
Di apartemen, Hani dan Bimo sedang bercumbu mesra. Setelah kesibukan selama 3 hari berturut-turut karena Bimo yang di tugaskan untuk menyiapkan acara lamaran tuan nya itu, membuat pria itu tak punya waktu untuk bermesraan dengan kekasih nya, belum lagi besok dia di sibukan kembali dengan mencari pemuka agama yang bersedia di undang ke rumah untuk acara pernikahan Zen dan Ica yang di adakan secara sederhana.
"Honey, aku pengen. Boleh gak?" Tanya Bimo setelah ciuman mereka terlepas.
"Boleh sayang, aku juga merindukan nya." Jawab Hani manja, membuat Bimo gerak cepat menjatuhkan Hani ke kasur empuk lalu menindih nya.
Bimo kembali mencumbu Hani, di tengah malam dengan cuaca lembab sehabis turun hujan membuat keadaan sangat mendukung untuk bermesraan.
Bimo memulai penyatuan dengan perlahan namun penuh gairahh. Dia bergerak maju mundur secara perlahan, menikmati sensasi lubang sempit yang terasa menjepit senjata nya.
"Sayang, bergerak lebih cepat bisa?" Pinta Hani, Bimo tersenyum dan segera menuruti keinginan Hani. Pria itu bergerak memacu tubuh nya lebih cepat hingga membuat tubuh Hani terguncang.
"Aaahhh.." Hani mendesaah panjang saat dia mencapai klim*ks pertama nya, tak usah di ragukan lagi senjata Bimo memang yang terbaik untuk nya, dia mampu meraih klim*ks hanya beberapa menit setelah awal penyatuan.
"Kamu bisa memimpin sayang?" Tanya Bimo, membuat Gadis itu menggeleng cepat. Dia lemas setelah mengeluarkan begitu banyak lendir kenikmatan.
"Baiklah, kalau begitu yang akan membuat mu meminta berhenti." Bimo tersenyum smirk, tapi Hani yang sudah terbiasa di hajar habis-habisan hanya menunjukan ekspresi datar nya.
Bimo kembali bergerak, dia juga ingin segera meraih puncak klim*ks nya. Dia juga perlu beristirahat sebelum kembali sibuk esok hari.
.....
Pagi hari, Azwar terlihat sedang memanaskan motor nya di depan kontrakan. Maklum lah motor butut, kalau tidak di panaskan dulu pasti akan mogok di tengah jalan seperti waktu itu. Beruntung saja saat itu Zen kebetulan lewat jadi dia bisa menumpang sampai ke kantor, tapi dia tak bisa terus berharap pada keberuntungan lain.
Rencana nya dia ingin menjemput Sintia, memulai kembali misi nya untuk mendapatkan hati gadis itu. Dia ingin membawa Sintia ke acara pernikahan adik nya nanti sore.
Hari ini kantor di liburkan karena sang CEO yang akan menikah secara mendadak karena kejutan yang sangat tidak terduga.
Azwar mulai melajukan motor butut nya ke kontrakan Sintia, bagaimana pun cara nya dia harus bisa membawa Sintia ikut nanti sore.
Azwar menghentikan sepeda motor nya di depan rumah yang di sewa oleh mantan kekasih nya, jam segini biasa nya Sintia akan berangkat kerja.
Benar saja, tak perlu menunggu lama. Wanita itu keluar dari dalam kontrakan nya dengan menenteng tas kecil.
"Selamat pagi Sin."
"Pagi juga Azwar, ada apa kamu kesini lagi? Gak bosan setiap hari kesini?" Tanya Sintia.
"Tidak, apapun cara nya kita harus kembali bersama." Jawab Azwar yakin.
"Kalau kamu tau kebenaran tentang aku, apa kamu tidak akan berubah pikiran Azwar? Aku hanya takut kamu kecewa, setelah tau bagaimana keadaan ku yang sebenarnya." Batin Sintia.
"Kok malah bengong, mau kerja? Aku antar, ya meski dengan motor butut ini."
"Tak apa-apa." Jawab Sintia, tak ada salahnya dia menerima tawaran Azwar untuk mengantar nya bekerja.
