
Malam hari nya, Ica dan Zen sedang berduaan saja di kamar. Seperti biasa, mereka mengobrol dengan Ica yang lebih banyak cerita daripada Zen, pria itu hanya jadi pendengar.
"Dad, tau gak?"
"Tau apa sih sayang? Kamu kan belum cerita."
"Ohh iya," Ica menepuk kening nya sambil cengengesan.
"Temen Ica udah di unboxing juga lho Dad."
"Yang mana? Hani atau Risya?" Tanya Zen, setau nya teman gadis nya hanya 2.
"Hani Dad, waktu itu Ica ketemuan sama dia di mall, terus jalan nya tuh aneh gitu Dad, ngangkang kayak Ica dulu."
"Kamu tanyain?"
"Iya lah Dad, karena Ica penasaran. Ternyata dia nerima tawaran one night stand sama pria asing, yang sampai sekarang Hani gak tau namanya."
"Lho kok bisa gak tau nama nya?"
"Biasalah, dia lupa nanya Dad, kebiasaan Daddy juga kan suka lupa apapun kalau udah main panas, Hani juga kayak gitu mungkin."
Zen seperti teringat sesuatu, Hani adalah pegawai bar, dan menurut Ica gadis itu baik-baik dan masih bersih seperti dirinya dulu, tapi apakah benar itu perempuan yang sama?
"Darimana kau, jam segini baru masuk kerja? Pulang saja sana!" Usir Zen pada Bimo terlambat datang.
"Maaf tuan, saya harus mengurus teman saya dulu."
"Teman? Sejak kapan kau punya teman, Bim? Apa semacam sugar baby juga?"
"Belum ke tahap sugar baby tuan, tapi akan."
"Lalu?"
"Saya baru melakukan one nigh stand dengan nya tadi malam, jadi maaf saya terlambat."
"Wahh asisten ku sudah punya gandengan, panas ya lihat saya sama Ica?" Goda Zen, membuat wajah Bimo memerah.
"Baiklah, saya akan transfer bonus mu nanti."
"Benarkah?"
"Ya, wanita mu itu pasti butuh uang kan?"
"Terimakasih tuan.."
"Cepat masuk ke ruangan dan bekerja, jangan terbayang-bayang ingat!" Tegas Zen membuat wajah Bimo memerah lagi.
"Telat masuk kerja malah dapet bonus kan kapan lagi?" Gumam Bimo sambil tertawa.
...
"Dad, Daddy.." Ica melambaikan tangan nya di depan wajah Zen, pria itu melamun sejak tadi.
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Zen seperti tak terjadi apa-apa.
"Kok melamun sih? Ngelamunin apaan?"
__ADS_1
"Nggak kok By, sudah ngantuk belom?"
"Belum Dad, Ica deg degan mau tampil besok!"
"Aah ya, kamu tampil besok sayang? Jam berapa Daddy harus ke alun-alun?" Tanya Zen, tangan nya mengelus surai lembut sang gadis seperti biasa nya.
"Sekitar jam 2 sore, Ica tampil nya jam 3 Dad."
"Daddy usahakan ya, soalnya ada klien besar besok."
"Iya Dad, semoga aja Daddy bisa datang dan denger Ica nyanyi."
"Lagu apa sayang?"
"Rahasia Dad, besok Daddy akan tau. Ica pengen tidur tapi di peluk Daddy.." Rengek manja Ica.
"Ini kan lagi di peluk sayang."
Ica menduselkan kepala nya di dada bidang sang Daddy dan tangan Zen yang terus memberi usapan lembut agar gadis itu cepat tidur, benar saja hanya dalam hitungan menit gadis itu tertidur lelap.
"Gadis yang menggemaskan.."
...
Pagi hari nya, Zen sudah di bangunkan dengan suara-suara di kamar mandi yang mengundang nya untuk bangun.
Zen menuruni ranjang dan menyusul gadis nya, mungkin sedang mandi di dalam.
"Baby.."
Zen melihat Ica masih dengan tubuh polos nya sedang memukul sesuatu di lantai.
