Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 138


__ADS_3

Ica sedang berganti pakaian, sekitar setengah jam lagi pernikahan nya dengan Zen akan di laksanakan, dia tengah di landa kegugupan luar biasa hingga muntah-muntah.


"Aduhh mau kawin malah muntah-muntah beb." Ucap Hani sambil mengusapkan minyak kayu putih di leher dan tengkuk Ica.


"Gugup gue Han, sampe mual-mual gini." Jawab Ica lemas. Sedangkan Risya, gadis itu sedang memanggil Zen untuk mengatakan kondisi Ica.


"Bawa santai aja Bestie, bukan nya ini yang Lo tunggu?"


"Iya, tapi mana gue tau pas nikah lagi hamil muda gini." Jawab Ica lirih.


"Gapapa Ca, udah biasa kan? Lu harus seneng soalnya Daddy Lo mau tanggung jawab."


"Gila aja kalau dia gak mau tanggung jawab, gue sabet leher nya." Ketus Ica.


"Lu Meina kan? Dia mati karena gagal aborsi."


"Iya, cowok nya bangsatt gak mau ngakuin anak yang di kandung Mein kan?"


"Sampe sekarang cowok nya gak ketemu, gak tau siapa." Ucap Hani.


"Malah ghibah orang yang dah mati, udah ahh dia udah tenang di alam sana."


"Ohh iya Ca, Lu gak mau make up dikit aja?" Tanya Hani.


"Make up in ya? Males gue, lemes banget."


"Oke, gue bakal sulap Lu jadi bidadari. Tapi apa Daddy Lo gak nyewa MUA?" Tanya Hani.


"Gue yang gak mau, males lah. Gak di make up gue udah cantik."


"Iya itu gak usah di ragukan lagi."


Hingga perbincangan kedua sahabat itu terhenti saat pintu terbuka cukup keras, di susul dengan Zen yang masuk dengan tubuh yang di penuhi keringat. Bisa di pastikan pria itu habis berlari, nafas nya yang tersengal membuat Ica yakin.


"Daddy.."


"Bby, kamu gak kenapa-napa sayang? Kata Risya kamu muntah-muntah? Bukan nya kamu udah muntah-muntah tadi pagi?" Cecar Zen sambil memeriksa tubuh calon istri nya.


"Gue keluar dulu deh, ntar gue kesini lagi." Ucap Hani, tentu dia khawatir kehadiran nya akan mengganggu Ica dan Zen.


"Yaudah, jan lama." Peringat Ica, Hani hanya memberi isyarat dengan tangan nya.


"Bby.."


"Iya Daddy, Ica baik-baik aja. Cuma sedikit gugup, jadi nya mual." Jawab Ica.


"Tapi dedek gapapa?"


"Iya dia gapapa Dad," Jawab Ica sambil meletakan tangan Zen di perut nya.


"Tapi Mami nya pucat." Zen membingkai wajah Ica lalu mengecup basah pipi calon istri nya.


"Ica gapapa Dad."


"Kamu yakin? Jangan buat Daddy khawatir oke? Apa harus pernikahan kita di tunda?"


"Tidak Dad, Ica baik-baik saja. Jangan batalkan pernikahan ini." Ucap Ica.


"Kalau begitu kamu harus baik-baik saja ya? Minum obat dulu, setelah itu bersiap-siap. Pemuka agama sudah dalam perjalanan kesini di jemput Bimo."


"Iya Daddy tampan ku," Ica menangkup wajah Zen dan mengecup bibir nya singkat.


"Kalau begitu Daddy keluar dulu ya, kamu sama Hani dulu. Kalau ada apa-apa hubungi Daddy."


"Iya Dad." Jawab Ica dengan senyum manis nya.


Zen pun keluar dari ruangan itu setelah memastikan kondisi Ica baik-baik saja. Tak lama, Hani kembali masuk dengan menenteng tas berisi peralatan make up, dia akan memake over Ica habis-habisan, hingga membuat orang pangling.


"Busett, banyak bener ini alat nya, Han. Lu beli?"


"Gue minjem, ya beli lah. Cowok gue yang beliin ini semua." Jawab Hani, mulai memakai kan gel dingin di wajah Ica yang sudah di bersihkan.


"Okey lah, buat gue secantik mungkin. Awas kalo gak cantik gue gigit pala Lo."

__ADS_1


"Tenang, serahin aja tugas buat Lo cantik sama gue!"


