
Sore hari nya, Ica terlihat sedang membantu Bi Arin membereskan kekacauan bekas pesta tadi. Meski sudah di larang oleh Zen, tapi bukan Ica jika tidak keras kepala.
"Cucu menantu, kamu sedang hamil. Biarkan para maid dan bodyguard Zen yang membereskan nya, ingat kehamilan mu masih rentan." Peringat Kakek Arhan, barulah Ica menurut dan memilih duduk di samping pria paruh baya itu.
"Jangan kelelahan Nak, kamu juga harus memikirkan janin di rahim mu, dia masih bertumbuh."
"Iya kakek, maafin Ica. Tadi nya Ica bosen, masa cuma duduk liatin doang." Jawab Ica.
"Kamu anak yang baik Nak," Kakek Arhan mengusap lembut kepala Ica.
"Sayang, stroberi di rumah kaca sudah banyak yang merah, tak mau memetiknya?" Tanya Zen yang baru datang setelah buang air kecil dari toilet.
"Beneran Dad? Wahh, kebetulan lagi pengen. Harusnya Daddy bilang nya dari tadi, biar Ica petik sama Hani. Dia juga suka buah stroberi,"
"Nanti lagi kan bisa, lagian jarak apartemen Bimo ke mansion kan dekat, Bimo juga takkan bisa melarang kalau Hani main kesini, ajak saja sahabat mu main kemari." Ucap Zen.
"Memang boleh, Dad?"
"Boleh dong, apapun yang buat kamu seneng. Kapan mau mulai private class?" Tanya Zen, dia ingat kalau Ica masih ingin kuliah tapi keburu hamil.
"Ica mau kuliah aja ke kampus Dad, gak seru kalo di rumah, sepi."
"No, Daddy gak bisa ambil resiko Bby, apalagi kehamilan kamu yang masih trimester pertama." Jawab Zen, membuat Ica mengerucutkan bibir nya.
"Zen, selama istrimu bisa menjaga dirinya dengan baik, anak mu pasti baik-baik saja. Nantu ajukan cuti, setelah kehamilan nya 5 atau 6 bulan. Ingat, membuat mood ibu hamil tetap bagus itu juga baik untuk pertumbuhan janin." Jelas kakek Arhan, tentu nya dia tau karena pernah mengalaminya dulu. Sang istri hamil saat kuliah semester akhir, sebentar lagi wisuda tapi istri nya itu hamil.
Dia merengek dan tetap ingin berkuliah, mau tak mau dia mengizinkan karena kata dokter harus membuat mood bumil tetap terjaga.
"Yaudah, Ica mau ke kebun dulu." Pamit Ica, dia merebut wadah dari tangan Zen dan pergi ke kebun belakang, tempat rumah kaca berada dan kebun stroberi pribadi buatan Zen khusus untung sang Istri.
Zen menatap punggung sang istri dengan senyum yang terkembang di bibirnya. Istri cantik nya sangat menggemaskan.
"Istri mu sangat mirip dengan nenek mu, Zen." Ucap Kakek Arhan dengan senyuman nya.
"Iya kek, Ica adalah mood booster ku sekarang. Dia cantik, baik dan aku mencintai nya, sangat."
"Kakek sangat bersyukur kau menikah dengan Ica, bukan Rosa!"
"Haha, kakek ini. Kenapa sangat membenci Rosa?" Tanya Zen, kakek Arhan tak tau saja kalau wanita itu mati di tangan Zen.
"Karena dia bukan wanita baik, Zen. Kakek tau itu,"
__ADS_1
"Aku sudah melupakan wanita itu dan fokus pada istri cantik ku, Wenthrisca. Gadis yang tak sengaja aku tolong di jalan."
"Maksudmu?" Tanya Kakek Arhan. Zen pun menceritakan awal pertemuan nya dengan Ica, semua nya tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Ternyata kau sangat nakal, Zen!"
"Kita saling membutuhkan awal nya, Kek. Ica ingin bebas dari ibu tiri nya, sedang aku butuh kepuasan. Tapi aku melakukan nya tanpa paksaan, aku bahkan menunggu Ica hingga dia siap menyerahkan mahkota nya Kek, dan kita melakukan nya setelah 1 bulan tinggal satu atap." Jelas Zen membuat Kakek nya itu terkekeh. Tak sangka sepasang suami istri itu berawal dari sebuah kesepakatan konyol yang cucu nya buat.
