Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 43


__ADS_3

"Dah malem nih, gue mesti balik cepet. Takutnya anak buah Daddy laporin gue pulang malem, nanti dia ngamuk lagi."


"Hati-hati di jalan beb." Ucap Hani, Ica menganggukan kepala nya dan pergi di ikuti anak buah Zen.


"Haduh, berasa kayak jadi tawanan nihh.." Gumam Ica saat melihat begitu banyak body guard di belakang nya.


Ica keluar dari mall dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu nya, baru lah body guard itu pergi menjauh.


Ica mengusap dada nya, dia merasa lega. Setidaknya orang-orang tak memperhatikan dirinya kalau sudah di mobil.


"Banyak banget bodyguard Daddy, pak.."


"Itu masih belum seberapa Nona, mengingat tuan muda adalah orang penting, jadi beliau menyewa banyak bodyguard, termasuk untuk menjaga Nona dari bahaya, seperti tadi." Jawab supir yang juga salah satu bodyguard milik Zen.


"Ohh iya pak, untuk masalah tadi bisakah bapak tak perlu memberi tahu Daddy?"


"Maaf Nona, untuk itu saya tak bisa. Tuan Zen sudah sangat tegas memberi perintah pada kami agar segera melapor jika ada yang menyakiti Nona, kami takut tuan akan marah besar jika kami tak melapor." Jawab sang supir membuat Ica cemberut.


"Baik pak, terimakasih."


Supir nya hanya mengangguk dan fokus menjalankan mobil nya, memastikan agar Nona muda nya tak tergores sedikit pun, kalau tidak Zen pasti marah besar.


...

__ADS_1


Ica turun dari mobil setelah sang supir membukakan pintu, tapi alangkah terkejut nya dia saat melihat siapa yang sudah menunggu nya di ambang pintu.


Wanita paruh baya dengan dandanan norak, rambut nya pirang dengan lipstik yang menyala.


Siapa lagi kalau bukan nenek sihir alias ibu tiri Ica.


"Mau apalagi wanita itu kesini? Bikin mood berantakan aja."


Melihat ekspresi Ica, supir yang sedari tadi berdiri di samping Ica segera maju, menyembunyikan Ica di punggung nya saat mata nya menangkap gelagat aneh dari tamu tak di undang itu.


"Ica, anak Ibu.."


"Aku bukan anak mu, siapa kau? Ibu ku sudah mati." Jawab Ica datar.


"Jangan lupa Ca, selama ini kau hidup bersama siapa? Aku yang memberi mu makan dan tempat tinggal."


"Jangan sombong, kalau bukan karena Zen kau takkan bisa seperti ini."


"Memang, kalau bukan karena bantuan Daddy, mungkin aku masih hidup dan tinggal bersama nenek lampir di rumah itu." Jawab Ica santai, berbeda dengan ekspresi ibu tiri Ica yang sudah kesal.


"Dasar anak tidak tau diri!" Pekik Ibu tiri Ica.


"Sudahlah, katakan tujuan mu sebenarnya hingga jauh-jauh datang ke rumah ini."

__ADS_1


"Minta duit? Gak ada, semua yang aku punya itu milik Daddy, aku hanya membantu nya menghabiskan uang nya, tapi bukan berarti aku akan memberikan nya padamu."


"Pak, saya lelah ingin istirahat dulu ya. Tangani wanita ini, kalau perlu seret saja." Ucap Ica, lalu dia pergi tanpa menghiraukan ibu tiri nya.


"Awas kau ya, akan ku balas semua nya!"


"Sudah, jangan berteriak di rumah ini, berisik." Ucap salah satu bodyguard Zen yang sudah berdiri tegap di belakang tubuh ibu tiri Ica, membuat nyali wanita itu menciut.


"Pergi sendiri atau saya tendang?"


"S-saya.."


"Lain kali ngemis jangan disini ya mbak, disini gak menerima pengemis." Celetuk nya, membuat ibu tiri Ica mendelik.


"Heh, aku bukan pengemis ya!"


"Terus? Orang yang minta-minta itu nama nya apa kalau bukan pengemis?" Tanya body guard Zen.


Nenek lampir itu pun pergi dari rumah Zen dengan membawa kekesalan yang begitu kentara di wajah nya.


Memang bodyguard Zen, selain menakutkan dari segi penampilan, mereka juga bermulut pedas, membuat lawan bicara nya kena mental termasuk ibu tiri Ica.


....

__ADS_1


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Ibu sama anak sama aja๐Ÿ™„๐Ÿ™„


__ADS_2