
Pagi ini, Zen terlihat sangat bersemangat untuk bekerja, entah apa yang membuat nya bersemangat seperti itu.
"Kenapa Dad dari tadi senyam-senyum gak jelas? Kesambet atau lagi jatuh cinta?" Tebak Ica.
"Seperti nya iya, Daddy memang jatuh cinta By."
"Wahh, siapa gadis beruntung itu Dad?" Tanya Ica sambil memasang dasi di leher Zen.
"Gadis pendek yang ada di depan ku." Jawab Zen, membuat Ica mendongak dengan wajah konyol nya.
"Wajah nya napa harus gitu sih? Kan gemes.." Zen mencubiti kedua pipi cabi gadis nya, lalu mengecupi nya bertubi-tubi.
"Seriusan ini Dad? Daddy jatuh cinta sama Ica?"
"Enggak kok, Daddy cuma bercanda tadi." Ica merubah ekspresi nya, dia memukul kuat dada Zen hingga membuat pria itu meringis.
"Daddy tak bisa di harapkan!"
"Lagian kamu kenapa harus tanya lagi sih? Apa yang Daddy ucapkan, itu semua benar sayang."
"Aaaa Daddy.." Ica menghambur memeluk Zen dengan erat, dia sudah tau Zen mencintai nya, jadi dia harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan apa yang sudah jadi miliknya dari si kecoa terbang.
"Yasudah, ayo berangkat. Kamu akan terlambat." Zen menggenggam tangan mungil gadis nya, lalu membawa nya ke dalam mobil. Hari ini Ica menolak sarapan, karena Zen tak bisa sarapan bersama, jadi dia memilih tak sarapan juga.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Ica terus menyunggingkan senyuman manis nya itu, membuat Zen yang duduk di samping nya heran.
"Sekarang gantian, kamu yang dari tadi senyam-senyum terus, kenapa By?"
"Ica seneng lah, akhirnya hati Daddy milik Ica sekarang." Jawab Ica, lalu memeluk Zen, menyurukkan kepala nya di dada bidang Daddy nya. Zen mengusap sayang kepala gadis nya, juga mengecup dalam-dalam aroma yang menguar dari rambut Ica.
Wangi yang sama, bahkan dari awal gadis itu datang pun aroma nya tak berubah, tetap menyegarkan dan membuat candu.
"Sesenang itu kah kamu sayang?"
"Iya dong Dad, Ica bakal perjuangin Daddy dari para ulat bulu yang mencoba merebut Daddy." Jawaban Ica membuat Zen terkekeh.
"Kamu ini gak berubah sayang, dari awal ketemu sampai sekarang ngegemesin banget, ya meski kadang-kadang bikin darah tinggi juga."
"Ya maaf Daddy, nanti jemput Ica ya Dad?" Pinta Ica.
"Pulang jam berapa sayang?"
"Jam 5 sore Dad."
"Berapa materi hari ini?"
"Cuma dua Dad, tapi Ica kan harus les vokal buat lomba itu."
"Baiklah, Daddy akan menjemput mu. Kalau tak bisa, ada asisten Daddy yang menjemput."
__ADS_1
"Emang nya Daddy gak bisa jemput mau kemana gitu?"
"Hari ini jadwal meeting Daddy banyak, By. Tapi Daddy usahakan untuk mu sayang."
"Baik Dad, semangat kerja nya ya.."
Ica membuka pintu dan bersiap turun dari mobil setelah sampai gerbang kampus, Ica tak pernah mengizinkan Daddy nya mengantar hingga ke dalam, bisa budeg telinga nya dengar jeritan cewek-cewek ganjen satu kampus.
Zen dengan cepat menarik tangan Ica, membuat gadis itu berbalik. Zen kembali menutup pintu dan tanpa basa basi, pria itu mencium Ica dengan lembut, melumaat bibir mungil itu.
"Daddy, liptint Ica luntur nanti. Gak bosen apa cium aku terus?" Ketus Ica, dia mengeluarkan liptint dan cermin kecil dari dalam tas nya.
"Daddy gak bakalan bosen cium kamu sayang, bibir kamu manis."
"Udah ya Dad, Ica keluar dulu. Hati-hati di jalan nya, jangan genit sama perempuan lain."
"Iya sayang ku, semangat juga kuliah dan les vokal nya."
"Dahh Dad.." Ica melambaikan tangan nya saat mobil yang Zen tumpangi mulai melaju menjauhi kawasan kampus.
"Ica..." Panggil seseorang, membuat gadis yang merasa terpanggil itu menoleh.
