
Di bar, terjadi keributan besar dimana pemilik tempat itu terus menerus menghalangi jalan nya pembongkaran tempat itu. Bukan hanya sekedar di tutup, tapi bangunan nya pun di robohkan dengan alat berat.
Orang-orang berseragam hitam berlalu lalang membuang benda-benda dari tempatnya, menghancurkan semua nya hingga rata dengan tanah.
Pria itu mengepalkan tangan nya, dia adalah pria bermuka dua. Di depan Bimo dia bersikap baik, padahal di belakang dia begitu membenci pria itu, pria yang sejak jaman sekolah dulu selalu punya apa yang dia tak punya.
Bimo yang pada dasarnya tulus berteman pun beberapa kali di manfaatkan, hingga puncak nya dia marah karena sudah berani menyentuh gadis salah satu pegawai nya.
Sudah lama dia mengincar Hani, tapi gadis itu memilih melakukan one night stand dengan Bimo, pria yang teramat dia benci berhasil menaklukan Hani.
"Sialan kau Bimo." Pekik pria itu, tapi tertutup oleh suara-suara alat berat yang sedang beroperasi. Dia pun bukan tak punya anak buah, tapi mereka memilih pergi, mereka takut jika berurusan dengan orang sekelas Azzendra.
Meskipun yang punya masalah dengan nya adalah Bimo, tapi Zen adalah atasan nya yang selalu turun tangan sendiri jika ada yang mengusik ketenangan orang terdekat nya, seperti saat ini.
....
Di rumah, Ica mulai melakukan aktivitas nya kembali, meski Zen selalu mengawasi nya.
Ica pergi diam-diam ke kebun buah di belakang mansion, dia yakin buah stroberi nya pasti sudah banyak yang matang. Akan lebih enak jika di makan langsung dari pohon nya, begitu pikir nya.
Tapi siapa sangka kalau Zen juga ada disana sedang memetik buah manis kesukaan nya.
"Daddy lagi ngapain?" Tanya Ica, niat nya pergi diam-diam untuk makan stroberi, ehh datang nya malah keduluan.
"Kok disini By? Kan Daddy bilang kamu harus tidur."
"Gak ngantuk Dad, Ica mau stroberi. Boleh ya?"
"Yaudah ambil aja By, hati-hati tapi. Nih Daddy udah petik beberapa." Zen mengulurkan beberapa buah stroberi di piring pada Ica. Dengan ceria, Ica mengambil satu buah itu dan memakan nya.
"Manis.."
"Iya dong, ini stroberi nya Daddy import langsung dari korea, By."
"Bisa gitu? Kok gak mati di jalan ya?"
"Nggak dong, kan pake wadah khusus sayang."
"Harga sepohon nya berapa, Dad?"
"3 jutaan By, kenapa?"
"Satu pot gini 3 juta? Ini ada puluhan pot Dad, habis puluhan juta dong?"
"Gak masalah, yang penting kamu suka. Kamu prioritas Daddy sekarang, By."
"Makasih, Ica baru pertama kali ngerasa di utamain, di perlakukan spesial kayak gini."
"Tak masalah, jika sebelum bertemu Daddy kamu menderita, it's okey Daddy yang akan menebus nya dengan meratukan mu sayang." Ica menatap Zen dengan binar kebahagiaan, tentu saja dia bahagia, dia gadis yang kekurangan perhatian dan kasih sayang orang tua dan sekarang dia mendapatkan kasih sayang itu dari orang lain.
"Terimakasih Daddy."
"Kamu terlalu sering mengucapkan nya sayang, sudah Daddy bilang kamu yang utama sekarang."
__ADS_1
"Besok Ica boleh masuk kuliah lagi gak, Dad?"
"Boleh sayang, tapi jangan ke bentur dulu ya luka nya belum benar-benar kering." Peringat Zen.
"Iya Dad, Ica boleh makan lagi?"
"Makan saja sayang."
"Btw, apa kak Azwar di terima di perusahaan Daddy?"
"Portofolio nya bagus, nilai nya juga bagus, kebetulan receptionist sedang kosong, jadi tak ada alasan untuk menolak pria itu, By."
"Syukurlah kalau begitu, Dad." Ica kembali mengambili buah stroberi dan memakan nya di tempat.
....
Keesokan hari nya, Ica kembali ngampus di antar oleh Zen sekalian pergi ngantor.
"Hati-hati sayang, jika ada yang melukai mu bilang sama Daddy."
