
Masih di suasana pesta kecil-kecilan yang di buat Zen khusus untuk menyambut kehamilan sang istri. Suasana cukup ramai mendadak hening saat seseorang datang, pria paruh baya dengan rambut yang beruban, namun dari pakaian nya yang rapi menyimpulkan kalau pria itu, bukan pria biasa.
"Azzendra, berani sekali kau!" Pekik nya hingga membuat Zen yang sedang minum tersedak, hingga muncrat mengenai ketiga pemuda yang duduk satu meja dengan nya.
"Iuhhh, jorok anjirr!" Ucap Brian sambil mengusap-usap wajah nya bekas kena sembur Zen, padahal dia sedang tidak kesurupan hingga di sembur seperti ini.
"Kakek, kau membuat aku terkejut." Ucap Zen sambil mengusap bibir nya yang basah.
"Hah, kakek?" Kompak ketiga pria itu. Bahkan Bimo saja tak tau kalau Zen punya kakek, setau nya Zen hanya hidup bersama paman dan bibi nya.
"Dia kakek Arhan, kakek ku." Ucap Zen memperkenalkan pria paruh baya itu.
"Cucuku sudah besar rupa nya, mana istri mu?"
"Bby.." Panggil Zen, membuat Ica yang sedang makan es krim belepotan itu langsung menoleh.
Ica menyimpan es krim nya di meja, lalu berjalan mendekati suami nya.
"Ini Wenthrisca, kakek bisa panggil dia Ica, dia istri ku."
"Dia kakek mu, Dad?" Tanya Ica sambil mendongak menatap wajah Zen.
"Iya Bby, dia kakek Arhan."
"Selera mu ternyata bagus juga, dia cantik. Tapi terlihat masih muda, berapa usia mu Nak?" Tanya kakek Arhan.
"22 tahun kek."
"Masih muda, Zen."
"Hanya beda 8 tahun Kek, masih wajar gak belasan tahun." Jawab Zen santai.
"Kenapa kau tak mengundang ku, Zen?"
"Mana Zen tau kalau Kakek disini, setau ku kan kakek itu tinggal di luar negeri." Jawab Zen acuh.
"Mulai hari ini kakek akan menghabiskan waktu kakek disini, menemani cucu kakek, atau cicit nanti."
"Dia masih dalam perut Ica, Kek. Masih kecil, baru 2 bulan." Cetus Zen.
"Istri mu sedang hamil?"
"Iya kek, dia hamil dong. Siapa yang buat? Zen dong."
"Kau menyicil nya lebih dulu? Kalian menikah baru 2 mingguan kan?"
__ADS_1
"Biasalah kek," Jawab Zen, membuat wajah Ica memerah, dia tak mau nimbrung dan mengganggu percakapan kakek dan cucu itu, jadi dia memilih diam saja menyimak obrolan kedua nya.
"Anak nakal.." Kakek Arhan menjewer telinga Zen hingga membuat pria tampan itu meronta.
"Ampun kek, sakitt.. Sayang, tolongin.." Tapi Ica malah tertawa saat melihat Zen begitu pasrah saat kakek nya memarahi nya, juga berani menjewer telinga nya.
"Jangan di tolong, biarkan saja. Anak nakal ini harus di beri pelajaran, berani sekali menyicil cicit!"
Para pria yang tadi kena sembur sibuk mengabadikan momen langka ini dengan ponsel mereka masing-masing. Mereka kompak terkekeh geli melihat Azzendra yang biasa nya berwajah datar dan berwibawa, kini terlihat meringis saat kakek nya menjewer telinga nya, tentu ini momen yang harus di abadikan. Jarang sekali hal semacam ini terjadi.
Kakek Arhan melepaskan jeweran nya dan beralih pada Ica.
"Peluk lah kakek mu ini, Nak." Ica tersenyum lalu menghambur memeluk Kakek Arhan.
"Jadi, katakan, apa Zen memperlakukan mu dengan baik sebagai istri?"
"Tentu saja Kek, Daddy sangat menyayangi Ica. Dia memperlakukan Ica seperti ratu, di manapun." Jawab Ica, membuat Kakek Arhan tersenyum, dia senang kalau Zen bisa mengurus istri nya dengan baik.
"Baguslah, kalau dia nakal lapor sama kakek ya. Biar kakek yang pukul dia,"
"Gak bisa gitu dong Kek, Zen udah besar, udah bisa mimpin perusahaan, bisa buat anak bayi juga."
