Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 95


__ADS_3

Zen sedang bersiap di kamar mandi, sedangkan Ica dia masih berusaha menghubungi sahabat nya, Hani.


Hingga di panggilan ke 5, baru lah gadis itu mengangkat nya.


"Hallo Han, dimana Lu hah?"


"Ya di rumah bangkee, nape?" Tanya Hani dari seberang sana.


"Gue di culik Lu mah anteng-anteng aja, Lu gak khawatir?"


"Jelas gue khawatir, gue dah tau Lu udah ketemu dari Risya tadi malem. Rencana nya gue kesana sebentar lagi."


"Bagus deh, temenin gue ya. Daddy harus ngantor soalnya."


"Oke, gue mandi dulu. Baru bangun nih, semaleman gadang."


"Ngapain gadang Han?" Tanya Ica, dia memang belum tau kalau Hani mengikuti jejak nya.


"Nanti gue ceritain kalau udah disana, gue kesana jam 9 ya.."


"Oke, gue tunggu Han."


Panggilan pun terputus setelah kedua nya selesai bicara, bertepatan itu pun Zen keluar dari kamar mandi dengan kemeja berwarna biru navy.


"Baby.."


"Iya Daddy, kenapa?"


"Maaf ya, Daddy harus banget ke kantor. Kalau gak penting, Daddy pasti udah batalin semua nya."


"Gapapa kali Dad, Ica udah baikan kok. Lagi pun Hani kesini sebentar lagi."


"Beneran By?" Tanya Zen memastikan, Dan Ica menjawab nya dengan anggukan tanda mengiyakan.


"Daddy berangkat dulu kalau gitu, kalau ada apa-apa, telpon Bimo ya By."


"Baik Dad, hati-hati di jalan ya. Nanti kesini bawa martabak coklat keju."


"Siap sayang, Nanti Daddy bawain ya. Kamu jangan banyak gerak dulu kalau ada Hani, kamu belum sembuh sepenuhnya, luka kamu masih basah sayang."


"Iya, Ica ngerti kok Dad. Semangat kerja nya ya Dad, Love you."


"Love you too sayang, Daddy pergi dulu." Pamit Zen, lalu mengecup singkat kening gadis nya dan pergi keluar pintu.


"Kita pergi Bim!"

__ADS_1


"Bagaimana dengan Nona muda? Apa tuan akan membiarkan nya tanpa penjagaan?"


"Akan ada anak buah ku yang berjaga, cepatlah. Aku tak sabar ingin mematahkan tulang-tulang biang kerok itu dengan tangan ku sendiri." Ucap Zen menggebu, sebenarnya Zen takkan pergi ke kantor, tapi ke markas.


Dia ingin memberikan hukuman yang menyakitkan untuk kedua cecunguk itu dengan dia turun tangan langsung.


Kedua pria itu berjalan ke parkiran, bertepatan itu juga, Hani baru turun dari taksi dengan terburu. Bimo juga melihat nya, sungguh demi apapun dia ingin menyapa gadis nya, sekedar bertanya dia mau apa ke rumah sakit, tapi dia terlalu gengsi pada tuan muda nya, apalagi ini sedang jam kerja.


Bimo dan Zen masuk ke dalam mobil, kali ini Zen duduk di depan di samping Bimo.


"Kau sudah menyiapkan semua nya kan?"


"Iya Tuan,"


"Baguslah, kalau begitu kemudikan mobil ini dengan cepat, aku tak sabar ingin mendengar mereka menjerit kesakitan." Ucap Zen, dia berubah menjadi psikopat kejam.


Bimo menurut dan mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi, beruntung saja jalanan agak lengang karena ini hari sabtu.


...


Hani masuk ke dalam ruangan Ica, dan langsung di sambut oleh Ica yang baru saja dari kamar mandi.


Hani meletakan parsel buah nya di lantai dan membantu Ica berjalan sambil memegangi cairan infus.


"Lu darimana?"


"Gila, gue masuk kesini di lirik tajam sama bodyguard yang jaga di depan Ca."


"Ada yang berjaga gitu?" Tanya Ica.


