
Risya turun dari kamar nya dengan menenteng tas selempang, rambut nya dia urai, juga kacamata bulat yang biasa nya bertengger di hidung nya menghilang entah kemana.
"Mata Lo sembab tuh, gak cuci muka ya?" Ledek Brian.
"Seriusan? Gue lupa nutupin nya pake bedak Bri." Jawab Risya panik sambil menepuk-nepuk bawah mata nya.
"Udah lah, ayo berangkat."
"Brii.."
"Napa?" Tanya Brian berbalik dan menatap Risya.
"Makasih ya Bri udah mau bantuin gue."
"Santai aja Sya, kita temenan kan? Udah, gak usah banyak pikiran, yuk berangkat." Ajak Brian.
Mereka pun pergi dan akan menunggu di dekat gapura yang letak nya tak jauh dari tempat pasar malam itu di adakan.
....
Di rumah, Ica pun sedang bersiap-siap. Dia mengenakan mantel dan celana panjang nya, memakai bedak tipis dan membiarkan rambut nya terurai.
"Daddy.."
"Iya By, kenapa sayang?"
"Terus aja pake warna hitam, gak ada yang lain? Yang ini aja biar samaan kayak Ica." Protes Ica, dia bosan melihat Zen selalu dengan pakaian warna hitam.
"Ini bagus Baby."
"Nurut gak? Atau mau Ica gak kasih jatah seminggu?" Ancam Ica, cara ini sangat ampuh biasa nya.
"Selalu saja kesejahteraan senjata Daddy yang di pertaruhkan, ya sudah Daddy ganti."
Ica tersenyum penuh kemenangan, begitu mudah membuat Zen menjadi penurut, cukup ancam saja dia dengan jatah malam nya. Pria memang tak bisa hidup tanpa jatah malam seperti nya.
Tak perlu waktu lama, pria itu keluar dengan mantel yang berwarna senada yang Ica pakai.
"Uhhh Daddy ganteng banget, jadi gemes pengen nyubit." Puji Ica, membuat Zen tersenyum malu.
"Idihh malu-malu, kok aku malah mual ya lihat Daddy tersipu?"
"Baby.."
"Iya Daddy, udah ahh jangan gemesin mulu." Celetuk Ica membuat Zen cemberut.
Ica tertawa melihat tingkah Zen, pria itu sangat menggemaskan saat ini, hanya karena hal sepele pun dia merajuk.
"Daddy tampanku, ayo dong katanya mau ngajak Ica main."
"Cium dulu." Pinta Zen. Ica berjinjit dan mencium mesra bibir Zen, membuat pria itu segera memeluk pinggang gadis nya dengan erat dan menekan tengkuk leher nya dengan satu tangan nya lagi.
Akhirnya ciuman itu malah menjurus ke ciuman dalam yang memabukan, membuat Zen lupa diri kalau sekarang mereka sedang bersiap-siap akan pergi.
Tangan Zen nakal, menyusup ke dalam pakaian gadis nya, meremass lembut buah kenyal gadis nya. Ica yang merasakan bawah tubuh nya mulai basah, segera menghentikan ciuman nya.
__ADS_1
"Kenapa Baby?" Tanya Zen, raut wajah nya seperti kecewa karena Ica menyudahi sesi ciuman mesra nya secara sepihak.
"Kita kan mau pergi Dad, kalau di lanjutkan bisa jadi kita gak jadi ke pasar malam." Jawab Ica, sambil merapikan pakaian nya yang berantakan karena ulah tangan nakal Zen.
"Tapi By.." Zen menunduk melihat celana nya yang menggembung, pertanda ada yang berdiri tegak di bawah sana.
"Nanti ya, kamu boleh masuk sarang nanti. Tapi sekarang mau main dulu, deal?" Ica bicara seolah-olah kalau terong ungu itu bisa bicara dan menjawab.
"Yaudah deh, pokok nya Daddy mau 4 ronde."
"Iya terserah Daddy, ayo pergi Dad." Ajak Ica sambil bergelayut manja di lengan Zen.
Kedua nya pun pergi dengan Ica yang menggandeng mesra lengan Zen.
"Bibi, mau pesen apa?"
"Mau kemana Non?"
"Ica mau ke pasar malam, mau di bawain apa?" Tanya Ica dengan senyum ramah nya.
"Kalau tidak merepotkan, bibi mau jagung rebus ya."
"Itu doang? Yang lain Bi?"
