Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 230


__ADS_3

Singkatnya, Zen membawa pulang istrinya ke rumah tentunya tetap satu mobil dengan Bimo dan Hani yang cukup kesulitan menggendong dua anak sekaligus di gendongan nya, karena Bimo harus fokus menyetir.


Pria itu menunjukkan wajah asam yang sangat kentara di wajah nya, bahkan saat berpapasan dengan Kakek Arhan pun dia tak menyapa pria tua itu dan berjalan dengan langkah tegap nya menuju kamar. Tentu saja itu membuat Kakek Arhan bertanya-tanya, kira-kira ada apa dengan cucu nya hingga menunjukkan wajah yang sangat asam seperti buah markisa itu?


Tak lama, Ica masuk menyusul suami nya dengan langkah kepayahan karena Zen sudah tak terlihat lagi.


"Aishh, pria itu!" Rutuk Ica sambil ngos-ngosan setelah berlari mengejar langkah lebar suami nya.


"Ada apa dengan Zen, Nak?" Tanya Kakek Arhan saat melihat cucu menantu nya datang dengan ekspresi wajah yang hampir tak jauh dengan raut wajah Zen tadi.


"Biasalah ngambek Kek, gara-gara Ica ketahuan makan ramen tadi di rumah Risya." Jelas Ica membuat Kakek Arhan manggut-manggut.


"Ngambekan ya, padahal udah tua." Cetus Kakek Arhan membuat Ica terkekeh.


"Iya Kek, sensian bener deh."


Tak lama, Zen turun dengan pakaian santai nya, tapi membawa sebuah tongkat panjang yang membuat Ica mengernyitkan dahi nya.


"Kemana Dad?"


"Maen billiard." Jawab nya singkat lalu pergi ke belakang mansion, dia memang berencana bermain salah satu permainan menyodok bola itu bersama Arian.


"Datar amat kek tembok, merajuk nya gemesin." Gumam Ica sambil tersenyum menatap punggung Zen yang sudah menghilang di balik pintu penghubung antara mansion dan halaman belakang. Saking luasnya mansion milik Zen, pria itu sampai punya lapangan golf pribadi, hingga kebun buah pribadi juga, dan beberapa fasilitas lain seperti kolam renang dan ruangan khusus untuk bermain billiard.


"Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Jangan terlalu memikirkan pria itu, toh dia bucin sama kamu ini, mana bisa dia marah lama sama kamu." Celetuk Kakek Arhan membuat Ica tergelak, benar juga kata Kakek Arhan. Lagipula dia punya kunci utama untuk membuat Zen luluh, dan dia akan mencoba nya malam ini, tentunya setelah kedua anaknya tertidur.


Ica tersenyum penuh makna, dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat suaminya itu luluh.


"Mbak, stok ASI ada di frezeer. Nanti kalo Dave sama Daisy rewel kasih itu aja ya, saya mau dinas." Bisik Ica di akhir kata. Kedua Nanny itu hanya cengengesan, tentu saja mereka mengerti apa yang di maksud 'dinas' oleh majikan nya, mereka juga sudah berkeluarga jadi jelas tahu, hanya saja mereka harus LDR karena pekerjaan masing-masing.


"Siap Nyonya."


"Heh, di bilangin jangan panggil Nyonya, Ica aja manggil nya kalian lebih tua dari aku."


"Tapi kan Nyonya majikan kami." Ica menutup wajah nya, dia tak suka saat para maid memanggilnya dengan sebutan Nyonya, meski fakta nya memang dia adalah Nyonya muda di rumah ini. Tapi entah kenapa, Ica masih merasa tak pantas di perlakukan istimewa seperti itu, dia hanya kerikil yang kebetulan di pungut oleh seorang sultan dan memoles nya menjadi berlian.

__ADS_1


"Oke oke, Nona aja manggilnya ya? Berasa tua aku kalau kalian manggil nya Nyonya."


"Baik Nona, kami mengerti. Selamat berdinas malam," Goda salah satu Nanny itu membuat Ica tersenyum manis.


"Kalo mereka tetep rewel panggil aja ya, tapi lewat telepon, nanti Daddy marah-marah kalo ritual nya keganggu. Aku ke kamar dulu ya, ingat kalo anak-anak tidur kalian juga harus tidur ya."


"Baik Nona, selamat malam."


"Ya, malam." Jawab Ica lalu mulai meniti satu persatu anak tangga menuju kamar nya. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum Zen selesai bermain billiard.


Hanya perlu waktu 20 menit saja, Ica sudah selesai dengan ritual mandi nya, dia keluar dengan bathrobe tipis yang sengaja dia beli beberapa hari yang lalu, bahkan Zen pun tak tahu kalau Ica senakal itu sekarang.


