
Setelah kepergian Zen, dan warga. Seseorang berdiri dengan tatapan tajam, dari raut wajah nya saja sudah di pastikan dia punya niat tak baik. Dia mengepalkan tangan nya kuat, api kemarahan tengah melanda hati nya, bagaimana wanita rendahan sekelas Meisya bisa berhubungan dengan pria sekelas Azzendra? Sudah jelas dia tak ada bandingan nya!
Tapi dia belum menyerah begitu saja, dia masih punya rencana yang sudah dia susun sebaik mungkin. Dia tersenyum smirk lalu kembali masuk ke dalam rumahnya, bersiap membuat kekacauan pagi nanti.
Di rumah, Meisya tengah tertidur lelap di temani Sintia. Dia kelelahan menangis dari tengah malam hingga hampir pagi, sedangkan Azwar memilih duduk di ruang tengah dengan tangan yang memijit pelipisnya.
Dia memang sangat ingin membawa Meisya bersamanya, tapi dia tak enak pada sang istri meskipun wanita itu pasti takkan keberatan, tapi tetap saja rasanya pasti akan jauh berbeda, terlebih mereka berdua baru saja menikah.
"Mas, kamu sudah pulang?" Tanya Sintia, dia mengucek mata nya yang terasa berat. Di bangunkan tengah malam saat tengah terlelap nyenyak dalam dekapan hangat sang suami membuat Sintia cukup kesulitan mengontrol rasa kantuk nya, terlebih di usia kandungan nya yang masih sangat muda, dia membutuhkan istirahat yang extra.
"Sudah sayang, apa Mas membangunkan mu?"
"Tidak Mas, aku ingin pipis. Apa Mas ingin aku buatkan kopi?" Tanya Sintia.
"Boleh sayang, terimakasih."
"Iya Mas." Jawab Sintia, wanita cantik itu pergi ke dapur dengan langkah malas nya. Dia sangat mengantuk, tapi kewajiban nya memaksa nya untuk tetap melayani sang suami di tengah rasa kantuk yang menyerang kedua mata nya.
Tak lama, Sintia sudah kembali dengan secangkir kopi hitam dengan asap yang mengepul.
"Ini Mas, bagaimana pria itu?" Tanya Sintia.
"Dia sudah di penjarakan oleh tuan Zen."
"Apa tuan Zen kesini?" Tanya Sintia lagi, pasalnya dia tak melihat mobil mewah pria itu melintas, atau mungkin saat dia di kamar bersama Meisya hingga tak mendengar suaranya?
"Iya, sepertinya dia mengintrogasi Arian yang terlambat bekerja." Jawab Azwar pelan.
"Aku heran, kenapa tuan Zen selalu datang tepat waktu?"
__ADS_1
"Entahlah sayang, tapi Mas sangat bersyukur mempunyai adik ipar seperti dia, bukan karena kekayaan nya, tapi karena pria yang baik dan sangat tepat untuk menjaga Ica." Jawab Azwar, Sintia menyunggingkan senyum manis nya, mendengar nama Ica membuat nya teringat akan sosok gadis manis yang mampu membuatnya tertawa terbahak-bahak karena tingkah gemas nya dulu. Tapi saat ini dia berubah menjadi gadis mesuum, mungkin karena efek terlalu sering melakukan nya.
Azwar menyeruput kopinya perlahan, tapi suara keributan di luar membuat nya tersedak hingga kopi yang baru saja dia minum itu menyembur, hampir saja mengenai wajah sang istri.
"Keributan apalagi ini?" Gumam Azwar.
"Sayang, jangan keluar. Jaga kondisi Meisya, aku yakin dia trauma." Sintia mengangguk dan pergi ke kamar adik nya dengan cepat. Sedangkan Azwar keluar, dia melihat warga yang datang berduyun-duyun, dengan membawa kertas berisi ujaran kebencian pada Meisya. Seperti Jalaang, pelacurr, murahaan, dan masih banyak lagi tulisan yang membuat emosi Azwar kembali memuncak.
"Usir wanita jalangg itu dari kampung kita, nanti kampung kita terkena sial gara-gara memelihara wanita yang kotor!" Ujar mereka menyuarakan aspirasi mereka dengan nada tinggi, penuh kemarahan dan kebencian.
"Siapa yang kau panggil jalangg itu hah?"
"Siapa lagi kalau bukan adik mu yang membawa kesialan bagi kami." jawab nya dengan berani.
"Apa mulut mu itu tak pernah mengenal bangku sekolah? Bagaimana bisa seorang wanita di katakan kotor gara-gara hampir di perkosaa? Siapa yang mau mengalami hal naas seperti ini, apa kalian tak punya anak gadis hah? Bagaimana kalau anak kalian yang ada di posisi Meisya?"
