsung mencabut senjata nya dari lubang hangat sang istri. Sintia bangkit dari rebahan nya dan langsung duduk di pangkuan suaminya.
"Perut kamu gemesin lho Yang."
"Baru hamil 3 bulan tapi udah buncit banget ya, Mas." Ucap Sintia, dia tersenyum manis saat sang suami mengelus perut buncit nya.
"Kan isinya dua, Yang."
"Isi apa Mas?" Tanya Sintia sambil berusaha memasukan kembali pisang sang suami ke dalam sarang nya.
__ADS_1
"Isi debay lho Sayang, kan hamil nya kembar jadinya baru 3 bulan itu udah buncit."
"Ayo bantuin masukin, kok susah ya." Pinta Sintia, dia kesusahan memasukan kembali senjata sang suami.
Azwar tersenyum lalu mengarahkan senjata api nya ke dalam inti sang istri. Dan benar saja, berkat bantuan nya senjata itu bisa melesak masuk dengan lancar nya.
"Uhhhh..." Sintia melenguuh pelan lalu mulai menggerakkan tubuh nya naik turun.
Bunyi ciplakan kulit bersentuhan yang berkeringat mewarnai suasana siang hari yang sejuk karena hujan deras terus mnegguyur kota ini sejak beberapa hari ini. Dan kebetulan sekali ini weekend jadi seharian ini dia bisa menyalurkan hasrattnya pada sang istri, mumpung dia mau di masuki.
Di rumah lain, Risya dan Brian sedang menonton televisi, dengan Brian yang berbaring di pangkuan sang istri. Tangan Risya terus bergerak lembut mengusap kepala Brian yang tersuru di perutnya.
"Sayang, kita belum malam pertama lho." Celetuk Risya membuat Brian mendongak menatap wajah sang istri.
"Ya kan pertama setelah kita nikah, aku gak salah lho mau gituan setelah kita nikah, tapi kamu nya malah maksa aku layani nafssu kamu, sampe kita bolos kuliah." Ucap Risya membuat Brian terkekeh, jika mengingat hal itu selalu membuatnya senyam-senyum sendiri, dia ingat saat memaksa Risya untuk menyerahkan mahkota nya, dengan segala bujuk rayu akhirnya pecah sudah mahkota itu oleh senjata Brian yang ganas itu.
"Tapi kamu kan juga ketagihan, Sayang. Kamu minta terus setelah tahu rasanya enak."
"Ihhh ayang.." Rengek Risya merasa malu, wajahnya memerah.
"Ayo, siang pertama nya dimana?" tanya Brian, bangkit dari rebahan nya dan langsung meraup buah kenyal di dada Risya dengan tangan nya.
__ADS_1
"Aku terserah kamu aja." Brian menyeringai, dia langsung melucuti pakaian Risya dan juga pakaian nya, lalu menarik tangan Risya ke dapur.
"Disini?" Brian mengangguk, dia menaikan tubuh sang istri ke meja makan dan langsung menyerang bibir dan buah kenyal miliknya.
"Sayang.."
"Gak tahan ya?" Tanya Brian, membuat Risya langsung menganggukan kepala nya. Baru ciuman saja milik Risya sudah kebanjiran.
Brian menurunkan Risya dan mengangkat sebelah kaki Risya dan menahan nya dengan sebelah tangan. Risya memekik nikmat saat senjata milik Brian menerobos masuk ke dalam lubang sempit miliknya.
"Aaahhh.." Lenguhh Risya, saat Brian mulai menggerakan pinggang nya maju mundur di tempatnya.
"Enak sayang?"
"Sangat, Sangat enak." Jawab Risya, dia terengah-engah karena tubuhnya terguncang.
Brian terus menggerakan pinggang nya maju mundur, tangan nya yang nakal terus meremass buah kenyal nan besar itu dengan kedua tangan nya, bibir nya juga tak tinggal diam, dia mencium bibir Risya dan sesekali menurunkan ciuman nya ke leher hingga meninggalkan beberapa jejak kepemilikan.
Keduanya terus berpacu dengan waktu dalam keringat yang mengucur deras karena olahraga nikmat yang keduanya lakukan. Sungguh ini semua membuat nya terus bernafssu untuk melakukan ini lebih lama.
......
__ADS_1
π·π·π·π·π·