Azwar tersenyum manis dan menyodorkan sebuah helm berwarna merah muda. Sintia duduk di boncengan motor Azwar dengan posisi menyamping, karena dia memakai rok yang cukup pendek, meski memakai stocking, tetap saja paha nya akan terekspos.
"Kenapa pakai rok pendek, Sin?" Tanya Azwar.
"Tuntutan pekerjaan, meski aku tak menyukai nya tapi ini seragam dari cafe itu." Jawab Sintia apa adanya. Tiba-tiba saja Azwar menghentikan laju motor nya di tepi jalan, membuat Sintia turun dari boncengan motor Azwar.
"Kenapa motor nya? Oli nya banjir?" Tanya Sintia.
"Gak ada masalah sama motor ini, aku hanya agak risih melihat pakaian mu." Jawab Azwar lalu mengikatkan jaket nya di pinggang Sintia.
"Setidaknya begini lebih baik." Ucap Azwar, dia pun kembali membonceng Sintia menuju tempat kerja nya.
Tak butuh waktu lama, kedua nya pun sampai di cafe tempat Sintia bekerja.
"Sin, bisa nanti kamu datang ke nikahan Ica?" Tanya Azwar, setelah wanita itu turun dari motor dan memberikan kembali helm nya.
__ADS_1
"Ica mau nikah? Sama siapa, tuan Zen?"
"Iya, tapi nikahan sederhana aja. Soalnya ada kejadian tak terduga, tapi nanti ada resepsi nya." Jelas Azwar.
"Jam berapa?"
"Jam 3 sore, Sin. Kalau bisa aku jemput."
"Bisa, kebetulan aku shift pagi hari ini. Jemput disini aja ya, bisa?"
"Okey, sekarang aku mau ke rumah Tuan Zen dulu bantu-bantu."
"Yaudah hati-hati di jalan nya, aku masuk dulu." Pamit Sintia, lalu di angguki oleh Azwar.
Azwar bersorak kegirangan, dia berhasil membawa Sintia bersama nya nanti sore. Begini saja sudah membuat nya bahagia, setidaknya usaha nya selama 2 minggu ini tidak sia-sia, ada peningkatan yang sangat bagus.
"Aku harus cari pakaian yang serasi buat nanti pergi ke nikahan Ica." Gumam Azwar.
"Nanti saja aku pikirkan, sebaiknya aku ke rumah Tuan Zen sekarang."
Azwar pun melajukan kembali motor butut nya menjauhi restoran tempat Sintia bekerja, tujuan nya hanya ke rumah Zen.
....
Di mansion, sedang terjadi kekacauan yang cukup besar. Bagaimana tidak, cermin besar untuk hiasan pelaminan pecah karena tertabrak kucing, padahal itu adalah cermin pesanan Ica. Entah bagaimana juga bisa ada kucing di mansion sebesar ini dan penjaga yang bertebaran dimana-mana.
Sedangkan Bumil itu sedang makan besar karena kesal cermin pesanan nya pecah, dia tak bisa menyalahkan siapa pun disini, apalagi kucing nya. Jadi dia melampiaskan nya dengan mukbang di temani dua sahabat koplak nya, Hani dan Risya.
Subuh-subuh kedua pasangan itu sudah tiba di mansion, karena ingin bantu-bantu katanya. Ehh ternyata bantu-bantu makan!
"Si Risya di leher nya udah ada bekas cup*ng, di apain aja Lo sama Si Brian, Sya?" Tanya Ica, membuat yang di tanyai hanya nyengir.
"Cuma nyusu doang Ca." Jawab Risya tanpa malu.
"Cuma? Wahhh, Lo ada peningkatan bestie." Kali ini Hani yang bicara.
"Tapi belum sampe ke tahap uhhh ahhh kan, Sya?" Tanya Ica somprall.
"Buseet, ya belom lah. Baru aja jadian seminggu, masa gue udah jebol." Jawab Risya sedikit sewot.
"Gue sama Daddy 3 bulanan sih sampe dia gol." Cetus Ica.
"Kalau gue masuk nya pertemuan pertama kali ya? Soalnya tawaran nya cuma one night stand."
