
Bimo duduk santai di kursi meja makan, dia menyaksikan pemandangan yang membuat hati nya menghangat, apalagi kalau bukan melihat Hani yang sedang melayani nya seperti layaknya istri pada suami nya.
"Kenapa sayang? Ayo di makan." Ucap Hani, karena pria itu tak menyentuh makanan nya, malah terus menatap nya sambil mesem-mesem.
"Eehh iya, Honey."
"Kamu kenapa? Lihatin aku segitu nya, Yang."
"Enggak kok, cuma merasa beruntung aja aku punya kamu." Jawab Bimo, mulai mencampur makanan di piring nya, lalu menyuap nya dengan suapan besar.
"Enak sayang?"
"Masakan kamu selalu enak, Honey." Jawab Bimo, dia mengacungkan jempol nya sambil tersenyum.
"Makan yang banyak sayang."
"Kamu gak makan?" Tanya Bimo, karena Hani tak terlihat akan makan.
"Enggak deh, beberapa hari ini aku gak nafsuu makan Yang. Bawaan nya lemes terus, pusing juga." Keluh Hani.
"Sudah datang bulan belum?" Tanya Bimo iseng, dia tak ikut campur tangan dalam hal ini. Tapi memang sudah hampir dua bulan ini dia tak berpuasa wajib selama seminggu itu.
Hani melihat kalender dengan panik, dia mengingat terakhir kali datang bulan adalah bulan kemarin, sedangkan bulan ini dia belum menstruasi dan sekarang sudah akhir bulan.
"Ohh god, tak mungkin aku hamil kan?" Gumam Hani sambil menutup mulut nya.
"Kenapa Honey?" Tanya Bimo heran saat melihat wajah Hani yang terlihat murung.
"Setelah makan, coba beli testpack ya Sayang."
"Lho memang nya kenapa?"
"Aku telat datang bulan." Jawab Hani lirih, membuat Bimo yang sedang makan itu tersedak, hingga wajah nya memerah.
"Minum sayang.." Hani memberikan air minum pada Bimo dan pria itu langsung menenggak nya hingga tandas.
"Telat berapa minggu sayang?"
"Ya satu bulan."
"Kamu hamil?" Tanya Bimo lagi.
"Mana aku tau Yang, makanya aku nyuruh kamu beli testpack." Jawab Hani pelan.
"Baiklah, aku beli sekarang."
"Makan nya belum habis, sayang."
"Nanti aku lanjutin, Honey!" Jawab Bimo sedikit berteriak karena pria itu sudah pergi menjauh.
"Kalau kamu memang hadir di rahim Mama, Mama pasti akan sangat menyayangi kamu, Nak." Ucap Hani sambil mengusap perut nya yang masih datar, entah dia hamil atau tidak. Tapi sejauh ini dia tak mengalami mual-mual atau gejala kehamilan lain, hanya tak bernafsuu makan dan lemas setiap waktu.
Bimo mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, dia tak sabar ingin mengetahui kabar membahagiakan. Apa Hani hamil atau tidak, dia sungguh tak sabar.
Bimo menghentikan mobil nya di apotik terdekat, tak tanggung dia membeli 5 testpack takut saja kalau yang lain tidak akurat bisa di cek lagi kalau ada cadangan nya.
Setelah mendapat barang yang dia cari, Bimo langsung meluncur pulang. Dia berjalan cepat dan berdiri santai di dalam lift, menunggu benda persegi itu membawa nya ke unit apartemen nya.
Tak lama, dia sudah sampai dan segera masuk ke apartemen nya. Dia melihat Hani masih duduk di meja makan, dengan ekspresi wajah yang tak bisa di tebak, berbeda dengan Bimo yang nampak sangat antusias.
"Ini sayang, cepat test dulu."
"Iya sayang." Jawab Hani, lalu mengambil salah satu testpack itu dan membawa nya ke kamar mandi.
Bimo mondar mandir di luar pintu, dia menunggu kabar yang baik tentang kehamilan Hani. Ya, dia sangat berharap kalau Hani benar-benar hamil buah hati mereka.
__ADS_1
Ceklek..
Hani keluar dengan wajah yang berbinar, begitu juga Bimo dia segera merebut testpack Hani dan seketika ekspresi nya berubah sendu.
Garis satu, hanya garis satu. Tak ada garis kedua, atau pun garis samar. Tak ada sedikit pun.
"Kamu gak hamil, Honey?"
"Nggak kok, berarti emang bulan ini aku telat aja." Bimo melempar testpack itu dan pergi ke kamar nya.
"Sayang, katanya mau di lanjutin makan nya. Kok malah ke kamar sih?" Tanya Hani.
"Gak nafssu!" Jawab nya singkat, pria itu berjalan sambil menundukan wajah nya.
Hani kembali duduk, dia tau Bimo sedih karena dia tak hamil. Sudah lama laki-laki itu meminta nya untuk mengandung, tapi dirinya belum siap saat ini. Tapi setelah melihat ekspresi sendu pria itu, Hani merasa sedih.
Hani hendak membereskan piring bekas makan Bimo, tak sengaja dia menyenggol test pack yang tadi di lempar Bimo. Testpack itu terjatuh, Hani mengambil nya. Ternyata ada satu garis samar yang baru terlihat.
"A-ku hamil? Tapi masih samar, nanti pagi-pagi aku test lagi. Aku tak mau membuat Bimo kecewa."