Brian berlari dengan tas di punggung nya, rambut pink nya berganti menjadi hitam ke coklatan, entah kapan dia mengganti warna rambut nya, Ica pun tak peduli.
"Apa?"
"Males ketemu Lo." Jawab Ica ketus dan pergi meninggalkan Brian.
"Tadi Lo di anterin siapa? Mobil nya kinclong bener." Tanya Brian, belum menyerah meski sudah di ketusi oleh Ica.
"Kepo, Lu siapa sih? Pengen tau aja!"
"Kali aja dia calon mertua gue Ca, kan jadi kesempatan bagus buat kenalan." Celetuk Brian membuat Ica kesal dan menoyor kepala nya.
"Gue dah bilang, orang tua gue udah gak ada."
"Terus laki-laki yang Lo panggil Daddy itu siapa?"
"Bukan urusan Lo!" Tegas Ica, dia pergi meninggalkan Brian untuk yang kedua kali nya.
Ica pergi ke kantin, ternyata dia salah jadwal. Dosen masuk satu jam lagi, jadi dia memutuskan untuk sarapan dulu sebelum memulai pembelajaran nya nanti. Dia takkan bisa fokus jika perut nya kelaparan.
"Selamat pagi Sya.." Sapa Ica, membuat Risya yang sedang minum tersedak hingga batuk-batuk parah.
"Upss, sorry bestie. Aku gak sengaja, kamu kaget ya?"
"Gapapa Ca, kenapa kemaren gak masuk?"
"Aku lupa kalau kemaren ada tambahan, jadi nya seharian aku di rumah nemenin Daddy." Jawab Ica, dia memanggil karyawan kantin dan memesan bubur ayam 3 mangkuk.
__ADS_1
"Tumben pagi-pagi mesen banyak makanan, gak sarapan di rumah, Ca?" Tanya Risya.
"Iya, Daddy ada rapat penting jadi nya aku ngikutan. Gak seru sarapan sendiri," Jawab Ica, sambil membuka bungkusan berisi kacang selimut yang tersedia di meja.
"Kemaren Brian terus nanyain Lo ke gue,"
"Terus?"
"Kayaknya dia serius deh buat dapetin Lo."
"Silahkan saja berjuang, tapi hati gue tetep ada sama Daddy gue. Dia yang udah berjasa buat hidup gue lebih baik seperti sekarang ini, kalau gak ada Daddy, kayaknya gue masih kerja di bar."
"Sebelum ketemu Daddy, emang nya kamu kerja di bar?" Ica mengangguk dengan tatapan yang fokus menatap cemilan di tangan nya.
"Iya lah, aku cuma lulusan SMP, Daddy menyekolahkan aku di paket C, setelah lulus baru aku kuliah." Jelas Ica.
"Orang tua mu udah lama meninggal kan? Jadi selama itu kamu tinggal sama siapa?"
"Bokap gue kawin lagi, jadi selama ini gue tinggal sama dia, lebih tepat nya jadi pembantu nya."
"Miris sekali perjalanan hidup mu Ca.."
"Iya memang miris Sya, kalau saja pikiran ku pendek, sudah lama aku mengakhiri hidup."
"Husstt, gak boleh gitu Ca, gak baik. Jangan putus harapan, bukti nya sekarang kamu hidup bahagia sama Daddy kan? Itu artinya masih banyak orang yang sayang sama kamu Ca."
"Iya Sya, aku makan dulu ya. Laper, hehe." Ica melahap bubur nya dengan lahap, sesekali dia menambahkan sambal ke dalam bubur nya.
"Bibir mu dower tuh, seneng banget sih makan pedes." Tegur Brian, entah dari mana datang nya pria itu, tiba-tiba saja dia muncul.
"Peduli Lo apa sih?"
"Nanti sakit perut cantik."
"Bodo, gue gak bakal minta tolong sama Lo ini. Jadi diam aja, kapan lagi gue bisa makan pedes."
"Di rumah gak boleh makan pedes ya, Ca?" Tanya Risya. Ica menganggukan kepala nya cepat.
"Daddy protektif banget jagain gue, gak boleh makan pedes, asem, fast food, dan masih banyak lagi. Ada juga yang boleh tapi jangan banyak-banyak, kayak es krim. Katanya nanti sakit gigi." Celoteh Ica.
"Daddy Lo perhatian banget Ca."
"Jelas dong, udah mah ganteng, baik, kaya lagi." Jawab Ica sambil tertawa, tapi itu malah membuat hati pria di samping nya berdenyut nyeri saat Ica dengan terang-terangan membanggakan pria yang dia panggil Daddy.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1