"Iya Daddy, Ica keluar dulu ya. Daddy juga hati-hati." Ucap Ica, dia mencium sekilas kedua pipi dan bibir Zen, lalu keluar mobil dan kembali menutup pintu nya.
"Nanti Daddy jemput ya sayang."
"Iya Dad, kalo gak bisa cepat kasih tau ya."
"Daddy pergi dulu, jangan nakal."
"Fighting."
"Risya kemana ya?" Gumam Ica, Gadis itu celingukan mencari sahabat nya.
"Mungkin di kantin." Ica pergi ke kantin, dan benar saja Risya ada disana bersama Brian, si rambut mangkok.
"Haii.." Sapa Ica, membuat kedua nya kompak mendongak.
"Aaa Ica, kangen.." Rempong Risya lalu memeluk Ica.
"Engap woyy, gue masih mau hidup kali."
"Sorry, saking seneng nya gue ketemu sama Lu Ca."
"Sama, gue juga kangen kali."
"Lu gak kangen gue, Ca?" Tanya Brian berharap.
"Gak, Lu nyebelin. Katanya kaya tapi kere, minta traktiran mulu. Sekali-kali modal dong, Bri."
"Oke, karena Lu udah sembuh gue traktir kalian berdua 2 mangkok mie ayam."
"Gak kenyang." Celetuk Ica, membuat Brian merogoh dompet nya.
"Oke, pesen aja terserah mau berapa, bebas."
__ADS_1
"Berlaku sampe kapan Bri?"
"Hari ini doang." Jawab Brian. Ica tersenyum kegirangan, dia buru-buru memesan 3 mangkok mie ayam bakso, begitu juga Risya tapi dia hanya mampu makan dua mangkok saja.
"Itu masih di perban kenapa Ca?"
"Lu tau Sya? Gue hampir mati gara-gara luka ini."
"Kenapa? Bukan nya tangan tuh bukan organ vital ya?"
"Ya bukan, tapi liat dulu benda yang buat luka nya. Pisau karatan, infeksi dah. Mana darah nya ngucur banyak banget, jadi nya kekurangan darah harus transfusi, nyari donor nya susah banget, bahkan anak buah Daddy aja kelimpungan."
"Siapa yang buat Lu gini Ca?" Tanya Brian.
"Siapa lagi kalo bukan si kecoa terbang."
"Kecoa terbang?" Tanya Risya dan Brian barengan.
"Gue perhatiin ya, kalian berdua tuh cocok lho."
"Nanti aja, siapa Ca? Jangan bikin penasaran!"
"Rosa beb, mantan nya Daddy, sama cowok tapi gue gak tau siapa." Jawab Ica sambil ngemil kerupuk.
"Nekat banget tuh cewek." Celetuk Brian.
"Gue yakin sih, Daddy Lo gak bakal diam aja liat Lu di sakitin gini."
"Gue juga sama, tapi gue berharap sih tuh cewek jangan di matiin dulu lah."
"Nape? Bukan nya kalo cewek tuh mati, berarti hubungan Lo sama Daddy kan aman dari pelakor?"
"Gue gak tau, tapi rasa nya kok kasian gitu."
"Orang kayak gitu gak perlu di kasihanin, biarin aja dia nerima karma sesuai dengan apa yang dia perbuat. Kalo gak di buat jera, bisa aja dia berbuat lebih nekat Ca. Kali ini cuma tangan, gimana kalo yang lain? Pikirin sampai kesana juga, berpikir panjang."
"Gua tau Lu baik Ca, tapi jangan baik sama orang yang salah, yang ada Lu di manfaatin doang. Emang sih fositif thingking itu perlu, tapi jenis wanita kayak Rosa, gue rasa gak bakal berubah, yang ada malah menjadi." Ucap Brian bijak.
"Iya juga Bri, tumben Lu bener?"
"Gue masih muda, tapi pikiran gue dewasa kok." Jawab Brian, sambil menyesap jus mangga nya.
Tak lama, pesanan dua gadis doyan makan itu pun datang dan langsung mereka makan dengan lahap, tanpa peduli ekspresi Brian yang nyengir-nyengir geli melihat cara kedua gadis itu makan.
"Untung pada cantik, bebas lah." Gumam Brian.
...
🌷🌷🌷
abang bri, aku padamu😘
__ADS_1
Jangan pelit hadiah ya bestie🤭🤭😂😂😂