"Siapa yang menyuruh mu bicara?" Tanya Kakek Arhan, membuat Zen cemberut.
"Gak sabar pengen dia nendang Bby, pasti menyenangkan ya.."
"Sabar Dad, masih beberapa bulan lagi." Jawab Ica sambil tersenyum mengusap rambut sang suami dengan lembut. Kakek Arhan menatap pasangan itu dengan senyum yang begitu tulus, sudah sangat lama dia meninggalkan cucu nya di negara ini, dulu Zen masih SMA saat dia memutuskan untuk mengembangkan perusahaan nya di luar negeri dan meninggalkan Zen disini bersama paman dan bibi nya.
Tapi sekarang? Dia sudah berubah menjadi pria dewasa yang tampan dan memiliki istri yang cantik juga baik hati. Arhan masih ingat saat dia memukul pantatt Zen kecil karena senang bermain hujan tanpa baju setelah pulang sekolah. Mengingat itu semua membuat nya cukup sedih, dia begitu banyak melewatkan moment bersama cucu satu-satunya itu.
"Kenapa kakek menangis?" Tanya Ica saat melihat kedua mata kakek Arhan memerah.
"Ha-hh? Tidak Nak, kakek tidak menangis, mungkin kelilipan. Ohh iya ada acara apa ini?"
"Hanya pesta kecil-kecilan untuk menyambut kehamilan Ica, Kek. Hanya teman-teman terdekat yang di undang."
"Kenapa pria itu mirip dengan Ica?" Kakek Arhan menunjuk Azwar yang sedang duduk menyaksikan percakapan kakek dan cucu itu.
"Dia Azwar, kakak nya Ica. Tapi harus nya tak miripkan? Beda bibit." Celetuk Zen.
"Dia tampan dan mata nya mirip sekali dengan mata cucu menantu ku, kemarilah." Azwar mendekat dan memeluk kakek Arhan.
"Saya Azwar kek."
"Kamu tampan sekali, sudah punya calon?" Tanya kakek Arhan lagi.
__ADS_1
"Itu sedang duduk, Kek." Azwar menunjuk Sintia yang tersenyum kaku.
"Cantik sekali, kau pintar memilih wanita." Gurau kakek Arhan sambil menepuk pundak Azwar.
"Lalu itu siapa? Kau Bimo kan?"
"Haha, kakek masih mengingat ku?" Tanya Bimo sambil tertawa.
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa pada dua anak nakal yang sering main hujan di depan mansion?" Jawab Kakek Arhan terkekeh geli.
Bimo mendekat dan memeluk kakek Arhan, pria paruh baya yang nampak gagah di usia senja nya, dulu pria ini sangat galak. Tukang marah-marah, jika salah sedikit saja dia akan memukul pantatt nya.
"Kau masih jomblo Bimo? Dari dulu kau terlalu datar untuk menyukai seorang wanita." Ucap Kakek Arhan membuat Zen tertawa.
"Kau juga sama, Zen! Kalian ini sama-sama datar,"
"Iya kek, kayak tembok memang. Tapi beda lagi kalau udah ketemu pawang nya," Celetuk Ica.
"Kakek, Bimo gak gitu. Itu pacar Bimo,"
"Wahh kalian ternyata pintar memilih wanita ya, cantik-cantik." Puji kakek Arhan.
"Siapa dulu dong, Bimo gitu."
"Kesini cantik." Kakek Arhan memanggil Hani dan Sintia, lalu memeluk kedua nya berbarengan.
"Siapa nama kalian?"
"Saya Hani dan ini kak Sintia." Jawab Hani ramah.
"Lalu itu?" Tunjuk pada satu sosok perempuan cantik yang masih duduk.
"Dia sahabat Ica, Kek dan pria berambut abu itu pacar nya." Ucap Ica, menunjuk Brian yang cengengesan di meja nya.
"Begitu ya, wahh semua nya sudah punya pasangan masing-masing ternyata. Kalian sedang makan kan? Silahkan lanjutkan, nanti kita mengobrol lebih banyak lagi."
Mereka pun melanjutkan makan mereka, dengan Ica yang makan di suapi oleh Zen.
.....
🌷🌷🌷🌷
misi, bumil mau lewat🤭🤭
__ADS_1