Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 110


__ADS_3

Pagi hari, Ica merasakan sejuk di kaki nya. Ica menyangka kalau selimut nya mungkin terjatuh, tapi ternyata itu ulah Zen yang jahil dengan meneteskan air agar gadis nya bangun.


Merasa tak mempan, akhirnya Zen berjalan dan meneteskan air dari rambut basah nya ke wajah sang gadis, membuat Ica terbangun seketika.


"Daddy ihh jahil banget sihh.." Gerutu Ica sambil mengusap pipi yang tadi terkena tetesan air.


"Habis nya kamu susah banget di bangunin, ayam kamu laper tuh." Ucap Zen santai.


"Bangunin Ica cuma karena ayam Dad?"


"Hari ini kamu kuliah sayang,"


"Ohh iya ya, Ica lupa. Makasih udah bangunin Ica."


"Sama-sama By, ayo mandi." Ica menganggukan kepala nya dan pergi ke kamar mandi.


Ponsel di meja nakas terus saja berbunyi, membuat Zen yang sedang memakai pakaian nya harus keluar dulu dan mengangkat panggilan nya.


"Hallo tuan.."


"Ada apa menelpon sepagi ini? Cecunguk itu tak kabur kan?" Tanya Zen, dia menjepit ponsel nya di antara bahu dan telinga, sedangkan tangan nya mengancingkan kemeja di bagian tangan.


"Tidak tuan, saya hanya mengabari kalau anak buah yang berhianat juga ada sangkut pautnya dengan semua ini. Saling berhubungan.."


"Nanti saja, sebentar lagi aku ke kantor setelah mengantar gadis ku ke kampus. Jangan ganggu dulu, kau mengerti?"


"Baik tuan.."


Klikk..


Zen mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.


"Ini kancing kenapa susah banget masuk sih." Gerutu Zen, entah dia memang tak bisa mengancingkan nya atau memang lubang kancing nya terlalu kecil.


"Kenapa Dad?" Tanya Ica yang baru keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang membungkus tubuh polos nya.


"Ini By, susah banget."


Ica tersenyum dan mengambil alih pekerjaan yang tak bisa Zen lakukan.


"Daddy, gak bisa masukin kancing? Bisa nya cuma masukin aku." Ucap Ica sambil mengancingkan kancing kemeja Zen.


"Ya itu mah gampang By, gelap juga Daddy bisa masuk." Jawab Zen sambil terkekeh.


"Tapi gak bisa masukin kancing ke tempat nya, aneh."

__ADS_1


"Lubang nya kecil By, jadi nya susah."


"Punya Ica juga kecil tapi Daddy bisa." Goda Ica.


"Sudahlah By, lebih baik kamu segera berpakaian. Itu mu menggoda Daddy." Zen menunjuk tepat ke arah belahan dada gadis nya yang putih mulus.


"Yaudah, Ica pake baju dulu."


....


Zen dan Ica sedang dalam perjalanan ke kampus, dengan Bimo yang menjadi supir nya.


"Dad, kangen sama Hani deh."


"Kata nya mau double date." Ucap Zen, sedangkan Bimo tak menyahut atau pun mendengar obrolan kedua insan itu, dia selalu memakai headset untuk berjaga-jaga kalau tuan dan Nona muda itu berbuat tak senonoh di dalam mobil. Mengingat kedua nya manusia bucin yang biasa nya tak mengenal waktu dan tempat untuk bisa melakukan adegan yang membuat jantung copot.


"Nanti Ica telpon lagi Hani nya, kapan mau ngenalin Daddy nya sama aku."


"Iya By.."


Mobil yang di kemudikan Bimo berhenti di gerbang kampus, di sana kedua teman Ica sudah menunggu.


"Ica turun ya Dad, semangat kerja nya."


"Kamu berapa materi hari ini, By?" Tanya Zen.


"Ke kantor Daddy ya? Mau?"


"Iya Dad, nanti setelah selesai Ica ke kantor Daddy."


Ica pun turun dari mobil dan menutup pintu mobil nya, tentu setelah dia memberi Zen vitamin sebelum bekerja.