"Apa rasanya sakit?" Tanya Risya sambil menggigiti paha ayam goreng di tangan nya.
"Pertama sih iya, sakit banget sampe berdarah. Kedua kali masih sakit tapi gak sesakit yang pertama, cuma ngilu doang. Yang seterus nya mah enak aja, mantap." Jawab Ica di angguki Hani, dia setuju dengan ucapan Ica.
"Sesakit apa?"
"Gak bisa di jelasin dengan kata-kata pokok nya, tapi enak nya juga sama, gak bisa di jelaskan dengan kata-kata." Jawab Ica lagi.
"Pokok nya jalan tuh kayak ngangkangg gitu, soalnya perih banget." Celetuk Hani.
"Iya, tapi gak lama. Paling besokan nya udah baikan, udah bisa di masukin lagi."
"Kok ngeri ya?"
"Gue juga awalnya ngeri, tapi Daddy tuh masukin nya pelan-pelan banget, terus setelah masuk semua dia diemin dulu, gak langsung gerak." Jelas Ica.
"Cowok gue juga gitu awalnya, katanya biar terbiasa dulu. Gue dulu, saking sakit nya sampe nyakar punggung nya, sampe baret gitu."
__ADS_1
"Sama Han, gue juga gigit lengan Daddy gue sampe lebam dong saking sakit nya." Ica tertawa, begitu juga Hani. Hanya Risya yang diam, karena dia belum tau rasanya seperti apa.
"Lu mulai penasaran kan, Sya?" Tanya Hani.
"Iya, tapi gue takut Han. Takut banget." Jawab Risya.
"Santai aja, jangan di bawa tegang. Kalo Lo tegang, sakit nya jadi lama, Lo gak bakal bisa ngerasain nikmat nya."
"Sama siapa? Brian? Emang dia bisa lakuin gituan?" Tanya Ica.
"Jangan di ragukan Ca, dia udah pernah dulu."
"Wihhh si gulali diam-diam menghanyutkann." Celetuk Hani, membuat ketiga nya kompak tertawa.
"Btw, Lu udah praktek yang pake permen itu belom?"
"Udah, kagak enak Ca menurut gue. Enakan biasa, original." Jawab Risya.
"Apa nya yang pake permen?" Tanya Hani, dia mana tau apa yang di maksud sahabat nya itu.
"Gue nyaranin dia ciuman pake permen gitu, Han."
"Ohh gitu, gue suka sih jadi manis gitu. Tapi tetep gue suka tanpa permen, soalnya gak pake permen aja cowok gue mah udah manis."
"Cowok Lu manis karena dia punya lesung pipit." Ucap Ica.
"Iya, dan Daddy Lo nyeremin karena punya mata tajam kayak elang."
"Dan Brian, dia keliatan gemes karna warna rambut nya." Celoteh ketiga nya kompak, membuat mereka tertawa karena bisa barengan.
Membuat para lelaki saling memandang dari arah ruang tamu saat mendengar gelak tawa dari dapur.
"Mereka kenapa ya? Gak mungkin kesurupan kan ya?" Celetuk Brian.
"Husshh, disini mana ada setan. Adanya cuma setan jomblo."
"Pasti mereka bicara hal random nan konyol seperti biasa." Ucap Zen, dia tak perlu heran lagi kalau Ica sudah berkumpul dengan dua teman nya, pasti akan berisik.
"Permisi.." Zen melirik siapa yang datang, dan ternyata itu Azwar yang baru datang.
"Masuk bang, sini kumpul." Ajak Zen ramah.
Azwar menurut dan duduk bergabung dengan ketiga pria lain nya.
"Sengaja kesini?" Tanya Zen.
"Iya Tuan, niat nya mau bantu-bantu tapi kok kayak udah selesai ya."
"Udah gak usah, ada anak buah ku yang bekerja. Sudah makan?" Tanya Zen.
"Sudah Tuan, dimana Ica?"
"Dia lagi makan sama dua temen sengklek nya." Azwar hanya membulatkan mulut nya.
.....
🌷🌷🌷
Bab yang panjang, jangan bosan ya🤭🤭
jan lupa Vote!
__ADS_1