Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 116


__ADS_3

Ica dan Hani berjalan sambil bergandengan tangan menuju toko elektronik.


"Asli Ca, gue kaget banget setelah tau ayang gue tuh assisten Daddy Lu."


"Lu pikir gue gak kaget? Gue malah lebih kaget rasanya." Jawab Ica.


"Kebetulan gini ya Ca," Ucap Hani sambil tertawa geli.


"Lahh iya Han, gue penasaran setengah mati mikirin gimana wajah ayang Lo, ehhh ternyata orang nya setiap hari ke rumah." Ica terkekeh jika mengingat dia begitu penasaran hingga kepikiran tentang wajah partner sahabat nya.


"Kok jadi geli gini ya?" Celetuk Hani masih dengan sisa tawa nya.


"Gue juga sama kali." Kedua nya kompak tertawa, rasanya konyol memang. Sahabat nya menjadi partner assisten Daddy nya, tapi ya ini memang terjadi.


Kedua nya sampai di toko elektronik, dan di sambut oleh pelayan toko nya.


"Nyari apa kak?"'


"Emmm, nyari laptop buat kuliah kak." Jawab Ica.


"Ini ada produk baru import luar negeri kak," Pelayan itu menunjukan satu merk laptop berwarna hitam mengkilat.


"Ada warna lain?"'


"Untuk sementara hanya ada satu kak."


"Bentar ya kak, saya tanya Daddy dulu." Ucap Ica, membuat pelayan itu berdecak tak suka.


Ica merogoh ponsel nya dan menghubungi Zen, dia ingin meminta pendapat sang Daddy terlebih dahulu.


"Hallo Dad.."


"Iya Bby, kenapa? Sudah dapat laptop nya?" Tanya Zen di seberang telepon.


"Belom Dad, Ica bingung. Ada nya cuma warna hitam, Ica gak tau yang bagus merk apa. Daddy bisa kesini?"


"Sebentar sayang, Daddy kesana. Jangan kemana-mana, kamu di toko mana?"


"Di toko yang bersebelahan sama toko baju z*ra." Jawab Ica.


"Daddy kesana sayang."


"Yaudah Dad, Ica matiin dulu telepon nya." Ica mematikan sambungan telepon nya dan kembali memasukkan ponsel nya ke dalam tas kecil nya.


"Gimana kak? Jadi beli laptop nya?" Tanya pelayan toko dengan ketus.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya kak, Daddy saya sedang kesini." Jawab Ica dengan senyum ramah nya.


"Padahal, kalau gak punya uang mah bilang aja. Banyak alasan!" Sindir nya lengkap dengan ekspresi mengejek.


Hani menatap Ica dengan raut wajah aneh, dia kesal sekaligus marah karena pelayan toko yang tak ramah ini.


"Jangan asal ngomong ya mbak, temen ku ini duit nya banyak!" Sewot Hani, dia tak terima saat teman nya di katai tak punya uang oleh pelayan itu.


"Kalau iya dia punya uang, kenapa gak langsung beli aja? Pake alesan mau nelpon Daddy dulu." Ketus nya.


"Mengundur waktu bukan berarti saya tak punya uang ya kak, saya gak tau apa laptop yang kakak tunjukan itu bagus atau tidak." Kali ini Ica yang bicara, dia juga merasa sedikit tersinggung oleh perkataan pelayan toko itu.


"Kalau barang ini jelek, saya takkan berani menunjukan nya." Sinis nya.


"Ada apa ini?" Tanya Zen yang baru datang bersama Bimo.


"Tuan Azzendra, selamat datang di toko kami." Sapa nya ramah, membuat Ica memutar mata nya jengah.


"Dasar bermuka dua." Celetuk Hani, membuat pelayan itu membulatkan mata nya ke arah Hani.


"Apa? Melotot ke saya? Benar kan, kamu ini bermuka dua."


"Anda tidak punya sopan santun ya, tidak ada yang mengajak anda bicara. Lebih baik kalian keluar sebelum saya panggil security untuk menyeret kalian berdua, sudah gak punya duit, sok sokan mau beli laptop, gak tau diri." Cetus pelayan itu.