"Sudah Nona, itu saja." Jawab Bi Arin, meski Nona muda nya ramah, tapi dia harus tau diri. Ada tembok transparan yang membatasi kedua nya, meski Ica dan Zen tak pernah memperlakukan nya seperti pelayan lain, tapi tetap saja dia merasa sungkan.
"Oke, kalau gitu Ica sama Daddy pergi dulu. Dadah Bibi."
"Hati-hati ya Non."
"Iya Bi." Kali ini Zen yang menyahut, dia senang melihat gadis nya begitu akrab dengan Bi Arin, kepala pelayan yang sudah bekerja belasan tahun dengan nya.
"Gak cape, By?"
"Cape kenapa Dad?"
"Dari tadi bicara terus, gak kering itu tenggorokan?" Tanya Zen jahil.
"Seret sih Dad."
"Minum dulu sayang." Zen mengulurkan sebotol air minum ke gadis nya, Ica yang memang merasa haus pun langsung meminum nya.
....
Di depan gapura, kedua teman Ica langsung tersenyum senang saat melihat mobil Zen sedang mendekat ke arah nya.
Risya mencubit pinggang Brian, membuat pria itu meringis.
"Napa sih? Cubit segala, sakit."
"Takut Bri,"
"Takut napa? Lo gak punya salah kan? Udah, gak usah ketakutan gitu, Daddy nya Ica baik kok."
"Ya baik sama Ica, tapi gak tau ke kita Bri."
__ADS_1
"Jangan mikir yang enggak-enggak lah, ayo naik cepat." Risya pun kembali naik di boncengan belakang motor Brian, dan mengikuti mobil Ica yang sudah melaju di depan mereka.
Zen kebingungan mencari tempat parkir, ternyata ramai juga orang yang berkunjung ke pasar malam.
"Parkir disana saja Dad, biar gampang keluar nya nanti." Tunjuk Ica ke sebuah lahan kosong dekat pintu masuk. Zen menurut dan memarkir mobil nya disana, sesuai petunjuk gadis nya. Begitu pun Brian yang memarkir motor nya di samping mobil Zen.
Ica keluar dengan antusias, dia celingukan mencari spot pertama yang akan dia kunjungi.
"Kemana dulu Ca?" tanya Risya.
"Makan dulu, apa main dulu?" Balik tanya Ica, meminta pendapat kedua teman nya.
"Naik itu mau gak?" Tunjuk Brian pada bianglala berbentuk sangkar burung.
"Boleh, yuk kesana."
"Tungguin Daddy Lo dulu kali Ca."
"Ehhh iya, saking seneng nya sampe lupa." Ica mendekat ke arah mobil dan mengetuk kaca mobil.
Zen menoleh dan segera keluar.
"Ngapain di dalem sih Dad? Kita kesini mau main, bukan mau ngetem di dalem mobil." Gerutu Ica.
"Maaf Baby, ada klien yang mengirim email."
"Issshh, kan ini udah malem Dad. Kalau malem kan bagian Daddy sama Ica."
"Iya, iya sayang. Daddy minta maaf, mau kemana dulu?"
"Naik itu yuk, Risya sama Brian udah kesana duluan."
"T-api By.." Ica menarik tangan Zen dan memaksa nya naik wahana itu. Dia tak tau saja kalau Zen takut ketinggian.
"Daddy pucat, kenapa?" Tanya Ica saat keempat orang itu sudah di dalam sangkar burung.
"Mana? E-enggak kok." Bantah Zen, padahal dalam hati dia ketakutan setengah mati.
Saat bianglala itu mulai berputar, Zen memegang erat tangan gadis nya, membuat Ica keheranan.
"Daddy baik-baik saja?"
"Ya, Daddy baik By." Ica menyeka kening Zen yang berkeringat, saking takut nya pria itu sampai berkeringat dingin.
Zen bernafas lega saat permainan itu berhenti, dia berhasil menahan rasa takut nya demi kebahagiaan sang gadis.
"Sya, fotoin dong.." Pinta Ica, Risya pun mengiyakan dan mengambil foto sepasang kekasih itu.
"Udah Ca." Risya mengembalikan ponsel pada Ica, sebisa mungkin dia bersikap sebiasa nya, meski dalam hati dia takut Zen mengenali nya.
....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Foto yang di ambil Risya😍
Vote, masih hari selasa🤣 kalau ada vote nganggur sumbangin kesini ya bestie😂