Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 196


__ADS_3

"Baby, ayo cepat.." Panggil Zen sambil membenarkan kancing di lengan jas nya, hari ini adalah hari pernikahan Hani dan Bimo, mereka harus segera berangkat tapi Ica malah terlihat malas-malasan.


"Baby.."


"Ya ampun, masih belum mandi? Ayo mandi, ini hari pernikahan Hani sama Bimo lho." Ucap Zen saat melihat sang istri masih betah bergulung dalam selimut. Jangan salahkan ibu hamil itu, cuaca pagi ini memang sangat mendukung untuk tiduran.


"Daddy, Ica males." Jawab Ica dengan suara serak nya.


"Hani pasti kecewa kalau kamu gak datang, Bby."


"Huum, gendong." Pinta Ica sambil merentangkan kedua tangan nya, meminta di gendong ke kamar mandi. Zen membuka kembali jas nya dan menggendong istri manja nya itu dengan senang hati.


Dia mengatur suhu air nya dan meneteskan beberapa tetes aromaterapi dan bath bomb, membuat air itu putih dan berbusa. Zen membuka pakaian sang istri dan kembali menggendong nya masuk ke dalam bath up, menyabuni nya dengan lembut, meski sesekali dia iseng dengan meremas buah kenyal istrinya yang semakin hari semakin montok.


"Aaa Daddy, dingin ahh udahan aja mandinya." Pinta Ica, Zen mengangguk dan kembali menggendong Ica, lalu memakaikan nya bathrobe.


Beginilah Zen jika pagi hari, istri cantiknya berubah menjadi sedikit pemalas setelah hamil. Tapi Zen memaklumi, ini juga bukan keinginan Ica, tapi bawaan bayi nya.


Zen mengusap perut Ica yang sudah membesar, karena mengandung bayi kembar membuat perutnya lebih besar padahal dia baru hamil 4 bulan.


"Gaun yang mana Bby?" Tanya Zen sambil membolak-balikkan koleksi gaun-gaun milik sang istri.


"Yang pink pastel aja, samaan kayak gaun pengantin Hani." Jawab Ica, Zen mengambilnya dan dengan cepat memakaikan nya pada Ica, betapa mageran nya pengaruh sang istri hingga membuat Zen bucin parah.


"Cantiknya istriku, ayo urai rambut mu." Pinta Zen, Ica pun mengangguk lalu mulai menata rambut nya, mencatok nya sedikit agar lebih terlihat bervolume. Tak lupa memakai make up tipis dan lipstik berwarna pink kemerahan, lipstick yang sangat Zen sukai warna nya.


"Aaahh kamu ini bidadari dari mana sih? Cantik sekali." Puji Zen saat melihat penampilan akhir sang istri.


"Lebay nya kamu Dad, ayo pakai lagi jas nya." Ica membawakan jas hitam milik Zen dan pria itu langsung memakai nya.


"Bby, tolong kancingin ini dong, susah." Pinta Zen, Ica menggeleng lalu mengancingkan kancing di pergelangan lengan suaminya.


"Ganteng nya, ayoo kita pergi." Ajak Ica lalu menggandeng tangan Zen dengan mesra, keduanya pun berjalan pelan menuruni tangga.


Bi Arin tersenyum begitu pasangan suami istri itu turun, mereka terlihat sangat serasi, cantik dan tampan, juga baik hati.


"Bibi.." Sapa Ica membuat Bi Arin tersentak.


"E-eehh iya Nona."


"Ica sama Daddy mau ke pesta pernikahan Hani, Bibi mau ikut?" Ajak Ica, itulah keunggulan Ica, tak pernah membeda-bedakan siapapun.


"T-tidak Nona, bibi di rumah saja."


"Mau di bawain apa kalo gitu?" Tanya Ica lagi.

__ADS_1


"Aahh, gak usah Nona."


"Yaudah deh, Ica berangkat dulu sama Daddy, bibi hati-hati di rumah ya." Peringat Ica, Bi Arin mengangguk, sepasang suami istri itu punwf pergi.


Zen mengemudi sendiri, tak memakai jasa supir karena dia punya mood yang bagus hari ini.


Singkatnya, Mobil yang di kendarai Zen sampai di tempat terselenggara nya pesta pernikahan Hani dan Bimo, tapi ternyata mereka terlambat, acara utama yaitu pemberkatan sudah selesai. Itu pasti karena Ica yang super mager membuat mereka terlambat.


"Yahh Dad, pemberkatan nya udah selesai. Gimana dong?"