"Ada Ca, 5 orang kalo gak salah. Berasa masuk ke ruangan inap presiden, sampe di luar pintu nya di kawal gitu."


"Gak tau tuh, kelakuan Daddy."


"Ca.." Panggil Hani lirih, setelah kedua nya duduk.


"Iya, kenapa? Kok Lu murung gitu sih? Punya masalah apa? Sini cerita, gue siap dengerin."


"Gue minta maaf ya, waktu itu gue udah berusaha bujuk anak buah Daddy Lo buat ikut nyari, tapi mereka nolak. Jadi, gue sama Risya pulang aja hari itu. Sekali lagi maaf ya Ca."


"Udah lah Han, lagian gue gak kenapa-napa kok. Cuma luka dikit doang, gak ada apa-apanya sih, cuma Daddy aja yang berlebihan." Ucap Ica, dia pernah mendapat luka sebesar dan sedalam ini dulu di betis nya, tapi tak di jahit, ibu tiri nya hanya mengobati nya dengan cara alami, kunyit yang di bakar dengan minyak kelapa lalu di tutup daun sirih.


"Jangan sok kuat Ca, gue tau Lu kesakitan."


"Ya karena gue hidup, jadi bisa ngerasain sakit. Tapi ya, luka ini malah kerasa sakit sampe nyut-nyutan gini, kalo gak di jahit dulu nggak sesakit ini."

__ADS_1


"Lu pernah dapet luka kek gitu?"


"Ini bekas nya Han." Ica menunjuk bekas luka di betis kiri nya.


"Ini kenapa Ca? Jatuh atau apa?"


"Biasa lah gue di suruh cuci piring, malah jatoh. Otomatis banyak gelas sama piring pada pecah, nahh ini betis kena serpihan nya sampe robek gitu, dalem juga."


"Terus edaan nya ibu tiri gue Han, gue malah di pukul gara-gara pecahin tuh piring yang tinggal berapa biji, untung nya ada tetangga baik yang nolong gue, darah udah kemana-mana waktu itu. Gue puas banget saat lihat tuh nek lampir di marahi warga gara-gara marahin gue yang habis jatoh."


"Lalu gimana Ca?"


"Ya gak gimana-gimana, tapi setelah itu dia mau obatin luka gue setiap hari, meski dengan umpatan dan sumpah serapah, tapi dia masih ngelakuin itu, entah tulus atau cuma takut di labrak warga lagi. Dan Lu tau Han? Gue lagi sakit parah waktu jatoh, kayak pepatah udah jatoh malah ketimpa tangga, udah mah sakit malah ketambahan jatoh plus dapet bonus." Jelas Ica sambil tertawa.


"Gue speechless sama Lu Ca, nyeritain masa lalu pahit aja Lu masih bisa ketawa gini."


"Lah terus gue harus gimana Han? Harus sedih gitu? Gak ada lah, jadiin pengalaman aja. Biar gak ada yang punya mak tiri kayak gue," Ucap Ica, dia pantang sedih saat mengingat masa lalu nya.


Tapi tetap saja kadang dia menangis kala mengingat kepergian Azwar ke luar kota untuk menempuh pendidikan, karena hanya pria itu yang menyayangi nya, bahkan hingga saat ini seperti nya.


"Gue salut dan gue bangga punya sahabat kayak Lo, Ca."


"Gue juga Han, makasih udah ada di tiap kondisi apapun."


"Sama-sama Ca." Hani menyibak rambut nya, hingga pemandangan yang menakjubkan membuat mata Ica mengerjab beberapa kali.


"Hani ihh, itu siapa yang bikin? Banyak banget njirrtt!" Tanya Ica sambil menunjuk leher Hani yang di penuhi tanda merah.


Hani melotot, dia lupa menyamarkan bekas itu tadi.


"Eemmm eemm, gimana ya.."


"Lu tadi janji mo cerita ma gue, ayo dong.." Desak Ica.


"Jangan kaget apalagi teriak ya Ca." Ica mengangguk antusias.


"Pria itu jadiin gue partner ranjang nya Ca."


"Ap-apa?"


....


🌷🌷🌷


__ADS_1


cantik banget mbak Hani😙


__ADS_2