
Setelah tau alasan Brian, Zen dan Bimo pun memutuskan untuk keluar sebelum para wanita cantik itu mencari keberadaan mereka dan akan menimbulkan kecurigaan nanti nya.
"Darimana aja kalian? Kompakan terus." Celetuk Ica begitu melihat kedatangan suami nya, juga dua laki lain.
"Habis ngobrol aja dari dalem, Bby."
"Ngobrolin apa gitu, Dad? Padahal kalo ngobrol disini aja."
"Biasa lah random." Jawab Zen lagi, membuat Ica hanya menganggukan kepala nya.
Tak lama, datang 3 orang yang Ica tunggu. Siapa lagi kalau Azwar, Sintia dan Meisya.
"Kak Sintia.." Panggil Ica lalu menghambur memeluk calon kakak ipar nya itu. Membuat Meisya sedikit merasa iri, karena saat bersama nya, Sintia tak ramah begini.
"Selamat atas kehamilan mu ya, Dek." Ucap Sintia, dia menangkup wajah Ica.
"Makasih kakak. Kalian kesini naik apa?" Tanya Ica.
"Naik taksi, soalnya kan gak mungkin bonceng bertiga." Jawab Azwar.
"Ohh yaudah, ayo duduk dulu." Azwar memilih bergabung dengan para pria, sedangkan Sintia dan Meisya di tarik untuk bergabung ke area para wanita.
Baru melihat kehadiran Meisya saja, Hani sudah memutar mata nya jengah. Dia masih ingat kejadian saat wanita itu menjambak rambut Ica di mall hanya karena tak di beri uang.
"Ngapain dia kesini, Ca? Ganggu banget." Celetuk Hani dengan ketus.
"Gak boleh gitu dong Han,"
"Ya terus? Liat muka nya aja gue sebel Ca." Ucap Hani lagi, membuat Meisya menunduk.
"Ayo duduk kak." Tawar Ica pada Meisya dan Sintia.
"Ohh iya, kenalin ini kak Sintia, pacar nya kak Azwar, calon kakak ipar."
"Haii salam kenal, kalo gak salah kita pernah ketemu di nikahan Ica kan ya?" Tanya Hani ramah, berbeda saat pada Meisya.
"Salam kenal juga, iya kita ketemu di acara itu. Aku Sintia."
"Aku Hani dan ini si bontot, Risya." Hani memperkenalkan Risya pada Sintia juga.
"Lu nape diem mulu sih?" Tanya Hani pada Risya.
"Mules njirr.." Jawab Risya sambil meringis.
"Kenapa? Salah makan gak?"
"Lagi dateng bulan, biasa." Jawab Risya.
"Pantesan wajah si gulali kusut, gak dapet jatah rupanya."
"Diem dong, malu ada kak Sintia."
"Lahh kak Sintia juga memaklumi, dia udah juga kayaknya. Iya gak kak?" Tanya Hani dengan senyum jahil nya.
"Apa nya?"
"Udah di unboxing sama kak Azwar."
"Ihh apa sih, nggak ya." Jawab Sintia, tapi wajah nya memerah.
__ADS_1
"Wajah nya gak bisa bohong tuh, merah." Goda Hani.
"Udah jangan godain calon kakak ipar gue, dia malu nanti. Tapi gue penasaran juga sih, udah belum kak?"
"Lahh Lu sama aje." Ucap Hani sambil terkekeh.
"Bodo, dia kan kakak gue. Udah belom kak? Kayak nya sih udah, berapa kali?" Tanya Ica pelan, membuat wajah Sintia makin memerah.
"Iya udah, 2 kali." Jawab Sintia akhirnya.
"Nah Lu Sya, udah berapa kali maen sama Brian." Tanya Hani, melempar pertanyaan pada Risya.
"Gak kehitung, tiap malem dia minta terus. Tapi gue bisa libur sih seminggu, soalnya dateng tamu bulanan." Jawab Risya.
"Lu seneng, lah si Brian kecut amat. Tuuhh liat, kusut kayak benang layangan." Kelakar Ica membuat semua nya tertawa kecuali Meisya.
"Biarin lah, bosen gue. Cowok tuh egois gak sih? Udah bilang sakit juga, tetep aja di masukin."
"Ya sama, Bimo juga gitu. Paling cuma gerak nya pelan," Jawab Hani.
"Kalo Daddy sih dulu iya, tapi sekarang gue kan hamil muda jadi dia gak terlalu maksa, pernah tuh gue kesel, masukin nya gak semua gitu, jadi nya gak kerasa."
"Lah kenapa?"
"Jawaban nya takut nyundul dedek." Jawab Ica, membuat semua nya tertawa lagi.
"Kalau Azwar sih main nya pelan dari awal sampe akhir, jadi gak sakit. Tapi ya, emang lama sih, satu jam lebih."
