Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 221


__ADS_3

Singkatnya, setelah satu minggu di rawat, keadaan Ica sudah mulai membaik dan luka jahitan nya sudah mengering, dia sudah di izinkan pulang dengan syarat jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu, berjalan pun harus sangat berhati-hati dan perlahan.


Zen tentunya tak mau melihat istrinya kelelahan, jadi dia menyewa sementara dua orang suster dari rumah sakit, untuk membantu sang istri menjaga kedua buah hati mereka yang masih sering rewel dan mengajak begadang semalaman.


Gantian, kali ini ada dua anak yang mengajak Ica begadang, kalau dulu hanya Zen saja yang mengajak istrinya itu begadang hingga subuh.


"Dad, Kakek kemana ya? Gak kelihatan, Bibi Arin juga." Tanya Ica setelah keduanya sampai di mansion.


"Gak tau Mom, mungkin lagi main sama temen kakek-kakek nya." Jawab Zen santai, dia tengah menggendong Baby Daisy dan Ica menggendong Baby Dave.


Ica dan Zen masuk ke dalam mansion itu, dia terkejut bukan main saat melihat ada jamuan makan kecil-kecilan di ruang keluarga. Sahabat nya juga ada disaana, Hani, Risya dan Sintia hadir, tentunya bersama para bucin mereka masing-masing.


"Welcome Home.." Sambut mereka membuat Ica tersenyum penuh makna, selalu saja ada hal yang membuatnya terkesan.


"Terimakasih." Ucap Ica, masih dengan senyuman yang terbit di bibirnya. Ketiga wanita itu langsung mengerubungi Baby Dave yang sedang di gendong Ica, tentu saja mereka tak berani mengerubungi Baby Daisy, karena yang menggendong nya menakutkan mungkin atau lebih tepatnya segan karena Zen adalah orang yang sangat berpengaruh.


"Sus, saya mau ke kamar mandi, tolong gendong Daisy dulu." Pinta Zen, padahal dia tak sepenuhnya ingin ke kamar mandi, tapi dia paham dengan tingkah ketiga sahabat istrinya.


Dan benar saja, setelah Baby Daisy di gendong suster, ketiga nya beralih mengerubungi Baby Daisy.


"Wahh, Daisy sangat menggemaskan ya ampun."

__ADS_1


"Lihat pipi nya, cabi kayak Ica waktu hamil ya." Celetuk Hani.


"Aaaa lucu nya keponakan aunty, pengen gigit deh."


"Enak aja di gigit, kamu mau aku timpuk?" Ketus Ica membuat Risya cengengesan.


"Tolong bawa Baby Dave sama Baby Daisy ke kamar nya dulu ya, Sus. Saya mau ngobrol bentar, takutnya berisik nanti bangun. Lagian disini ada hama, takutnya beneran di gigit nanti, entar anak saya ketularan lagi."


"Perasaan gue gak penyakitan." Ucap Risya.


"Ketularan nyeleneh kayak Lu sama Brian." Cetus Ica membuat yang lain kompak tertawa. Suasana mansion menghangat, karena ramai orang yang hadir saat menyambut Ica yang baru saja melahirkan itu pulang ke mansion lagi.


Tiba-tiba saja seseorang masuk dengan nafas ngos-ngosan, seperti nya di habis berlari.


"Kebiasaan deh, ikut pas enaknya aja!" Ketus Hani, tapi tak lama kemudian semuanya tertawa, termasuk orang itu, siapa lagi kalau bukan Meisya.


Dia di hubungi Hani tadi pagi dan meminta nya datang ke mansion Zen untuk menyambut kepulangan Ica dari rumah sakit. Tapi karena dia malah diare, akhirnya dia terlambat datang padahal dia tinggal di belakang mansion Zen.


"Aneh ya, yang paling deket datang nya paling terakhir." Ucap Risya.


"Iya iya maaf, maaf. Perut ku sakit ini, diare kebanyakan makan pedes."

__ADS_1


"Issshh doyan ya doyan tapi jangan berlebihan Mei, ayo kemari gabung." Ajak Hani, Meisya mendekat dan duduk di samping Ica. Akhirnya hubungan Meisya dan teman-teman nya kini membaik, Hani tak lagi membenci Meisya, tapi entah dengan Brian. Entah pemuda itu masih membenci Meisya karena bibi nya atau tidak, hanya dia yang tahu.


"Selamat ya Ca, dimana mereka?"


"Di bawa ke kamar nya Kak, mereka kan lagi tidur, tau sendiri kalau udah ngumpul gini, kita pasti berisik bukan main. Kalau mau ketemu Baby Dave sama Daisy, kakak main aja kesini setiap hari ya."


"Bolehkah, bagaimana dengan Zen? Kakak takut dia akan marah jika kakak sering kemari."


"Sudahlah, Daddy takkan berbuat apa yang tidak aku kehendaki sekarang. Ingat, sering-sering main kesini, deket ini cuma di belakang doang." Ucap Ica, Meisya mengangguk dan tersenyum. Ternyata jadi orang baik itu sangat menyenangkan, pantas saja Ica punya banyak teman dan orang-orang menyukai gadis itu karena dia sangat baik.


Sedikit kesedihan nya terobati karena bisa bertemu dan bermain dengan putra putri Ica, meski dia tak bisa punya anak tapi setidaknya dia tak kesepian nanti.


"Huhh andai saja aku bisa mengandung." Gumam Meisya.


"Jangan sedih dong, kamu bisa bermain juga dengan anak kami nanti." Ucap Hani membuat Meisya mendongak.


"Iya, kita bakal sering main kesini nanti buat kumpul-kumpul, nah kamu bisa main sama anak-anak nanti, udah jangan sedih ya.."


"Jangan lupa, kamu masih punya dua keponakan dari kakak, Mei. Kakak jamin, pasti kamu takkan pernah kesepian ya." Ucap Sintia, Meisya tersenyum lalu mengangguk. Meisya sadar, mungkin ini terjadi akibat kejahatan nya dulu, ini sebagai bentuk hukuman untuknya. Memang jalan untuk berubah menjadi lebih baik itu tak selalu lurus, ada banyak tikungan, tanjakan dan turunan yang akan di lalui.


.....

__ADS_1


🌷🌷🌷


Sabar ya Meii, gapapa masih ada keponakan mu yang lain, banyak lho😁


__ADS_2