Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 105


__ADS_3

"Udah masuk kuliah lagi Ca?" Tanya Lolita, gadis yang mengaku paling cantik satu kelas, dia gadis yang sombong dan doyan pamer, tapi pada Ica gadis itu baik.


"Udah." Jawab Ica sambil tersenyum ramah.


"Terus itu tangan nya kenapa?"


"Luka dikit aja Kak Loli." Jawab Ica, memang usia Lolita lebih tua 2 tahun dari Ica.


"Masa? Coba liat."


"Ehhh jangan dong, luka nya belum kering." Celetuk Risya.


"Belum kering? Emang nya di jahit?" Ica mengaggukan kepala nya.


"Katanya luka dikit tapi sampe di jahit, kamu normal kan Ca?"


"Normal dong, emang nya kenapa?"


"Ya mana ada orang bilang luka dikit tapi sampe di jahit, luka dikit tuh ke gores, kalo di jahit berarti luka nya dalam, Markica." Ketus Lolita. Ica hanya nyengir mendengar ucapan Lolita, gadis itu memang banyak omong, tapi sejauh ini dia tak pernah membuat masalah apapun dengan siapapun, termasuk Ica.


"Yaudah, makan lagi yang banyak biar cepet sembuh." Lolita pergi dengan beberapa teman nya.


"Kak Loli sama Lo baik ya Ca?"


"Baik di luar belum tentu di dalam nya juga baik Sya, kita gak tau gimana hati orang." Jawab Ica.


"Ohh iya, di deket kampus kita ada pasar malam lho." Celetuk Risya.


"Wahh beneran, Sya? Ihh pengen kesana naik ombak banyu." Jawab Ica antusias.


"Iya, di lapangan deket taman bunga itu lho Ca."


"Kalian dah pergi kesana?"


"Cuma si Brian tuh yang udah kesana."


"Gimana kalo nanti malem kesana yuk?" Ajak Ica.


"Gue gak mau ngambil resiko kebakaran gara-gara liat Lo mesraan terus sama si Daddy Lo itu."


"Lho kok gitu, Bri?" Tanya Ica.


"Gue ogah jadi nyamuk."


"Kalau gue sih pasti ikut-ikut aja sih, tapi ya pasti nya jadi kambing conge." Cetus Risya.


"Itu malesin banget." Brian ikut nimbrung.


"Kalian berdua aja kalo gitu, kencan? Kali aja jodoh."


"Gue sih terserah Risya nya aja mau apa kagak."


"Hah? Kok Lu setuju gitu aja sih?" Protes Risya.


"Lah terus gue harus apa?"


"Mau aja ya? Biar seru."

__ADS_1


"Tapi kita kan gak pacaran, Ca."


"Yaudah, jadian aja sekarang, susah amat sih."


"Dihh, enggak ahh.." Tolak Brian.


"Terserah lah kalo gitu, jadi fiks nanti malem kita ke pasar malem ya?"


"Oke, jam 7 gue tunggu di gapura ya."


"Gue kabarin lagi ya, belum tentu Daddy ngijinin soalnya."


"Kirim pesan sekarang Ca, biar pasti."


"Yaudah tungguin."


Ica mengeluarkan ponsel nya, kali ini dia membawa ponsel sungsang yang bisa di lipat.


"Hape baru.."


"Nggak, ini punya Daddy." Jawab Ica, dia membuka sandi ponsel nya dan mengetikan pesan untuk Zen.


"Dad, malam ini ada acara gak?" Terkirim, tapi masih ceklis berwarna abu-abu.


"Belom di baca, Daddy lagi meeting sama klien mungkin."


"Makan nya udah belom? Dosen keburu masuk."


"Udah kok, tinggal bayar." Ica dan Risya berdiri duluan dan pergi meninggalkan Brian yang sedang membayar mie ayam yang kedua gadis itu makan.


"Gini amat punya temen, udah mah di bayarin ehh malah di tinggal, kampret emang, untung aja cantik." Gerutu Brian sambil berjalan cepat menuju kelas yang berada di ujung lorong.


....


"Maaf tuan, anda bisa marah tapi klien tak bisa menunggu lagi."


"Batalkan saja semua nya atau wakilkan, mood ku sedang tak baik." Perintah Zen, membuat Bimo segera mengangguk dan pergi dari ruangan yang berantakan bak kapal pecah itu.


