
Siang harinya, Brian memilih pulang. Risya juga tidak pergi kuliah karena tadi pagi karena malas jawabnya saat tadi Brian menanyai nya.
Risya duduk termenung di kursi teras, sesekali menghidupkan ponsel dan mencoba menghubungi sang kekasih, dia bosan di rumah seharian tapi berangkat kuliah juga rasanya malas.
"Brian kemana sih? Katanya ada urusan sebentar, tapi lama." Gerutu Risya, setidaknya kalau Brian ada di rumah dia takkan terlalu merasa bosan.
Tak lama, terdengar suara motor yang mendekat. Risya mengernyitkan dahi nya, dia pikir siapa yang datang ke rumahnya dengan motor gede?
Motor itu berhenti, Risya juga berdiri dari duduknya dan mendekat, kira-kira siapa yang datang? Tapi ternyata dia terkejut saat melihat pria itu membuka helm nya, Brian yang datang dengan motor gede yang entah punya siapa.
"Lho Sayang, ini motor siapa?" Tanya Risya.
"Dapet pinjem punya Bang Rian, Sayang. Kenapa?"
"Enggak kok, tadi aku pikir siapa yang kesini pake moge." Jawab Risya sambil cengengesan.
"Kamu bosen Yang?" Risya menganggukan kepalanya, dia memang sangat bosan hari ini.
"Jalan-jalan mau? Beli jajanan." Ajak Brian, sebenarnya Risya mau tapi ada alasan yang membuat nya berfikir dua kali untuk menerima tawaran sang kekasih.
"Sayang.."
"Aku mau, tapi nanti uang kamu habis dong, kalau aku boros." Jawab Risya membuat Brian terkekeh.
"Aku kan kerja Sayang, ya gapapa uang nya habis kan bisa nyari lagi." Ucap Brian lalu menangkup wajah Risya.
"Nanti kamu kecapean Sayang, udah di rumah aja."
"Kalau kamu mau jalan-jalan, Ayo Sayang. Jangan mikir-mikir yang lain, nanti aku kerja kok, uangnya kamu yang simpen. Mumpung ada motor juga," Bujuk Brian. Dia tak tega melihat Risya hanya diam di rumah tak pernah keluar lagi setelah pulang kuliah.
"Siap-siap sana, pakai celana panjang, pakai jaket ya."
__ADS_1
"Makasih Ayang." Jawab Risya dengan senyum berbinarnya, membuat Brian gemas dan mengecup singkat kening Risya, lalu membiarkan nya pergi bersiap-siap.
"Akan aku buat kamu bahagia Sya, apapun alasan dan ujian yang akan kita dapat, semoga kita bisa menghadapi nya bersama-sama." Gumam Brian, dia duduk di kursi teras dengan pandangan lurus ke depan, ke halaman rumah yang di penuhi bunga berwarna-warni.
Tak lama, Risya sudah kembali mendekat. Penampilan nya sederhana, tapi selalu terlihat cantik menurut Brian. Iyalah, namanya juga cinta ya kan?
"Ututtuu, cantiknya ayang aku." Puji Brian membuat Risya tersenyum malu-malu.
"Yuk berangkat.." Ajaknya.
"Hayuk Sayang, jangan lupa kunci pintunya." Peringat Brian, membuat Risya langsung mengecek kembali pintu nya, dan ternyata memang benar pintu itu belum di kunci, beruntungnya Brian mengingatkan Risya, perempuan itu memang suka lupa sekarang.
Brian memarkir motornya lalu Risya pun naik ke boncengan Brian, memeluk pinggang nya dengan mesra.
"Sudah siap Ay?" Tanya Brian.
"Siap Sayang!" Pekik Risya kegirangan, Brian pun melajukan motor itu keluar dari gerbang rumah Risya.
"Kemana aja asal sama kamu." Jawab Risya, setengah berteriak juga.
Brian menghentikan motornya di lampu merah, pria itu mengusap lembut tautan tangan Risya yang melingkar di pinggangnya, sesekali juga mengusap lutut sang gadis, membuat Risya merasa seperti di cintai lebih banyak.
Tapi, tanpa mereka tahu ada sepasang mata yang menatap mereka dari jendela mobil. Waanita paruh baya itu membuka kacamata hitam nya, mata nya memicing saat melihat gadis yang membuat putranya membangkang perintah nya, tapi siapa pemuda yang bersamanya? Terlebih mereka terlihat sangat mesra.
"Gadis binall, jadi dia hanya memanfaatkan putraku saja? Akan aku perlihatkan kelakuan gadis yang dia puja-puja itu, kita lihat bagaimana reaksi nya." Wanita itu menyeringai jahat. Tanpa dia tahu kalau pemuda yang bersama Risya itu adalah putra nya sendiri, bahkan dia tak mengenali postur tubuh putranya sendiri, sangat di sayangkan.
Singkatnya, motor itu kembali melaju begitu pun mobil yang di tumpangi oleh ibu Brian melesat menembus padatnya jalan raya.
Brian menghentikan motornya di taman, kedua nya turun dan berjalan dengan tangan yang bertaut mesra. Keduanya saling melempar senyuman manis, ini adalah acara jalan-jalan ala anak muda yang tengah di mabuk cinta.
"Jajan es krim gak Yang?" Tanya Brian sambil menunjuk stand yang menjual es krim berbagai macam rasa.
__ADS_1
"Mau, tapi satu buat berdua aja ya, biar romantis." pinta Risya, tapi Brian tau Risya mengatakan hal itu karena ingin mengirit pengeluaran, masih banyak barang keperluan rumah yang belum terbeli, itulah alasan nya.
"Beli dua aja ya Sayang, satu gak bakalan puas makan nya."
"Yaudah terserah kamu aja kalau gitu." Pasrah Risya. Brian pun menarik tangan Risya dan membeli es krim rasa coklat dan vanilla. Keduanya pun duduk di bangku panjang dekat dengan danau buatan. Disinilah tempat Azwar melamar Sintia dulu.
"Yang, kamu yakin sama aku kan?" Tanya Brian pelan.
"Iya dong, kenapa memangnya?"
"Aku cuma nanya aja, Yang." Jawab Brian sambil menikmati es krim nya.
Brian berdiri dari duduknya, tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celana nya lalu berlutut di depan Risya. Membuka kotak berisikan cincin bertahta kan berlian di atas nya.
Risya menutup mulutnya, kedua matanya berkaca-kaca, dia merasa terharu dengan apa yang di lakukan Brian saat ini.
"Marisya, Aku Brian Sebastian, meminta dengan segenap hati dan perasaan yang aku punya, aku ingin meminang mu menjadi pendamping hidup ku, mau kah kamu menjadi istriku? Separuh dari hidupku, berbagi suka dan duka bersama?" Ucap Brian bersungguh-sungguh.
Risya tersenyum dan menganggukan kepalanya, Brian berdiri dan memasangkan cincin itu di jari manis Risya.
"Aku mencintaimu Marisya, tetaplah di sisiku apapun yang terjadi."
"Tentu saja, aku akan selalu mendampingi mu dalam keadaan apapun." Jawab Risya, Brian memeluk sang kekasih dengan erat, gadis itu pun membalas pelukan Brian tak kalah erat nya.
"Yeaahhh, selamat.." Pekik seseorang, membuat kedua nya melerai pelukan mereka dan melihat siapa yang datang.
.....
🌷🌷🌷
__ADS_1
horeyyy🤭🤭🤭