"Ya gapapa Bby, ayo masuk kita ucapkan selamat saja." Jawab Zen, Ica pun mengangguk dan menggandeng kembali lengan Zen, kedatangan pasangan suami istri yang fenomenal itu langsung di sambut dengan jepretan kamera dengan Blitz yang membuat Ica pusing.


"Dad.."


"Iya sayang, ayo kita segera masuk di dalam tak ada kamera." Ajak Zen. Keduanya pun langsung masuk ke dalam gedung, rupanya pasangan pengantin baru itu tengah berdansa di iringi alunan lagu merdu yang membuat suasana haru tercipta.


"Aaaa Hani cantik banget Dad."


"Kamu juga cantik Bby, ingat kamu adalah yang tercantik untuk Daddy." Jawab Zen membuat Ica tersipu.


Singkatnya, acara dansa itu selesai dan sepasang suami istri itu naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka.


"Bestiee.." Panggil Ica, membuat Hani langsung memeluk sang sahabat.


"Aaaa Ica, kirain kamu gak dateng, kenapa terlambat hmmm?"


"Iya gapapa, yang penting sekarang kamu udah ada disini dan aku seneng banget." Jawab Hani dengan senyuman manis nya.


"Selamat atas pernikahan mu, Han. Semoga langgeng sampai kakek nenek ya, jangan lupa keponakan yang banyak."


"Ini udah ada, dan apa kamu tau Ca?"


"Apaan?" Tanya Ica, dia memang belum tau karena Hani belum memberitahunya.


"Aku juga hamil kembar lho."


"A-apa? Seriusan? Wahh, kita samaan." Ucap Ica, saking dekatnya pertemanan mereka hingga hamil pun barengan dan sama-sama mengandung anak kembar.


"Iya Ca, aku hamil kembar."


"Wahh selamat ya Han, aku ikut seneng dengernya. Sehat terus keponakan nya aunty."


"Kamu juga harus sehat selalu pokoknya." Ucap Hani, keduanya pun berpelukan dan setelah nya Ica dan Zen turun dari pelaminan.


Mata Ica berbinar saat melihat berbagai macam makanan yang tersedia secara perasmanan.

__ADS_1


"Daddy.." Ica merengek dan menggerak-gerakkan tangan Zen seperti anak kecil.


"Makan Bby? Boleh sayang, ayo ambil."


"Yeee Makasih Daddy."


"Heii Ica.." Panggil Risya dengan melambaikan tangan nya.


"Bentar ya, ngambil makan dulu nanti kesana." jawab Ica dan Risya pun mengerti.


Ica mengambil setiap makanan yang terlihat menggugah selera, hingga satu piring itu penuh dengan makanan. Ica tersenyum puas, lalu membawa makanan nya ke meja kosong di depan Risya dan Brian.


"Dateng lambat, tapi makanan nya sepiring penuh." Celetuk Brian saat melihat porsi makanan yang Ica bawa.


"Gapapa kali, cathering nya juga dari Daddy." Jawab Ica sambil menjulurkan lidahnya.


"Azwar kemana? Gak dateng?" Tanya Zen sambil menyeruput minuman di gelas nya.


"Enggak, katanya Sintia lagi sakit." Jawab Brian datar.


"Apa? Kak Sintia sakit, kok aku gak tau ya?"


"Di otak Lu sekarang cuma ada makanan, jadi makan aja dulu." Cetus Brian sambil tersenyum mengejek, membuat Ica mengarahkan garpu nya ke wajah Brian lengkap dengan ekspresi kesalnya, tapi pemuda itu hanya tertawa karena menurut nya Ica sangat menggemaskan saat marah.


"Sekali lagi Lu godain bini gue, Gue tampol Lu Bri." Ancam Zen membuat Brian langsung terdiam.


"Ampun bang Ampun,"


"Pawang nya marah anjir!" Gumam Brian sambil memakan kue coklat sebagai pengalihan rasa malu nya.


🌷🌷🌷


Brian sih, kan kena ancam. btw selamat hari raya idul adha😊💜


....


Haii pembaca setia Partner Ranjang Mr Zen, author mau merekomendasikan cerita yang menarik karya temen author, gak kalah serunya sama cerita ini.



Menjadi Istri Rahasia Mr. Hansel, karya Lizaa Zarina.


Blurb👇


__ADS_1


Gimana? menarik kan? ayo mampir, jangan lupa ramaikan kolom komentar, like dan hadiah nya juga, happy reading💜💜


__ADS_2