Hani melanjutkan pekerjaan nya, membereskan piring dan mencuci nya, lalu menyusul Bimo di kamar. Ternyata pria itu sedang duduk di kursi dekat jendela..
"Sayang.."
"Ya Honey, kenapa?" Bimo berbalik dan menatap lekat perempuan di depan nya.
"Kamu kecewa, sayang?"
"Kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Tak apa-apa kita bisa mengusahakan nya sayang." Jawab Bimo.
"Tapi kalau aku hamil, kamu senang kan?"
"Tentu saja, aku sangat senang sayang."
"Kamu ingin anak perempuan atau laki-laki?" Tanya Hani.
"Kita tidur sayang?"
"Ayo, kita tidur. Aku ingin memeluk mu, disini." Jawab Bimo, dia berbaring di ranjang dan menepuk dada nya agar Hani tidur disana.
Hani ikut berbaring dan mereka pun tertidur dengan saling berpelukan mesra.
Pagi hari nya, Hani merasakan ada yang aneh dengan tubuh nya, tiba-tiba saja dia merasa mual. Lalu berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Tapi hanya cairan bening yang keluar, terasa pahit di tenggorokan nya.
"Sebaiknya aku test lagi, barangkali aku benar hamil." Gumam Hani, dia mengambil test pack itu dan memakai nya.
Benar, dua garis merah yang begitu jelas. Dia tersenyum menatap benda itu.
"Kamu benar-benar hadir Nak, sehat-sehat ya Nak. Kita kejutkan Papa nanti." Ucap Hani. Dia mengusap perut nya dengan sayang.
"Yang.." Bimo memanggil nya dari luar. Hani menyembunyikan testpack itu ke dalam baju nya dan segera keluar sebelum pria itu curiga, ya dia ingin memberi kejutan pada Bimo.
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Hani bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku dengar suara muntah-muntah, kamu muntah?" Tanya Bimo.
"Nggak kok yang, memang nya kenapa? Aku cuma kebelet pipis doang." Jawab Hani berusaha setenang mungkin.
"Ohh ya sudah, masak sarapan gak?"
"Masak dong Yang, bentar ya. Kamu ke kantor hari ini kan?" Tanya Hani sambil mengusap wajah Bimo yang nampak kusut.
"Iya yang, harusnya aku libur. Tapi di rumah juga males, sepi. Mendingan aku kerja, nyari uang buat nikahin kamu."
"Ohh okey, nanti siang aku mau ke rumah Ica boleh?"
__ADS_1
"Pergi aja, tapi hati-hati ya." Peringat Bimo.
"Iya sayang, aku masak dulu ya. Kamu mandi aja dulu," Bimo mengangguk dan segera melakukan apa yang di perintahkan oleh pawang nya itu.
Hani menatap punggung Bimo yang menghilang saat pria itu menutup pintu, ada rasa kasihan saat melihat nya nampak murung.
"Maafkan aku sayang, ini semua aku lakukan agar nanti kamu terkejut." Ucap Hani, lalu pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Singkat nya, Bimo telah selesai bersiap dan langsung sarapan masakan Hani, pria itu berubah menjadi pendiam. Tak banyak bicara, hanya seperlunya, itu membuat rasa bersalah Hani semakin besar. Hampir saja dia tak tahan dan mengucapkan kalau dia hamil.
"Aku sudah selesai sarapan nya, hati-hati di rumah."
"Iya sayang, aku mau bersihin rumah dulu setelah itu mau ke rumah Ica."
"Ya, aku pergi dulu." Bimo pergi dengan menenteng jas di lengan nya, bahkan pria itu lupa mengecup kening Hani, padahal biasa nya tak pernah lupa melakukan hal itu.
Tapi Hani tak ambil pusing, dia segera melakukan tugas nya dan ingin berdiskusi bersama Ica tentang rencana nya ingin memberi kejutan pada Bimo.
Siang harinya, Hani berjalan kaki menuju rumah sahabat nya, jarak dari apartemen ke rumah Ica cukup dekat, jadi Hani memutuskan berjalan kaki saja.
Tapi sampai di gerbang rumah Ica, dia melihat mobil Bimo masih ada di parkiran.
"Nona Hani,"
"Ica nya ada pak?" tanya Hani pada satpam yang berjaga itu.
"Nyonya ada di dalam, Nona."
"Baiklah, saya kesana dulu." Hani pergi dan masuk ke dalam mansion milik Zen, suami sahabat nya itu. Dia melihat Ica sedang mengobrol dengan kakek Arhan.
"Permisi.."
"Aaaaa Hanii, kenapa kesini gak bilang-bilang." Tanya Ica lalu memeluk sahabat nya itu dengan erat.
"Pengen main aja, udah lama."
"Kemaren?"
"Beda lagi dong Ca."
"Kamu kenapa?" Tanya Ica saat melihat raut wajah Hani yang nampak sendu.
"Curhat yuk?" Tawar Ica, membuat Hani langsung mengangguk.
"Gimana kalau kita bicara nya di kebun stroberi, sambil makan buah."
"Boleh,"
"Kek, Ica mau ke kebun belakang sama Hani ya."
"Iya, hati-hati ya Nak." Pesan kakek Arhan.
Kedua perempuan itu pun pergi ke kebun buah itu, dengan tangan yang saling bertautan.
"Sekarang cerita, kamu kenapa?''
"Aku hamil, Ca."
"Hah, a-apa?"
......
🌷🌷🌷🌷..
__ADS_1
yeeee selamat jadi bumil juga🤭🤭🤭