Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 185


__ADS_3

Pagi harinya, Meisya terbangun dari tidur nyenyak nya. Dia tersenyum saat melihat Arian sudah bangun lebih dulu, dia sedang menyiapkan sarapan sepertinya.


"Se-lamat pagi.." Sapa Meisya, membuat Arian langsung menoleh dan berjalan mendekat.


"Sudah bangun ternyata, bagaimana? Apa masih terasa sakit?"


"Masih ngilu di perut, bukan ngilu sih tapi sakit." jawab Meisya sedikit meringis, jika bicara agak keras sedikit saja perutnya terasa sangat sakit, mungkin karena luka nya masih basah.


"Sabar ya, nanti kalo lukanya sudah kering pasti gak sakit lagi." Arian mengusap lembut puncak kepala Meisya.


"A-ku pengen ketemu Ica, Kak." Selama ini Meisya memanggil Arian dengan panggilan Kakak, dan Arian tak keberatan dengan panggilan dari Meisya, karena memang usia mereka cukup berjarak, Meisya 24 tahun dan Arian 30 tahun, beda 6 tahun saja memang.


"Nona Ica kemarin pingsan, mungkin sekarang dia sudah sadar, aku panggil sebentar ya." Jawab Arian, Meisya cukup terhenyak dengan jawaban Arian, dia menunjukkan raut wajah khawatir nya, apa Adiknya baik-baik saja?


Arian keluar dari ruangan Meisya, dia mencari dimana kiranya Nona Muda itu di rawat, secara tak sengaja, dia bertemu dengan Bimo yang berwajah kusut seperti kain pel, entah kenapa dengan pria itu, yang jelas wajah nya kusut sekusut-kusutnya.


"Kenapa Bim?" Tanya Arian dengan cengiran yang membuat Bimo mendelik.


"Sebel, masa pagi-pagi buta dah di telpon suruh kesini, gue lagi main sama Hani terpaksa di skip dulu mana lagi enak-enak nya, terus yang bikin gue kesel itu alesan nya sepele banget."


"Emang disuruh apa coba?" tanya Arian mulai penasaran dengan apa yang membuat bapak sekretaris itu sebal.


"Cuma di suruh bawain boneka, terus setelah di anterin malah di usir." Jawab Bimo, membuat Arian tergelak.


"Nasib punya atasan kang suruh, kang sindir tapi gak mau di sindir balik, ya gini Bim." Celetuknya, masih dengan cengiran kuda yang membuat Bimo malah semakin di buat kesal.


"Sabar aja lah, daripada gak dapet bonus bulan ini, kan sayang." Jawab Bimo.


"Nah itu sadar, yaudah ya sabar abang Bimo. Yaudah sana pulang, lanjutin main nya." Ucap Arian sambil menepuk pundak Bimo, bisa di pastikan hari ini kantor di liburkan lagi.


Bimo hanya mendelik dan pergi dari rumah sakit, tujuan nya memang melanjutkan penyatuan yang belum menemui titik akhir, alias belum selesai.


Arian masuk ke dalam ruangan, dia melihat Ica sedang duduk dengan memangku boneka yang kemarin di berikan Hani sebagai hadiah pernikahan nya.


"Permisi Tuan, Nona."


"Ada apa Ar? Apa ada perkembangan kondisi Meisya?" Tanya Zen yang sedang menyuapi Ica makan.

__ADS_1


"Meisya sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan Nona Ica, Tuan." Jawab Arian, membuat Ica tersenyum senang. Dia sebenarnya ingin langsung berlari menemui kakaknya itu, tapi setelah mendapat delikan tajam dari sang suami membuat Ica mengurungkan niatnya.


"Baik, aku sama Ica kesana setelah Ica sarapan."


"Daddy, mau sekarang.." Rengek Ica.


"Makan dulu, kalau gak makan Daddy gak bakal izinin kamu ketemu kakak kamu itu." Ancam Zen, bukan apa-apa karena akan minum obat membuat Ica jadi susah makan.


"Saya akan mengatakan nya pada Meisya, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," Arian pamit undur diri dari ruangan rawat kualitas VIP itu, bahkan di dalamnya ada sofa, ranjang tambahan, di lengkapi juga dengan fasilitas wifi. Uang memang tau segalanya.


"Daddy, udah ahh kenyang. Perut aku rasanya mau meledak kalau Daddy gak berhenti nyuapin aku makan." Keluh Ica.


