
Ica mengurai pelukan nya dengan Azwar, dia tau seberapa possesif nya calon suami nya itu, memeluk kakak nya sendiri saja Zen bisa cemburu.
"Kakak disini?" Tanya Ica.
"Tentu saja, Calon suami mu yang mengajak kakak ikut andil dalam drama." Jawab Azwar, Ica baru ngeh, dia ingat siapa yang berbisik tadi.
"Kakak yang bisikin Ica kan?"
"Kamu tau?" Tanya Azwar.
"Awalnya Ica gak tau, cuma kayak gak asing gitu ehh ternyata kakak."
"Kamu gak mau meluk kita? Kita udah susah payah culik kamu dari kampus Ca, sampe di kira culik beneran sama satpam kampus." Ucap Hani.
Ica berjalan mendekat ke arah dua pasangan itu, mereka juga bersiap menyambut pelukan Ica, tapi sebuah suara menghentikan niat Ica.
"Boleh peluk Hani sama Risya, tapi tidak dengan Bimo dan Brian."
"Kenapa Dad?" Tanya Ica heran.
"Karena mereka laki-laki." Jawaban yang simpel, semua orang juga tau kalau Bimo dan Brian adalah laki-laki.
Kedua pria itu pun sedikit menjauh dan membiarkan Ica berpelukan dengan kaum perempuan saja, karena ada mata elang yang terus menatap tajam ke arah para pria.
"Udah di bantuin, tetep aja possesif ya bang?" Celetuk Brian ke arah Bimo.
"Sudahlah, yang bahagia kan bebas Brian." Jawab Bimo membuat Brian cemberut.
"Napa itu wajah nya gitu? Anjiirr kayak kue cucur." Kelakar Bimo membuat Azwar tertawa.
"Ihh sebel."
"Jijayy.." Bimo sedikit menjauh dari Brian, tapi Brian terus merapatkan jarak nya.
"Selamat ya bestie, sebentar lagi bakal jadi istri orang." Ucap Hani.
"Makasih Han, gue bahagia banget."
"Bagus dong, kalau Lu bahagia kita juga ikut bahagia." Kali ini Risya yang bicara, mereka pun kembali saling memeluk.
"Yang tadi bilang aku lemah pas di mobil siapa?" Tanya Ica dengan mata yang mengerling.
Hani cengengesan, sudah pasti dia orang nya.
__ADS_1
"Kau ya? Awas aja, nakal kau!" Ica menjewer telinga Hani dengan gemas.
"Sakitt Ca, maaf kan biar lebih mendalami peran jadi penculik gitu." Ucap Hani sambil memegangi telinga nya yang masih di jewer oleh Ica.
"Siapa dalang dari drama penculikan ini?" Semua kompak menunjuk Bimo, membuat pria itu nyengir dan beringsut pergi sembunyi di balik punggung Zen.
"Sudahlah Baby, mereka kan hanya peran pembantu."
"Iya deh, makasih udah bantu ya bestie." Ica melepaskan tangan nya dan mengecup singkat pipi Hani.
"Sama-sama." Jawab Hani sambil mengusap telinga nya yang memerah.
"Oke, Daddy udah ngasih Ica kejutan yang tak terlupakan. Sekarang Ica yang ngasih Daddy kejutan." Ica mengeluarkan sebuah kotak dari tas nya. Kotak kecil berwarna merah muda yang di ikat pita merah.
"Apa ini Baby?"
"Sebaiknya ubah panggilan kita, karena akan ada yang iri." Jawab Ica sambil tersenyum.
Zen penasaran apa isi di dalam kotak itu, dia membuka nya dengan cepat hingga merobek pita itu, padahal membuka nya hanya perlu di geser ke atas saja.
Zen melotot saat melihat isi dari hadiah yang di berikan Zen. Pria itu langsung memeluk Gadis nya, kedua mata nya berkaca-kaca. Impian nya sebentar lagi akan terwujud.
"Sejak kapan? Sejak kapan sayang? Bukan nya kamu baru saja datang bulan?" Tanya Zen setelah kedua nya melerai pelukan.
