Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 74


__ADS_3

Ica masih tertidur lelap di pelukan hangat Zen, hingga rasa lapar di perut nya membuat nya terpaksa harus membuka kedua mata nya.


"Laperr.." Gumam Ica, gadis itu melerai pelukan Zen dan bangkit dari tidur nya, gadis itu mengucek mata nya pelan.


"Baru jam 11 ternyata," Dengan langkah malas, Ica masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil celana dan segitiga yang tadi Zen lempar sembarangan.


Ica memungut dan memakai nya kembali, hanya celana nya saja, segitiga nya dia ganti dengan yang baru.


Kruyukk..


"Isshh perut, nanti dulu." Gerutu Ica, dia belum selesai memakai celana nya, tapi perut nya begitu sibuk berbunyi.


Setelah selesai, baru lah Ica keluar dari kamar mengendap-endap, bahkan dia berjinjit dan menutup pintu nya sangat pelan. Bukan apa-apa, Ica takut Zen akan melarang nya makan, ini kan sudah tengah malam.


Ica menuruni tangga dengan perlahan, karena kondisi mansion gelap gulita, lampu mansion Zen selalu di matikan jika malam.


"Gelap banget.." Gumam Ica, gadis itu memasuki ruangan makan.


Ternyata, Bi Arin masih terjaga. Wanita paruh baya itu tengah membersihkan beberapa sayuran, mungkin untuk di masak besok.


"Bi.."


"Eehh, Non. Mau makan?" Tawar Bi Arin, tadi dia jelas tau kalau Nona muda dan Tuan muda tidak turun dari kamar saat makan malam.


"Iya bi, laper nih, capek juga jadi bawaan nya lemes." Jawab Ica sambil mengusap perut nya.


"Bibi siapin dulu sebentar ya Non, minum nya biasa?"


"Iya Bi, maaf ya ngerepotin malam-malam."


"Gapapa Non, sudah kewajiban saya disini." Jawab Bi Arin dengan senyum ramah nya.


Di kamar, Zen meraba kasur tempat Ica tidur tadi. Tapi tempat di samping nya kosong, bahkan sudah terasa dingin, Zen segera membuka kedua mata nya, dia mendudukan diri di sisi ranjang dengan mata yang celingukan.


"By.." Panggil Zen, pria itu menyangka gadis nya ada di kamar mandi. Jadi pria itu mengecek kamar mandi, tapi kosong.


Pria itu juga mengecek ruang ganti, lagi-lagi kosong. Hanya celana dan segitiga yang menghilang, berarti Ica tadi masuk ke ruangan ini.


"Punya gadis nakal amat, hilang tengah malam." Gerutu Zen, dia pergi keluar dan aroma semerbak yang menggugah selera tercium lembut, Zen tau gadis nya dimana.


Zen masuk ke ruang makan, benar saja Ica tengah makan sambil mengobrol santai dengan bi Arin.


"Baby.." Panggil Zen, membuat Bi Arin yang tadinya duduk di samping Ica segera berdiri dan pamit ke kamar nya.

__ADS_1


"Iya Dad, kenapa?"


"Kok gak bangunin Daddy sayang?" Tanya Zen lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan gadis nya.


"Biasalah, Ica kalo laper gak suka nunda, hehe."


"Daddy nyariin kamu sampe pusing, ehh kamu nya malah makan dengan tenang disini."


"Maaf Dad, ini ulah siapa? Ulah Daddy juga kan?" Ketus Ica, membuat Zen tersenyum jahil.


"Watados!"


"Itu bahasa planet mana, By?" Tanya Zen.


"Singkatan, wajah tanpa dosa, ya kayak Daddy ini." Sindir Ica, Zen terkekeh mendengar jawaban gadis nya.


"Suapin dong, lihat kamu makan lahap jadi ngiler."


"Daddy kan punya tangan, kenapa gak mak.." Ica menghentikan ucapan nya saat melihat Zen menatap nya tajam, tak ada pilihan lain kecuali menuruti permintaan nya.


"Good girl." Ucap Zen sambil mengusap lembut puncak kepala gadis nya.


