
Arian masuk ke dalam rumah, dia menatap Meisya yang juga tengah menatap ke arahnya, tapi tatapan nya kosong seolah jiwa nya hilang entah kemana.
"Eemm, saya keluar dulu." Pamit Sintia, dia meninggalkan Meisya bersama Arian di kamar nya.
Pria itu berjalan mendekat dan duduk berlutut di hadapan Meisya, dia menggenggam kedua tangan perempuan itu, membuatnya refleks menarik kembali tangannya.
"Aku bukan laki-laki pengecut, Mei." Ucap Arian pelan, dia kembali menggenggam tangan Meisya dan kali ini Meisya membiarkan nya.
"Mei, ikutlah bersamaku. Agar aku bisa menjagamu secara langsung, sejujurnya aku sangat tak rela melihat mu tinggal di tempat seperti ini, apalagi setelah kejadian ini." Meisya masih diam, tak merespon apapun tapi tatapan nya sekarang menyiratkan sebuah rasa sakit yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Dia tau masalalu nya tak jauh dari hal seperti ini, tapi kenapa rasanya sakit sekali saat dirinya sudah memutuskan untuk berubah, tapi ada saja yang berniat membuat nya kembali hina?
Memang berubah menjadi lebih baik itu tidak mudah, selalu saja ada halangan nya, termasuk kejadian yang menimpa Meisya saat ini.
"Ingin menangis, kemarilah. Menangis di pelukanku, Mei." Ucap Arian saat melihat kedua mata Meisya berkaca-kaca, dia duduk di samping perempuan itu dan meraihnya ke dalam pelukan. Benar saja, Meisya menangis sejadinya di pelukan Arian, tangisan yang terdengar sangat pilu.
Arian memeluk tubuh perempuan itu dengan erat, sesekali mengusap punggung Meisya yang bergetar karena tangisan nya.
"Tak apa Mei, menangislah jika itu bisa membuat mu tenang. Lepaskan saja tak apa-apa." Ucap Arian pelan, dia terus memeluk wanita itu, berusaha menenangkan nya. Padahal yang tadi memancing Meisya untum menangis kan dia ya? tapi sekarang dia kelimpungan juga menenangkan isakan nya.
Setelah cukup lama menumpahkan tangisan nya di pelukan Arian, Meisya melerai pelukan itu, memberanikan diri menatap mata pria itu. Sejujurnya dia bukan tak suka dengan Arian, tapi cenderung takut jika pria itu tak bisa menerima masa lalu nya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Arian dengan sedikit senyuman di ujung bibirnya. Meisya menundukan kepala nya dan mengangguk perlahan.
"Jadi, kau mau ikut denganku? Tinggal bersamaku kan? Aku tak bisa meninggalkan mu di tempat seperti ini, terlebih banyak musuh dalam selimut yang setiap saat memantau dirimu, Mei."
__ADS_1
"A-aku takut.." Jawab Meisya.
"Aku manusia Mei, bukan vampir atau semacamnya, lagipun aku suka bawang putih."
"Bukan seperti itu.."
"Lalu? Takut kenapa? Aku takkan melakukan apapun tanpa persetujuan darimu, Mei."
"Aku punya masa lalu yang buruk, aku kotor Ar. Aku bukan wanita yang baik, jadi berhentilah membuat aku merasa nyaman." Ucap Meisya pelan.
"Setiap orang pasti punya masa lalu, entah baik atau buruk. Jadikan itu sebagai pengalaman, tapi bukan ilmu yang harus di ulang. Karena masalalu, sebaik apapun itu tetap masalalu Mei. Aku tak peduli seberapa buruk apapun masa lalu mu, aku akan siap menerima semua nya, tanpa syarat apapun." Jawab Arian tegas, terlihat dari sorot matanya.
"Tapi Ar, a-aku..."
"Kita manusia biasa Mei, tentu nya kecil besar pun pasti pernah punya kesalahan. Tapi, apa kita akan terkunci dengan sebuah kenangan yang bahkan mengingat nya saja mampu membuat hati mu sesak? Lupakan dan mulailah hidup baru dengan ku, Mei. Aku berjanji akan melakukan apapun yang terbaik untukmu, aku yang akan menjagamu dengan segenap jiwa dan ragaku."
"Ya Mei, bagaimana? Aku serius dengan ucapanku. Aku tak pernah main-main dengan yang namanya perasaan."
"Ya, aku mau ikut bersamamu." Jawab Meisya, setelah di pikir-pikir juga ada baiknya dia meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat.
"Aku yang akan mengatakan nya pada kakakmu, aku juga akan meminta izin padanya secara khusus." Arian mengusap lembut rambut Meisya dan mengecup singkat kening nya, membuat Meisya mematung karena perlakuan lembut dari pria itu.
Arian keluar dari kamar nya, dia melihat Azwar sedang bersama Sintia.
__ADS_1
"Buatkan kopi untuk Arian sayang."
"Iya Mas." Patuh Sintia, dia segera bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur.
"Kenapa Arian? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengan ku."
"Meisya sudah setuju untuk ikut bersamaku, tak usah khawatir, aku berjanji akan melindungi nya dengan baik."
"Arian, aku tak tau harus mengatakan apa saat ini. Tapi, apa kau mau menerima Meisya dengan semua kekurangan nya?" tanya Azwar.
"Aku yang akan melengkapi kekurangan Meisya, tak masalah. Bahkan masa lalu seburuk apapun aku siap menerima nya dengan lapang dada, kak." Jawab Arian tegas, membuat Azwar kagum dengan keberanian pria itu.
"Baiklah, kalau adikku sudah setuju aku bisa apa selain mengizinkan. Tapi, aku minta jika kau sudah tak menginginkan Meisya, kembalikan dia secara baik-baik padaku."
"Jangan bicara hal yang belum tentu terjadi, aku mencintai Meisya dan apa yang sudah aku miliki takkan aku lepas semudah itu." Jawab Arian, lagi-lagi membuat Azwar kagum.
"Hari ini juga aku akan membawa Meisya pindah dari tempat terkutuk ini, aku tak rela Meisyaku di perlakukan seperti ini."
"Lakukan saja apa yang menurut mu benar, Arian!" Arian mengangguk, dia menghubungi teman-teman nya untuk membantu acara pindahan ini, beruntung saja hari ini banyak rekan-rekan nya yang sedang liburan.
.....
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
gentel banget sihh Arr, jadi iri dehh🤭🤭🤭
ini bab terakhir Meisya sama Arian ya, setelahnya mereka gak akan muncul secara khusus, selamat berjumpa di season 2😁