"Kalian seorang Ibu harusnya berempati dengan kejadian ini, apa kesalahan adik saya disini? Tidak ada kan? Dia hanya menumpang tinggal disini, itu pun bayar setiap bulan, gak gratis! Lalu karena kejadian ini kalian menyalahkan adikku?" Ucap Azwar, mata nya menyalak tajam menatap kumpulan warga yang sudah mulai ketar ketir. Tapi sang pembuat kekacauan masih belum menyerah, dia kembali menghasut warga dengan kata-kata yang meyakinkan, karena dia yakin Zen takkan kembali jadi dia merasa berani.
"Yakin sudah mendidik anak mu dengan benar? Bahkan dari cara mu bicara yang tak beretika, aku sendiri tak yakin kau bisa mendidik anakmu dengan baik! Apa pantas, seorang ibu dari anak yang berpendidikan mengatakan hal-hal tak pantas semacam ini? Ingat, kalian sama-sama wanita." Ucap seseorang dari belakang, refleks semua nya menoleh ke belakang.
Mata wanita itu membulat saat melihat siapa yang berdiri dengan payung hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
"Seperti nya kau belum merasakan bagaimanapun sakit nya saat mulut kotor itu di robek ya?" Ucap nya, dia berjalan pelan mendekati wanita baya yang nampak kelimpungan saat ini. Dia pikir Zen yang datang, rupanya Arian yang datang menepati janji akan datang pagi ini.
"Hallo, saya Arian! Apa kabar, aku yakin kau baik. Kalau tak baik, mana bisa kau melakukan komporisasi kepada warga setempat untuk melakukan hal semacam ini kan? Ckkk, wanita penjilat!"
"Jaga kata-kata anda, siapa yang kau panggil wanita penjilat?" Arian menyeringai, tiba-tiba saja dia memperlihatkan sebuah video yang menunjukkan wanita itu tengah menghasut warga agar mengusir Meisya dari kampung ini secara paksa dengan alasan perempuan itu sudah mengotori kampung.
"Bagaimana bisa, istri seorang pengurus warga melakukan hal semenjijikan ini? Ckk, kalau memang tak menyukai gadisku, bilang baik-baik. Aku dengan senang hati akan membawanya bersama ku, lagian apa bagusnya tempat ini? Persis seperti kandang ayam, aku malah mendapat 100 kali lipat lebih baik secara cuma-cuma!" Ucap Arian, dia juga mengatai tempat tinggal Meisya itu seperti kandang ayam, karena memang terletak di lingkungan yang kumuh.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Berhenti dan minta maaf pada gadisku, atau ku robek mulut sialan mu itu dan ku sebar video ini agar suami mu di pecat dari jabatan nya yang hanya ketua RT itu?"
"Ancaman macam apa itu, tak akan mempan untuk ku, lagian siapa kau? Kau tak seberpengaruh Tuan Zen," Ucap Ibu paruh baya yang ternyata istri ketua RT disini.
"Ini?" Arian menunjukkan sebuah video saat putri nya sedang melakukan hal tak senonoh dengan seorang pria tua sepantar ayahnya.
"Jadi ini cara mendidikmu? Katanya kau mampu mendidik anakmu, tapi apa ini? Cihh, kau tak ubahnya serigala berbulu domba!"
Warga mulai berbisik-bisik tentang wanita itu, dan Arian tau dengan jelas hal itu, dia mengetahui anak perempuan itu adalah putri dari ketua RT di kampung Meisya tinggal, dia pernah beberapa kali menggoda nya dengan menawarkan tarif yang cukup terjangkau untuk sekali main, tapi Arian tak menyukai hal semacam itu jadi dia dengan tegas menolak.
"Bagaimana?" Wanita itu pergi dengan menanggung malu yang tak ada duanya, wajah nya memerah karena menahan malu.
"Main-main dengan saya? Bersiaplah aib kalian saya buka satu persatu!" Tegas Arian, membuat warga beringsut pergi meninggalkan tempat itu sebelum Arian membuka semua aib mereka. Nyatanya, mereka tak lebih baik daripada Meisya, perempuan yang katanya sudah mengotori kampung mereka.
"Arian.."
"Mana Meii?" Tanya Arian, dia langsung menanyakan keadaan gadis nya, sungguh keadaan tadi membuat nya khawatir.
"Ada di kamar bersama Sintia."
"Bisa beri waktu kami bicara, berdua?" Tanya Arian, meminta izin pada kakaknya Meisya.
"Ya, silahkan." Jawab Azwar mempersilahkan Arian masuk.
......
π·π·π·π·
Haii, author up 2 bab hari ini sebagai permintaan maaf karena kemarin 2 hari gak upπͺ
__ADS_1
gini, cerita ini kebanyakan second lead atau pemeran pembantu sampe tokoh utama nya tenggelam, jadi author bakal lanjutin cerita Meisya sama Arian di season 2 ya, tentunya setelah 3 couple pada happy ending juga. jadi sekarang kita fokus aja sama Zen&Ica, Hani&Bimo, Risya& Brian, pada setuju gak?π