Zen menelpon anak buah nya, dia tak bisa berdiam diri saat penghianat mulai berani mengusik ketenangan nya.


"Selidiki dan tangkap orang yang menurunkan saham ku, sekarang juga!"


"Baik, kami akan melakukan nya saat ini juga."


"Temukan bajingann itu hari ini juga, ini perintah!"


"Baik tuan." Zen mematikan sambungan telepon nya. Pria itu meremas kuat ponsel nya, tapi suara notifikasi membuat pria itu melepaskan tangan nya dari ponsel.


Zen membuka ponsel nya dan membaca pesan yang ternyata dari gadis nya.


Seketika kemarahan Zen yang tadi nya sedang menggebu itu hilang entah kemana. Dia tersenyum simpul saat gadis nya mengirimkan pesan dan menanyakan apa dia ada acara atau tidak malam ini.


"Sesibuk apapun, Daddy pasti menuruti keinginan mu By, mau kemana sayang?" Zen segera membalas pesan dari gadis nya.


....


Di kelas, dosen pembimbing pertama baru saja keluar dari kelas karena jadwal nya sudah selesai. Iseng, Ica mengecek ponsel nya dan benar saja, ada pesan dari Daddy nya.

__ADS_1


Ica tersenyum bahagia saat membaca isi pesan nya.


"Ica pengen ke pasar malam Dad, sama Risya, Brian juga Dad. Boleh ya?" Terkirim, dan tak lama langsung ceklis berwarna biru. Zen yang sedang online segera membaca dan saat ini sedang mengetik.


"Boleh sayang,"


Ica bersorak kegirangan, hingga membuat nya jadi pusat perhatian. Ica nyengir-nyengir saat melihat tatapan aneh teman sekelas nya, begitu pun Risya dan Brian yang terheran.


"Nape sihh?"


"Daddy bolehin kita pergi, jadi fiks ya nanti malem kita ke pasar malam."


"Wihh Daddy nya ikut dong? Asikk, bisa minta traktir sosis bakar." Celetuk Brian membuat Risya menggeplak kepala nya dengan buku.


"Traktiran aja terus!"


"Napa sih Sya? Sewot banget, Ica nya aja kagak apa-apa."


"Bukan kagak tapi belom, Bri." Jawab Ica membuat Brian memberengut.


Risya dan Ica kompak tertawa, membuat Brian makin kesal.


"Ohh ya, gue bawa kue coklat buatan bi Arin. Cobain deh, pasti kalian suka." Ica teringat kalau dia di bekali kue coklat oleh Bi Arin tadi pagi.


Dia mengeluarkan wadah nya dan Risya juga Brian langsung mencomot kue itu.


"Gimana? Enak kan ya?"


"Iya, enak banget Ca."


"Bi Arin baik banget sama gue, jadi gue berasa kayak punya ibu."


"Syukurlah Ca kalau orang-orang disana pada baik sama Lo, gue seneng denger nya."


"Iya Sya, gue bersyukur banget bisa ketemu Daddy. Gue gak nyangka kalau dia pria yang baik."


"Berarti Lu udah sama orang yang tepat Ca." Celetuk Brian.


"Iya, Daddy orang yang tepat buat gue Bri."


"Kalo Lo bahagia, gue ikutan bahagia aja meski pun Lo bukan bahagia nya sama gue."


"Sorry ya Bri."


"Kenapa minta maaf? Gapapa kali, santai aja."


Brian sudah tau apa hubungan Zen dan Ica, dia menelan pil yang sangat pahit saat tau kalau gadis pujaan nya bukan anak dari pria yang selalu dia panggil Daddy. Tapi lebih tepat nya partner, partner di ranjang.


Awalnya Brian shock dan merasa tak percaya, gadis secantik dan polos seperti Ica ternyata menjalani hubungan yang cukup membuat nya kaget. Tapi setelah tau alasan nya, Brian pun mengerti.


Jadi dia yakin kalau Ica bukan milik nya, dia memilih menyerah saja, bersaing pun percuma dia takkan mampu menyaingi Zen yang punya segalanya.


Tak ada pilihan lain selain merelakan dan tetap berteman baik, itu pun sudah sangat cukup untuk menghibur hati nya.


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Nah gitu bang Bri, relain aja😊


__ADS_2