"Mau menyeret gadis saya dari sini? Hadapi saya dulu."


"M-maksud anda tuan?" Tanya nya sok polos.


"Gadis yang kau sebut tak tau diri itu kekasih ku." Jawab Zen datar, membuat pelayan itu ketar ketir sendiri.


"Kau mengatai nya tak punya uang kan? Mari saya beli seluruh toko ini, beserta harga diri mu sekalian."


"Ma-maaf tuan, saya tidak tau kalau dia adalah kekasih anda." Ucap pelayan itu, tapi Zen sudah terlanjur marah.


"Maaf? Kalau aku tak datang, kau pasti akan terus memperlakukan gadis ku seperti ini? Baru jadi pelayan saja sombong!"


"Tuan, saya sungguh meminta maaf."


"Tidak, aku benar-benar tidak suka pelayan yang tak ramah. Apalagi kau berani mengatai kekasih ku, berani sekali kau! Memang nya siapa kau ini? Hanya pegawai."


Mendengar ada keributan di toko nya, pemilik toko elektronik itu keluar dari ruangan nya dan menyaksikan sendiri kemarahan seorang Azzendra.


"Tuan Azzendra.." Sapa nya, membuat Zen yang sedang di landa kemarahan itu menoleh.


"Kau pemilik toko ini?"

__ADS_1


"I-iya tuan." Jawab pemilik toko dengan gemetar, pasalnya tatapan Zen benar-benar tajam.


"Aku ingin kau memecat pelayan ini sekarang juga." Cetus Zen membuat pelayan itu mendongak.


"Maaf tuan, saya tak bisa memecat pegawai tanpa alasan."


"Tanpa alasan? Dia mengatai gadis ku tak tau diri," Jawab Zen dengan emosi.


"Gadis?"


"Gadis yang tepat berada di belakang mu adalah kekasih ku, dia berani mengatai nya tak tau diri hanya karena ingin membeli laptop tapi menunggu ku dulu."


"Maafkan ke cerobohan pegawai saya tuan."


"Kau hanya punya dua pilihan, pecat dia sekarang juga tanpa pesangon, atau ku tutup toko mu ini." Tegas Zen membuat pria paruh baya itu kelimpungan.


"Daddy, sudahlah. Lagi pun Ica tak apa-apa." Ica membujuk Zen dengan menggandeng mesra tangan Daddy nya.


"Pegawai seperti dia harus di beri pelajaran sayang, tak ramah dan merendahkan orang lain."


"Tapi Dad.."


"Tak ada tapi-tapian sayang, sebaiknya diam saja!" Tegas Zen, kalau sudah begini tak ada pilihan lain selain diam.


"Pilih mana? Saya tak punya banyak waktu, jika kau memilih diam, berarti aku anggap jawaban mu adalah menutup toko ini."


"Tunggu tuan, baik saya akan memecat nya sekarang, tapi saya mohon jangan tutup toko saya."


"Lakukan!" Perintah Zen, dia benar-benar tak memberi maaf pada pelayan itu.


"Kamu saya pecat tanpa pesangon, silahkan pergi." Ucap pemilik toko itu, membuat pelayan itu menitikan air mata nya.


"Tuan, saya mohon jangan pecat saya. Saya minta maaf, saya tak sengaja melakukan nya." Pria paruh baya itu diam, tentu dia memilih memecat salah satu pegawai nya dari pada ladang usaha nya di tutup.


"Ini pelajaran untuk mu, sebagai pelayan kau harus nya bisa lebih bersabar, bersikap lah ramah."


"Tuan, saya mohon."


"Sekali tidak, tetap tidak. Mari kita pergi Bby." Zen menarik tangan gadis nya pelan.


"Tapi Ica belum dapet laptop nya, Dad."


"Toko elektronik di dunia ini bukan hanya satu sayang, kita bisa beli di toko lain. Yang pelayanan nya ramah." Sinis Zen, lengkap dengan tatapan tak bersahabat nya.


....

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


Cihh, baru jadi pelayan aja belagu🙄


__ADS_2