"Kecoa Dad, tapi ini bukan kecoa terbang." Zen tau itu, kecoa terbang adalah panggilan gadis nya pada Rosa.
"Kamu gak takut sama hewan itu, By?"
"Nggak Dad, cuma ya kalau melintas di depan mata ya hajar aja, geli aja gitu.."
"Di baju sana, jangan buat Daddy panas dingin pagi-pagi." Ica baru sadar kalau tidak memakai sehelai benang pun, langsung berlari ke arah Bath up dan memasukan tubuh nya lagi.
Tapi Zen kesal melihat Ica yang tak hati-hati, dia malah bisa berlari di lantai licin kamar mandi.
"Jangan lari-lari sayang ku, lantai nya licin. Kamu ini ceroboh sekali."
"Heehe, Ica malu sama Daddy."
"Malu kenapa? Kita kan sudah terbiasa melihat tubuh masing-masing sayang, kenapa masih malu?"
"Ica gak tau, tapi Ica malu aja Dad."
Zen mendekat dan duduk di sisi bath up, sesekali memainkan busa sabun.
"By.."
"Iya Daddy tampan ku, kenapa?"
"Masih minum obat yang Daddy kasih?"
__ADS_1
"Masih Dad, memang nya kenapa?" Tanya Ica.
"Maaf membuat mu meminum pil kontrasepsi itu By, tapi hubungan kita belum jelas, di tambah saat ini Rosa malah datang mengganggu hubungan kita, By."
"Tak masalah Dad, Ica juga belum siap punya anak kok, Ica masih pengen kuliah biar punya pengalaman."
"Belajar yang pinter biar cepet lulus,"
"Iya Dad, Daddy gak ke kantor?"
"Ngantor kok, sebentar lagi. Boleh Daddy masuk ke dalam bath up juga sayang?" Tanya Zen.
"Boleh dong, sini Daddy nya.." Akhirnya mereka pun mandi bersama dengan romantis nya.
...
Ica berada di alun-alun untuk latihan terakhir sebelum tampil nanti siang di temani Risya dan fans berat nya Ica, Brian.
"Ca, waktu Lo pulang waktu itu ada cowok yang nanyain Lo."
"Siapa?"
"Gua gak nanya nama nya sih, cuma dia bilang dia abang Lo."
"Abang mana? Abang gue lagi kuliah di kota X."
"Gue gak tau, yang jelas dia nanyain Lo dan dia tau nama lengkap Lo."
"Seriusan? Masa Bang Azwar udah pulang sih? Pengen deh ketemu, kangen banget."
"Waktu itu dia minta nomor ponsel sama alamat rumah Lo, tapi gak gue kasih. Gue takut dia penipu, soalnya setau gue kakak tiri Lo kan cuma si Meisya."
"Lo kenal Meii?"
"Elahh, ya jelas tau lah. Dia yang jadi simpenan om gue!"
"Ap-apa? Lu serius, Bri?" Ica terkejut mendengar ucapan Brian, apa benar Meisya begitu?
"Seriusan, sampe bibi gue pernah mergokin tuh dua orang lagi mantap-mantap di hotel."
"Astaga, Meisya apa yang sudah kamu lakukan!"
"Sekarang bibi gue lagi nuntut cerai, tapi om gue gak mau. Soalnya semua aset termasuk saham perusahaan itu atas nama Bibi gue semua."
"Gak nyangka sih asli, si Meisya udah bertindak sejauh ini."
"Nama nya orang doyan foya-foya ya gitu, Ca. Nyari jalan pintas, ngelakuin apapun demi uang, sampe bisa rusak rumah tangga orang. Gue yakin om gue bakal di tinggalin setelah jatuh miskin."
"Sorry ya Bri, gue gak tau kelakuan kakak gue."
"Bukan salah Lo kok, itu murni kesalahan Meisya. Biarin aja, nanti juga dapet karma."
"Ingat ya, karma itu gak semanis kurma walau cuma beda satu huruf doang!" Kali ini Risya yang ikut bicara, sedari tadi dia hanya diam saja.
...
🌷🌷🌷
__ADS_1
Maaf kemaren gak up, ketiduran🤣🤣