Ica memakai lotion di seluruh tubuhnya, aroma menyegarkan langsung menguar begitu dia selesai mengusapkan nya.


Langkah selanjutnya, dia beralih ke ruang ganti. Memilih kira-kira pakaian dinas mana yang kira nya cocok untuk memancing gairah sang suami. Ribet sekali memang, membujuk suami yang merajuk hanya karena hal sepele pun harus sampai begini.


Selesai. Ica berbaring menyamping begitu mendengar derap langkah kaki yang perlahan mendekat ke kamar, benar saja tak lama Zen masuk dengan wajah yang masih datar sedatar tembok.


Dia mendelik saat melihat penampilan sang istri yang sangat menggoda iman nya malam ini, sungguh demi apapun Ica terlihat sangat menantang, apalagi dengan pose nya saat ini.


"Godaan Zen, godaan." Rutuk pria itu sambil menggelengkan kepala nya, dia merasakan celana nya sesak saat ini. Senjata nya sudah terbangun dari tidurnya hanya karena melihat sang istri yang sangat menantang itu.


"Dad, kok keringetan? Capek ya?" Tangan lentik Ica membelai lembut rahang tegas suaminya, membuat darah pria itu berdesir hebat.


"Ngapain pake baju gituan? Mau bujuk Daddy?"


"Enggak kok, tapi kalo bisa bikin Daddy gak marah lagi kenapa enggak ya kan?"


"Baiklah, bagaimana kalau besok pagi kamu tak bisa berjalan?" Tanya Zen dengan seringai nakal di bibir nya.


"Kita lihat saja nanti, aku atau Daddy yang menyerah duluan." Tantang Ica, membuat Zen tersenyum smirk lalu tanpa ragu langsung menggendong sang istri ala bridal style dan menjatuhkan nya di ranjang.


Pria itu memulai permainan nya dengan buas, Ica di buat berteriak nikmat sepanjang permainan yang di lakukan Zen. Tak tanggung-tanggung, pria itu benar-benar membuktikan ucapan nya.


....

__ADS_1


Pagi harinya, Zen terbangun lebih dulu dan membersihkan tubuhnya. Dia turun duluan bermaksud mengambilkan makanan untuk sang istri, dia tahu pasti tubuhnya sakit semua karena ulah nya yang bermain sepanjang malam entah berapa ronde.


Tapi Ica keburu bangun dan ingat pada kedua anak-anak nya, dia bangkit dan memunguti pakaian nya, melangkah pelan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lalu turun ke lantai bawah dengan penuh perjuangan.


Ica berjalan pelan meniti tangga, lutut nya terasa lemas hingga membuat nya gemetar dan tak bisa menopang tubuhnya dengan baik, hingga pegangan tangga adalah satu-satunya bantuan bagi Ica saat ini.


Dia memegangi pinggang nya saat mendekati kedua Nanny yang sedang duduk sambil bermain dengan Dave dan Daisy. Beruntunglah mereka anak-anak yang sangat pengertian meski masih bayi, mereka terlihat sangat anteng bersama Nanny nya, seperti tahu kalau ibunya sedang kesakitan setelah menjalankan kewajiban nya.


Kedua Nanny itu saling melempar tatapan, mungkin mereka heran dan bertanya-tanya, seberapa gagah kah majikan mereka saat di ranjang? Atau berapa ronde permainan semalam hingga membuat Nona muda itu kesulitan berjalan? Membayangkan nya saja mereka sudah dibuat bergidik ngeri.


"Kalian kenapa?" Tanya Ica heran.


"Ee-hh enggak kok Non, kami cuma suka aja bertatapan." Ceplos nya membuat Ica terkekeh.


"Yaudah lanjutin, aku mau makan dulu ya laper. Ohh iya, ada yang lihat Daddy?"


"Tuan muda ada di dapur, Nona." Jawab nya, membuat Ica langsung pergi setelah mendengar jawaban.


Setelah Ica tak terlihat lagi, barulah keduanya mulai berghibah.


"Aku ngilu lihat jalan nya Nona Ica, pasti di hajar semalaman gak sih?"


"Kayak nya sih iya, Tuan Zen kan penggemar olahraga pasti punya stamina yang kuat sampe bisa bikin Nona Ica kek gitu."


"Issshh ngilu aku, itu alesan nya kenapa aku milih suami yang buncit perutnya, biar kalo main gak lama." Celetuk nya.


"Idih, kamu aja. Aku masih muda, maunya yang punya roti sobek."


"Suami mu punya?"


"Enggak, perutnya donat tapi gak bolong alias buncit kayak bolu." Jawabnya sambil cengengesan.


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Gak majikan, Gak nanny nya sama-sama kang ghibah🤣🤣


jangan lupa mampir ke novel baru author, di jamin menguras emosi dan air mata, haha🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2