"Sejak aku mengalami mual-mual hebat setiap pagi, bawaan nya lemes, jadi aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kan diri, di temani Hani." Jawab Ica. Ya, tepat nya dua minggu lalu sebelum dia berpura-pura sedang datang bulan, padahal nyata nya waktu itu dia sudah tau kalau dia sedang hamil.
"Kapan sayang? kenapa Daddy tak tau?"
"Dua minggu lalu Dad, dan ya hasilnya aku hamil 6 minggu." Jawab Ica sambil mengusap perut nya yang masih datar.
"Jadi kamu pura-pura datang bulan sayang?"
"Iya, karena kata dokter trimester pertama tidak di sarankan untuk berhubungan badan dulu, apalagi dengan durasi yang lama. Daddy kan kalau main itu suka berjam-jam, jadi Ica takut Dedek nya keganggu." Jelas Ica, membuat Zen kembali memeluk calon istri nya itu. Betapa bahagia nya Zen saat ini.
"Berarti saat aku meminta mu hamil anak ku, kamu sudah hamil?" Ica menganggukan kepala nya.
"Aku lupa meminum pil itu Dad, maaf."
"Maaf untuk apa? Daddy sangat bahagia mengetahui kehamilan mu sayang, terimakasih." Zen kembali memeluk Ica, mengecup puncak kepala gadis itu bertubi-tubi.
"Bim, percepat rencana pernikahan. Aku ingin seminggu lagi semua nya harus beres!" Perintah Zen membuat Bimo terkesiap, kerja lembur lagi.
"Baik tuan." Jawab Bimo lemas, untuk menyiapkan ini saja dia sudah bekerja keras. Hingga melupakan jatah malam nya saking sibuk nya, apalagi menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu satu minggu, bisa-bisa dia tak pulang ke rumah.
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan membantu."
"Aku juga mau di libatkan." Ucap Brian.
"Ada tenaga tambahan untuk mu, Bim. Bersemangat lah, ada bonus nanti."
"Baik tuan."
"Aku yang mendesain sendiri undangan untuk pernikahan kalian." Ucap Hani, dia memang jago menggambar, melukis, mendesain juga.
"Aku serahkan padamu Han, terimakasih untuk semua nya."
"Sama-sama Ca, kita sudah lama berteman kan?" Ica menganggukan kepala nya.
"Aku yang akan mencetak nya di tempat cetak undangan terbaik." Ucap Risya.
"Terimakasih Sya."
Ica mendongak menatap Zen yang ternyata juga tengah menatap nya penuh cinta. Lalu, entah siapa yang memulai tapi kini bibir itu kembali bertautan mesra. Menyalurkan setiap rasa cinta yang kini tumbuh semakin besar, apalagi dengan adanya janin di rahim sang gadis, membuat cinta mereka semakin terasa sempurna.
"Mesra nya.." Ucap Risya sambil mesam-mesem.
"Mau? Ayok, aku bisa menciumu seperti itu juga." Celetuk Brian, membuat gadis itu refleks menepuk lengan Brian.
"Nanti aja di rumah, malu." Ucap Risya malu-malu.
"Oke, sambil pegang itu boleh?"
"Brian.." Pekik Risya, pria itu selalu saja mesoom, dimana pun tempat nya.
Sedangkan Hani dan Brian saling berpegangan sambil menyaksikan dua orang yang saling berpagutt mesra di depan mereka.
"Aku bahagia akhir nya Tuan Zen menemukan wanita yang tepat."
"Aku juga bahagia sahabat ku bersama orang yang tepat juga, Ica sudah banyak menderita, dan ya ini balasan dari semua nya."
"Semoga kita juga bisa seperti mereka ya, Honey."
"Semoga saja sayang." Jawab Hani, dia menggelayut manja di lengan Bimo, dan pria itu mengusap lembut kepala Hani.
......
🌷🌷🌷
__ADS_1
Maaf buat Ica hamil sebelum nikah🙏