.....


Di depan restoran, Azwar sedang menunggu Sintia selesai bekerja.


Tak lama, perempuan itu keluar dengan menenteng tas dan jaket milik Azwar yang pria itu pinjamkan tadi pagi.


"Udah lama?"


"Baru aja, udah selesai kerja nya?" Tanya Azwar.


"Udah kok, yaudah anterin dulu pulang ganti baju. Setelah itu kita ke rumah Tuan Zen kan?"


"Iya Sin, yuk." Azwar menyodorkan helm nya dan Sintia duduk menyamping seperti tadi pagi di jok belakang, dengan tangan yang memegang pinggang Azwar.


Azwar tersenyum manis, hanya di pegang pinggang nya saja dia sudah sangat bahagia, semoga saja Sintia bisa kembali seperti dulu.


Azwar melajukan motor nya menjauhi restoran, tak butuh waktu lama kedua nya sampai di rumah kontrakan Sintia.


"Aku mandi dulu terus ganti baju, kamu masuk dulu yuk."


"Aku di luar aja, Sin."


"Ayo masuk, jangan duduk di luar." Kekeuh Sintia, membuat Azwar mau tak mau menurut dan duduk di ruang tamu. Kontrakan Sintia cukup luas, dan sangat rapih. Dari dulu perempuan itu memang menyukai kebersihan, tak heran jika suasana rumah nya sangat bersih dan wangi.


"Mau ngopi dulu? Aku ada stok kopi, tapi bukan kopi hitam."


"Gak usah, air putih aja Sin." Jawab Azwar, dia tak merepotkan Sintia.


"Oke, aku ambilin dulu." Sintia pergi ke dapur dan mengambilkan air untuk Azwar lalu kembali dan meletakan segelas air putih di meja.


"Aku mandi dulu, kamu disini aja. Kalo bosen nyalain aja televisi, remot nya di lemari."


"Oke." Jawab Azwar singkat, Sintia pun pergi dengan membawa handuk di tangan nya.


....


Singkat nya, Azwar dan Sintia sampai di mansion Zen. Sintia menganga melihat rumah besar nan megah yang ada di depan mata nya.


"Gede banget rumah nya." Jawab Sintia.


"Namanya juga rumah sultan, ayoo kita masuk." Ajak Azwar, Sintia refleks membuka sendal nya.


"Napa di buka? Pake aja."


"Boleh yah? Ini ubin nya kinclong banget masalah nya."


"Lihat tuh tamu yang dateng, mereka pake alas kaki gak nyeker kek kamu."


"Ohh gitu ya, duhh aku malu-maluin."


"Gapapa kok, ayo masuk." Ajak Azwar lagi. Sintia meraih uluran tangan Azwar dan menggenggam nya, dia gugup. Kenapa Azwar harus mengajak nya ke pernikahan orang kaya sih?


Azwar di sambut baik oleh Bimo dan Brian, membuat Sintia tersenyum canggung.


"Wiihh siapa bang? Cantik bener." Tanya Brian.


"Calon pacar, napa? Jan macem-macem."


"Ya elahh, nanya doang bang. Lagian gue dah punya ayang Risya." Jawab Brian.


"Saya Bimo, asisten sekaligus sekretaris nya Tuan Zen." Ucap Bimo memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan nya, mengajak bersalaman.


"Saya Sintia." Jawab Sintia menjabat tangan Bimo.


"Jangan lama-lama salaman nya." Cetus Azwar membuat Bimo mendelik.


"Posesif amat, baru calon juga." Malah Brian yang nyeletuk menjawab Azwar.


"Kalau Bimo sih gue yakin dia pria setia, nah Elu? Tampang buaya darat gini. Untung Risya mau sama cowok kayak Lu."


"Hehh bang, gue bukan buaya darat ya, gue buaya air. Jelas Risya mau, soalnya gue ganteng maksimal." Bangga Brian.

__ADS_1


"Terlalu kepedean." Cibir Bimo membuat kepercayaan diri Brian runtuh seketika.


"Eehh udah, acara mau di mulai Yok duduk disana."


Mereka pun mengangguk dan duduk di dekat altar sementara yang dibuat untuk mengucap janji sebentar lagi.


"Bang, jemput Ica. Dia di kamar atas." Ucap Bimo. Azwar menganggukan kepala nya dan berdiri dari duduk nya.