"Pagi bestod.." Sapa Ica pada kedua teman nya, siapa lagi kalau bukan Brian dan Risya.


"Pagi juga cukk.."


"Hari ini ada apa? Kok bediri disini? Biasa nya kan nunggu di kantin."


"Gak ada apa-apa sih, cuma kemaren ada ibu-ibu yang nanyain Lo ke kita."


"Siapa?"


"Dia bilang sih ibu Lo."


"Mungkin ibu tiri, udahlah. Gue suka emosi kalau bahas tentang nek lampir itu." Celetuk Ica lalu berjalan duluan meninggalkan kedua teman nya.

__ADS_1


.....


Di kantor, tepat nya di ruangan direktur. Suasana mencekam mewarnai pagi yang cerah ini, tapi aura dingin begitu terasa hingga membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu beberapa kali menyentuh tengkuk nya.


Zen berdiri tegak dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celana.


"Jadi ini tampang-tampang penghianat itu? Cihh.." Zen meludah ke samping, dia begitu muak dengan orang-orang yang bermuka dua.


Zen berjongkok, memegang dagu salah satu anak buah nya yang berhianat. Ya, kenapa bisa kecolongan padahal bodyguard dia kerahkan untuk menjaga gadis nya, jawaban nya adalah ada salah satu yang berhianat.


"Sayang sekali, kau anak buah kepercayaan ku? Kenapa kau melakukan ini? Aku percaya padamu, kurang baik apa aku selama ini hmm?"


"Jawab!" Bentak Zen membuat suasana semakin menegang.


"Kurang nya apa sampai kau melakukan hal menjijikan seperti ini? Aku menyekolahkan anak mu, aku membiayai orang tua mu, aku juga memberi mu pekerjaan dengan gaji yang besar!"


"Susah memang kalau pada dasarnya b*bi, sudah di bilang kotoran, tetap saja di makan." Sindir Zen, karena pria itu terus bungkam.


"Kita bertemu lagi brengs*k Alberto Guinine." Zen menatap tajam pria bernama Alberto itu, pria itu pun melemparkan tatapan yang sama.


"Aku kira hidup mu sudah hancur Albert, dan ternyata kau memang pengangguran. Setelah menjadi gig*lo dari Rosa, sekarang kau mengusik ku dengan menjatuhkan saham ku?"


"Pria miskin tak tau diri." Pekik Zen, dia menendang rahang pria itu. Sudah cukup selama ini dia mendiamkan kelakuan Alberto, tapi semakin di diamkan pria itu malah semakin menjadi.


Alberto meringis, rahang nya terasa hancur karena tendangan dari Zen yang kuat membuat tulang nya bergeser.


"Kau tau sendiri aku sangat membenci mu dari dulu Zen."


"Cihh, punya apa kau mau menyaingi ku? Jadi anak pembunuh saja kau begitu bangga!"


"Jaga kata-kata mu Azzendra!"


"Aku? Harus menjaga kata-kata ku? Itu fakta nya Albert, orang tua mu adalah dalang dari kecelakaan orang tua ku 15 tahun lalu."


"Jangan bicara sembarangan tanpa bukti." Pria itu menyangkal, dia yakin orang tua nya takkan berbuat sekeji itu.


"Tanpa bukti?" Zen mengambil setumpuk berkas-berkas bukti penggelapan dana perusahaan dan hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa kelam belasan tahun lalu.


Albert membulatkan mata nya, Zen benar-benar mendapatkan semua bukti kejahatan kedua orang tua nya di masa lalu. Dia menggelengkan kepala nya, merasa tak percaya dengan poto-poto yang berserakan di depan nya.


"Kau percaya? Lalu sekarang kau berbuat seperti ini? Benar ya, anak pasti akan mengikuti kelakuan bejatt orang tua nya, terbukti." Zen berkata dengan sinis.


....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Maaf baru up, mood nya baru muncul😪😪😪 jangan pada kabur, kasih semangat yang banyak ya🙏


__ADS_2