"Dad, nanti pas Ica lomba, Daddy datang ya?"


"Hari rabu, berarti dua hari lagi Dad." Jawab Ica dengan ceria.


"Semoga jadwal Daddy kosong sayang, kalau pun terisi, Daddy akan kosong kan demi gadis cantik Daddy."


"Jangan cuma ngomong doang ya Dad,"


Zen menggelengkan kepala nya dengan senyuman manis nya, saat melihat ekspresi Ica yang menurut Zen terlihat sangat lucu. Mereka pun melanjutkan acara makan malam terlambat itu dengan di selingi canda tawa.


....


Di belahan bumi lain, pria yang baru saja sampai itu menuju rumah lama nya, tapi sayang rumah itu di segel dengan plang nama yang membeli rumah itu.


"Permisi, ini rumah saya tapi kenapa di garis? Apa terjadi sesuatu?"


"Anda siapa?" Tanya seorang pria berseragam serba hitam dengan alat komunikasi di telinga nya, terlihat sangat menakutkan bagi laki-laki yang masih muda sepertinya.


"Saya anak dari ibu yang tinggal disini."


"Ohh iya, pemilik terakhir sudah di usir. Sekarang, rumah ini telah menjadi milik tuan kami."

__ADS_1


"Siapa?"


"Azzendra Grew Nicholas!" Tegas pria menakutkan itu.


"Lalu kemana pergi nya penghuni rumah ini, pak?"


"Mana saya tau, saya hanya bertugas menjaga rumah ini atas perintah langsung tuan Zen."


"Baik, terimakasih atas informasinya pak." Jawab pria itu lalu pergi dengan tas dan koper nya.


"Sekarang, kemana aku harus mencari mereka? Azzendra, nama yang terdengar tak asing. Berasa pernah denger nama nya, tapi dimana ya?" Gumam Pria itu sambil terus berjalan, dia memutuskan mencari losmen untuk tempat nya tidur malam ini.


Pria itu berkeliaran tengah malam demi mencari sepetak kamar untuk nya beristirahat, perjalanan dari kota S ke kota D sangat jauh, dia memerlukan istirahat yang cukup untuk mencari keluarga nya esok hari.


"Permisi, apa ada kamar kosong untuk malam ini?"


"Kebetulan masih ada satu kamar kosong, tarif nya 250 ribu untuk semalam, kalau perbulan nya 2400 ribu."


"Saya belum tentu akan nge kost disini, jadi saya bayar hanya untuk malam ini saja." Pria itu merogoh saku dan mengeluarkan dua lembar uang merah dan selembar uang berwarna biru.


"Ini kunci nya, kamar nya di ujung sana."


"Baik, terimakasih."


Pria itu membuka pintu dan kembali menutup nya, dia membereskan barang nya sebelum berbaring.


Setelah di rasa cukup, baru dia berbaring. Dia menatap selembar poto gadis kecil yang sedang tersenyum sambil memegang bunga mawar.


"Aku rindu Ca, kakak rindu. Dimana kamu sekarang?" Pria itu meneteskan air mata nya, bahkan hanya mengingat saat gadis itu menangis saat dia pergi untuk kuliah pun mampu membuat nya menangis tergugu.


"Maafkan Kakak Ca, sekarang kamu dimana? Kakak pulang."


Azwar Mahessa, ya kakak tiri Ica sekaligus kakak kandung dari Meisya.


Dia satu-satunya orang yang menyayangi Ica dan memperlakukan nya seperti manusia, berbeda jauh dengan perlakuan ibu dan adik nya, saat gadis itu di siksa pun Azwar yang selalu membela nya.


"Apa kamu masih buka stroberi Ca? Kakak tak sabar melihat dirimu, pasti kau sangat cantik saat ini." Pria itu tersenyum membayangkan wajah cantik Ica.


Hingga rasa kantuk mulai menyerang, dia pun terlelap dengan tangan yang masih memegang poto Ica kecil.


....


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท

__ADS_1


100 buat yang jawab kakak tiri nya Ica๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™


__ADS_2