"Aku tinggal sebentar gapapa ya? Ada Brian sama Bimo, nanti ada Hani sama Risya yang nemenin kamu."


"Iya, gak usah khawatir."


"Nitip calon pacar gue ya, jangan di sentuh. Apalagi Lu, Bri."


"Iya iya bang, gue gak bakalan nyentuh cewek Lu." Jawab Brian.


Azwar pun menyunggingkan senyum manis nya sebelum pergi menjemput pengantin perempuan.


Di kamar, Ica sudah selesai di make up, dia mengenakan gaun sederhana berwarna putih dengan penutup kepala yang Hani bawa.


"Cantik banget bestie nya aku." Puji Hani.


"Sampe pangling aku." Celetuk Risya juga.


"Aduhh gue kok agak pusing ya?"


"Minum dulu air gula dulu nih." Risya menyodorkan air minum yang di beri gula merah.


"Oke, gue siap."


"Cantik nya adik kakak, Yuk semua udah siap." Ajak Azwar.


"Iya kak, duhh aku langkahin gapapa ya?"


"Gapapa dong sayang, kamu adik kesayangan kakak. Kamu berhak bahagia, setelah resmi jadi istri nanti, kurangi sedikit sikap manja nya ya? Nurut sama suami, jangan keras kepala. Kakak selalu doain yang terbaik buat kamu adik kesayangan."


"Terimakasih kakak, tapi kak Mei gak datang. Padahal Daddy udah undang mereka." Ucap Ica sendu.


"Gapapa, gak usah mengharapkan orang lain buat ikut di acara bahagia kamu, cukup kamu dan calon suami, itu sudah cukup."


"Iya kak,"


"Yuk, gandeng lengan kakak." Ica menurut dan menggandeng lengan kakak nya. Mereka pun berjalan perlahan dengan Hani dan Risya yang berjalan perlahan di belakang, mengikuti pengantin


Suara riuh mendadak hening, tatapan mata mereka tertuju pada pengantin wanita yang berjalan pelan bersama kakak nya, juga kedua teman nya di belakang.


Zen tersenyum dengan tangan yang bersiap menyambut kedatangan Ica, gadis yang akan resmi jadi istri nya beberapa menit lagi.


Ica tersenyum dari balik penutup kepala nya, dia melihat sesosok pangeran yang berdiri di ujung karpet merah dengan senyum yang terkembang di kedua sudut bibir nya.


Azwar dan Zen berhadapan, pria itu melepaskan tangan Ica dan menyatukan nya dengan tangan Zen.


"Mulai saat ini, aku menyerahkan adik kesayangan ku untuk kau jaga seumur hidup, cintai dia dengan setulus hati. Tapi ingat, sekali saja kau menyakiti adik ku, aku akan membawa nya pulang."


"Aku akan menjaga Ica ku semampu ku, aku juga akan mencintai Ica ku seumur hidup, hanya dia satu-satunya wanita yang akan aku cintai." Jawab Zen.


"Aku pegang kata-kata mu, Tuan Azzendra." Ucap Azwar dengan senyum nya, lalu pergi meninggalkan sepasang insan itu dan memilih duduk di samping Sintia.


Dia menyaksikan adik nya di pinang oleh laki-laki yang di pilih adik perempuan nya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Selesai sudah tugas nya menjaga adik nya, dia sudah bersama pria yang tepat saat ini. Pria yang bertanggung jawab, mampu menjaga adik nya dengan baik dan yang terpenting dia meratukan adik nya.


"Kamu nangis? Harus nya kamu bahagia, adik kamu udah bahagia sama pria pilihan nya."


"Percayalah, ini air mata kebahagiaan Sin. Aku kakak yang gagal menjaga adik nya sendiri, tapi orang lain berhasil menjaga nya." Ucap Azwar, beberapa kali dia mengusap ujung mata nya.


"Tak ada istilah gagal Azwar, jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu kakak yang baik," Sintia mengulurkan selembar tissu ke tangan Azwar.


"Terimakasih Sintia." Jawab Azwar. Pria itu mengambil tissu itu.


.....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Yee nikah juga๐Ÿ˜ author gak nyebar undangan soalnya gak ada acara nguah ya, nanti nguah nya di resepsi aja๐Ÿ˜‚ jangan lupa ngamplop dengan vote yang banyak!๐Ÿ’œ๐Ÿ”ฅ

__ADS_1



__ADS_2