"Cieee, dimana nih unboxing nya?" Tanya Ica.
"Di kontrakan kakak, pas pulang dari nikahan kamu, itu pertama kali nya. Kalo yang kedua itu kemaren deh kalo gak salah."
"Hahaha, kakak kamu terlalu jujur.." Celetuk Hani sambil tertawa.
"Ohh iya, btw gak ada makanan ya ini?" Tanya Risya.
"Makan mulu, gendut lagi Lu nanti."
"Kata Brian sih gapapa, katanya gue empuk nanti, dia bakal betah main lama-lama."
"Gak kebas tuh lubang di pake tiap malem, Sya?"
"Enggak, cuma suka ngilu aja sih." Jawab Risya.
"Sayang.."
Deggg...
Meisya merinding begitu mendengar suara yang menurut nya tak asing, dia menoleh dan melihat pria jangkung dengan rambut abu-abu nya mendekat ke arah Risya.
"Iya sayang, kenapa?"
"Gak ada, ngomongin apa? Seru banget kayaknya."
"Najongg, bucin anjritt.." Celetuk Hani.
"Bodo, iri? Bilang bos!"
"Gak tuh, pacar gue lebih bucin." Jawab Hani.
__ADS_1
Meisya masih melihat pria itu, dia merasa tak asing dengan suara pria itu.
"Kak Mei, itu Brian pacar nya Risya. Yang sama Daddy itu pacar nya Hani, Bimo."
"Gak usah ngenalin cowo gue Ca, nanti dia rebut lagi. Dia kan gatel.." Sindir Hani, entah kenapa perempuan itu terlihat membenci Meisya.
"Kayak ulat bulu kan ya?" Celetuk Risya.
"Haduhh, kalian ini pada kenapa sih?"
"Gak kenapa-napa Ca, cuma kita harus waspada aja sih, bisa aja dia caper sama laki kita."
"Tapi gak mungkin sih, cowok juga pilih-pilih." Ucap Brian, dia tersenyum mengejek ke arah Meisya.
"Mana bekas paman ku lagi, ihh jijay!"
"What?" ucap keempat orang perempuan itu serentak.
"Tau Elang Dwi Anggara? Dia mantan suami bibi ku."
Meisya melotot, pantas saja dia merasa tak asing dengan wajah dan suara Brian. Apa dia yang menculik nya hari itu?
"Beneran Bri?" Tanya Hani.
"Iya lah, ngapain gue becanda lagian gak lucu. Sampe sekarang nih, bibi gue koma gara-gara liat suami nya lagi selingkuh sama dia." Jawab Brian.
"Wahh, bener-bener Lu Mei. Gak nyangka gue sejauh itu."
"Udah-udah jangan mojokin kakak gue dong, lagian ini bukan sepenuh nya salah kak Mei. Dia di jual sama ibu nya, terus Elang nya juga salah kan."
"Ya iya, gue juga gak nyalahin kakak Lo doang, Elang nya gatel, kakak Lo juga gatel jadi deh bersatu, kalo salah satu nya gak gatel ya bakal terjadi. Terus masalah dia di jual sama ibu nya, gue gak peduli. Yang jelas dia udah jadi selingkuhan Elang dan buat bibi gue serangan jantung, belom sadar tuh sampai sekarang." Jelas Brian panjang lebar, membuat Meisya menunduk dalam. Dia memang bersalah disini, kalau saja ibu nya tak menjual nya, mungkin dia takkan merasa terpojok disini.
"Ca, kakak pulang aja ya. Kakak gak nyaman," Meisya bangkit dari duduk nya dan pergi dari meja itu, Ica berlari mengejar kakak nya itu.
"Kakak.." Panggil Ica.
"Maaf Ca, kakak gak nyaman sama temen-temen kamu. Kakak memang salah, tapi kakak gak tau kesalahan kakak sefatal itu." Meisya menangis, Ica tak tega dan segera memeluk nya.
"Sabar ya kak, kuat. Mereka cuma belum terbiasa aja sama kakak, mereka sebenarnya baik kok."
"Kakak gak bisa Ca, kakak pulang aja. Sekali lagi selamat atas kehamilan mu, semoga sehat selalu. Kakak pamit ya.."
"Pergi sama siapa kak? Ica panggilin anak buah Daddy buat nganter ya? Plis jangan nolak!" Meisya mengangguk.
"Pak.."
"Iya Nyonya.."
"Bisa tolong antar kakak saya pulang?"
"Baik Nona, bisa." Jawab nya.
"Kakak pulang sama dia ya, jangan khawatir dia pria yang baik."
"Terimakasih Ca."
"Sama-sama, hati-hati di jalan ya kak." Meisya pun pergi mengikuti anak buah Zen yang sudah bersedia mengantarkan nya pulang.
......
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷
Kasian Meii😣😣