"Jodoh memang tak ada yang tau kan, Zen?"
"Benar kek, aku bahkan bisa melupakan Rosa dan semua penghianatan nya berkat Ica. Gadis manis yang membuat dunia ku berwarna." Jawab Zen.
"Kakek dengar wanita itu belum mati, Zen. Kau tak ada niatan untuk kembali pada wanita itu kan?"
"Dia sudah mati untuk yang kedua kali nya, Kek. Aku yang melakukan nya, dengan tangan ku sendiri." Jawab Zen.
"M-aksudmu?"
"Wanita itu memang masih hidup awalnya, dia bahkan datang mengemis cinta padaku, tapi aku sudah tau akal licik nya, awalnya aku biarkan saja. Tapi, dia malah bertindak di luar batas dengan menyakiti Ica ku, jelas aku marah dan ya, kakek tau sendiri apa akibat nya jika mengusik orang aku sayangi."
Kakek Arhan menggelengkan kepala nya, sedikit heran dengan cucu nya ini. Tapi baguslah, dengan ini takkan ada yang mengganggu cucu dan cucu menantu nya.
"Ohh ya, Zen dimana ibu tiri Ica sekarang?"
"Astaga.."
"Kalau Ica tak datang padaku untuk meminta pertolongan waktu itu, Ica juga sudah dia jual pada pria paruh baya beristri 2."
Kakek Arhan menganga, begitu kejam nya ibu tiri cucu menantu nya.
"Kakek tak habis pikir, kenapa bisa dia melakukan hal sekejam itu pada anak nya sendiri?"
"Entahlah, Zen sendiri tak tau bagaimana otak wanita itu." Jawab Zen sambil menggelengkan kepala nya.
"Bawa istri mu ke rumah, udara nya mulai sejuk tak baik untuk istri mu."
"Baik Kek, dia memang sering lupa waktu kalau sudah berada di kebun memetik stroberi."
"Istri mu sangat menyukai buah itu ya?" Tanya Kakek Arhaan.
"Iya kek, sampai pernah dia sakit perut karena terlalu banyak memakan buah itu."
__ADS_1
"Ya ampun cucu menantu ku itu sangat nakal, seperti suami nya ternyata."
"Aku sudah tidak nakal lagi Kakek, aku sudah menemukan pawang ku." Jawab Zen sambil terkekeh.
"Jemput pawang mu itu," Zen mengangguk dan pergi menjemput sang istri di kebun belakang.
"Bby, sudah hampir petang sayang. Ayo mas..." Zen menganga saat melihat Ica yang sedang duduk lesehan di tanah sambil memakan buah stroberi dengan lahap.
"Ya ampun istri ku sayang, apa ini?"
"Kenapa menyusul Dad? Lihat, buah nya masih banyak, Ica mau habiskan!"
"Sudah petang, ayo masuk. Udara nya mulai sejuk, tak baik untuk bumil di luar rumah." Ucap Zen.
"Gak mau, Ica masih mau makan buah stroberi. Dedek suka."
"Iya besok kesini lagi sayang, sekarang masuk dulu mandi ya.."
"Enggak Dad, Ica mau disini aja." Jawab Ica kekeh.
"Baby, pikirkan anak kita juga. Lagian jangan terlalu banyak memakan buah ini, nanti sakit perut lagi kayak waktu itu, gak kasian sama Dedek?"
"Dedek nya kenapa gitu?"
"Ya kalau kamu sakit perut, nanti dedek nya juga sakit sayang." Ucap Zen.
"Ohh gitu ya, yaudah deh Ica udahan makan nya. Lagian buah nya gak enak, asem." Zen terkekeh mendengar ucapan Ica, dia tak mungkin menanam buah asam di kebun nya, apalagi ini buah kesukaan istri nya.
Zen menggendong Ica ala bridal style dan membawa nya ke rumah, kaki Ica bergerak-gerak manja di pangkuan Zen, membuat pria itu gemas dengan istri nya.
"Pengen gigit ihh, gemes.." Ucap Zen.
"Jangan dong Dad, sakit.."
"Makanya jangan gemesin ya, Bby." Zen mengecup kening Ica singkat.
.....
π·π·π·π·
__ADS_1
cakep bener istri nya abang Zenπππ