"Iya iya sayang, minum vitamin nya dulu terus kita ke ruangan Meisya."


"Oke Dad." Jawab Ica semangat, Ica langsung menelan habis vitamin itu dan Zen menepati ucapan nya dengan membawa sang istri ke ruangan rawat Meisya. Infusnya sudah di cabut tadi malam karena melihat keadaan Ica sudah baik-baik saja.


Ica berjalan cepat bersama Zen yang menggenggam tangan nya dari belakang, karena Ica berjalan di depan nya.


"Pelan-pelan sayang, ingat kamu sedang hamil." Peringat Zen, tapi Ica seolah tak mendengar. Dalam pikiran nya, dia hanya ingin segera sampai di ruangan rawat Meisya.


"Eehh maaf, apa kami ganggu?"


"Tidak Nona, silahkan masuk." Jawab Arian dengan senyum manis nya, tapi itu malah membuat Zen kesal sepertinya.


"Jangan tersenyum pada istriku!" Tuh kan benar saja, Dia selalu tak suka saat pria lain tersenyum pada sang istri.


"Maafkan atas kelancangan saya Tuan." Ucap Arian, padahal dalam hati dia menggerutu, di senyumin aja gak boleh, posesif bener kang bucin.


"Kakak, apa yang sakit Kak?" Ica duduk di kursi dekat brankar dimana kakaknya terbaring.


"Kakak baik-baik saja, Ca. Tak usah terlalu khawatir, kakak kan anak yang kuat." Jawab Meisya sambil tersenyum, membuat Ica menatap Meisya dengan nanar, melihatnya bisa tersenyum seperti ini saja sudah membuatnya sangat senang. Padahal luka yang dia alami sangat parah hingga dokter menyatakan nya kritis kemarin.


"Bby, Daddy keluar dulu ya. Ngobrol dulu aja sama kakakmu, kalau ada apa-apa panggil aja Daddy di luar." Ica menganggukan kepala nya, memang dia ingin bicara 4 mata dengan Meisya.


Kedua pria itu keluar dari ruangan, meninggalkan Ica dan Meisya saja.


"Ca.."

__ADS_1


"Iya kak Mei, kenapa?"


"Kakak minta maaf, dulu kakak di butakan obsesi karena hasutan Ibu. Tapi, sekarang kakak sadar, kakak bersalah banyak padamu, tak seharusnya seorang kakak melakukan hal sekejam itu pada adiknya sendiri." Ucap Meisya panjang lebar.


"Sudahlah Kak, Ica udah maafin kakak dari dulu. Kalau Ica selama ini jahat juga sama Kakak, Ica minta maaf. Kita mulai semuanya dari awal ya?"


"Terimakasih Ca, kamu memang anak yang baik. Pantas saja kak Azwar sangat menyayangi mu," Ucap Meisya.


"Sudah tak usah di bahas ya, intinya Ica sayang sama kakak dan Ica harap hubungan kita semakin membaik." Meisya hanya menganggukan kepala nya.


"Bagaimana luka kakak? Masih sakit?"


"Masih Ca, kalau kakak ngomong keras dikit aja langsung kerasa sakit." Jawab Meisya pelan, itulah alasan nya kenapa sedari tadi Meisya bicara sangat pelan.


"Iyalah, luka kakak dalam banget, mana pisau nya beracun."


"Kakak bener-bener gak nyangka, Ibu bisa melakukan hal semacam ini Ca."


"Ica juga gak ngerti, Ica kira setelah Daddy mengusir nya dari rumah, Ibu bakalan berubah tapi ternyata malah makin menjadi." Jawab Ica, dia begitu menyayangkan kelakuan ibu tirinya itu.


"Tak apa, kakak anggap ini adalah hukuman atas semua kesalahan kakak di masa lalu." Meisya tersenyum tulus.


"Ica percaya sebenarnya kakak itu baik, cuma karena hasutan Ibu, kakak jadi jahat. Ica seneng, kakak bener-bener berubah sekarang."


"Bagaimana kehamilan mu Ca?"


"Baik-baik saja Kak." Jawab Ica, dia menunjukkan perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Ponakan kakak harus tumbuh dengan baik tanpa kekurangan satu apapun, andai saja kakak bisa mengandung, pasti akan sangat menyenangkan."


Degg...


......


🌷🌷🌷🌷


maaf telat up, author lagi gak mood😭

__ADS_1


__ADS_2