Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 229


__ADS_3

Jika sudah berkumpul dan berghibah bersama, pasti akan lupa waktu sampai tak menyadari kalau hari sudah petang. Sampai-sampai para hot Daddy itu harus menjemput barisan hot mommy yang berghibah hingga lupa waktu.


"Aduhh, kebiasaan ini kalo udah kumpul pasti lupa waktu." Keluh Bimo sambil melajukan mobil nya, tentu nya dengan Zen yang duduk di samping Bimo. Sedangkan Azwar dan Brian duduk di belakang dengan santai, mereka bisa sesantai itu karena pekerjaan hari ini cukup lengang. Tak terlalu banyak tamu, dan otomatis saja tak banyak lantai yang kotor.


Hot Daddy itu tau kalau istri-istri mereka belum pulang karena Zen yang menelpon sang istri dan menanyakan dia sedang dimana, dan jawaban nya masih di rumah Risya, padahal saat ini sudah jam lima sore, sebentar lagi malam.


"Yaudah sih, kayak gak tau kebiasaan mereka aja. Kalo kumpul ya pasti ghibah, kayak gak ngerasa aja. Kita juga kalo ngumpul suka lupa waktu karena ketularan doyan ghibah juga." Ucap Zen, dia berusaha menekan egoisme nya. Padahal sebenarnya dia juga kesal saat mendengar sang istri belum juga pulang ke rumah padahal hari sudah petang.


"Maklum aja kali, mulut cewek kan dua jadi wajarlah, laki aja yang mulut nya cuma satu aja doyan ghibah." Cetus Brian membuat Zen menggeleng. Bukan Brian namanya kalau tak bicara sesuai fakta yang malah nyeleneh menurut nya.


"Punya adek gini amat, astaga." Bimo bergumam, dia menghela nafas panjang beberapa kali. Dia tak mau ikut larut dalam pembicaraan yang nantinya akan berakhir dengan perdebatan panjang.


Singkatnya, mobil yang di kendarai Bimo berhenti tepat di depan rumah Risya. Ke empat hot Daddy itu pun langsung keluar dan begitu Brian membukakan pintu mereka langsung masuk dan berjalan serempak seperti boyband yang berjalan di atas karpet merah di acara penghargaan.


"Lho itu kan Daddy?"


"Anjir di susulin.." Ucap Hani panik, dia langsung menyembunyikan ramen cup pedas yang sedang dia makan.


Begitupun Ica dan Sintia, mereka kompak menyembunyikan ramen. Sedangkan Risya dia sangat santai dan tenang, karena sedang tidak makan mie tapi mengemil buah karena ramen nya sudah habis duluan.


Ke empatnya mendekat, aroma ramen semakin menguat membuat Zen dan Bimo langsung melemparkan tatapan tajam ke arah istri-istri nya. Begitupun dengan Azwar, tapi dia tak memberikan tatapan tajam, hanya menyedekapkan tangan nya di dada, pertanda dia sedang marah.


Begitu saja, Sintia tau kalau dia sudah ketahuan makan ramen tanpa izin dan itu adalah kesalahan.


"Kamu makan ramen, Bby?" Tanya Zen, Ica mengangguk sambil cengengesan. Zen memutar matanya jengah, entah harus dengan hukuman apa lagi agar istrinya itu jera dan tak mau makan mie instan lagi, apalagi sekarang dia sedang menyusui, mana mie nya pedas.


Ica mengeluarkan satu ramen cup dari belakang punggung nya, Zen langsung geleng-geleng kepala lalu pergi mendekat ke arah Brian yang pulang kerja langsung makan.

__ADS_1


"Kenapa asem banget tuh muka?" Tanya Brian di sela makan nya saat melihat ekspresi Zen yang tertekuk.


"Bingung gue sama kelakuan bini, makan mie instan kok kayak jadi favorit gitu padahal kan gak sehat. Mana pedes, lagi nyusuin bayi." keluh Zen.


"Biarin aja kali bang, selama mood nya baik-baik aja, bayi nya sehat. Inget lho, bikin mood busui anjlok itu berpengaruh sama ASI yang di hasilkan."


"Tapi gak setiap hari juga Bri, gue juga makan dia gak setiap hari." Jawab Zen membuat Brian terkekeh.


"Sabar ya, kan udah punya anak jadi ya harus berbagi waktu sama anak."


"Gue terabaikan Bri, mau nyusu aja susah nya minta ampun. Anak-anak gue tuh kayak tahu bapaknya pengen nyusu, jadi dia nemplok terus semalaman sama Ica." Keluh Zen lagi-lagi membuat tawa Brian seketika pecah.


"Ngalah dong, kayak gue. Nungguin anak tidur dulu baru gue beraksi, kalo anak-anak belum tidur mah sama juga boong."


"Iya nungguin dulu sampe anak-anak tidur, terus baru beraksi? Dapet sisa nya doang." Celetuk Bimo yang juga memilih mendekat ke meja makan dan bergabung dalam obrolan tak bermanfaat ini.


"Sama kayak Abang pertama, bini makan mie Mulu." Jawab Bimo sambil mengambil satu buah jeruk dari keranjang buah dan mengupasnya.


"Masalah nya kompakan dong." Celetuk Azwar yang juga datang mendekat lalu duduk di samping Bimo.


"Dihh, drama banget tibang makan mie instan doang."


"Drama apaan? Makan mie itu gak sehat Brian, mereka busui. Harusnya jangan dulu makan pedes,"


"Ya gue juga tahu bang, tapi sekali-kali kan gak masalah daripada bad mood, siapa juga yang susah?" Tanya Brian, membuat ketiga nya diam.


"Ghibah yuk, daripada keluh kesah gara-gara mie instan." Ajak Brian.

__ADS_1


"Ghibahin apa?"


"Caranya pake istri setelah melahirkan gimana?" Tanya Brian membuat Zen tergelak.


"Ya sama aja kek biasa, tinggal keluar masukin doang." Jawab Zen.


"Maksudnya tuh apa harus pelan-pelan ke pertama kali gitu?" kali ini Bimo yang bertanya, dia juga penasaran. Tadinya dia mau meminta jatah malam ini, tapi dia sedang kesal seperti nya memang harus di undur.


"Tergantung ceweknya, bini gue cuma ngeluh lubang nya ngilu doang tapi pas di tanya sakit apa enggak nya, dia geleng."


"Tapi ada juga yang gak ngilu tapi sakit, ada juga yang sebaliknya." Jelas Zen membuat ketiga nya kompak manggut-manggut.


"Intinya harus pemanasan dulu ya, biar banjir dulu baru masuk?" Tanya Bimo.


"Iye lah, pemanasan itu wajib. Biar bini Lo rileks gak tegang, nanti juga kalo udah basah lebih gampang masuknya."


"Okey, gue mau praktek." Cetus Bimo membuat yang lain tertawa. Bisa-bisanya setelah bertanya dulu langsung praktek.


"Hati-hati ya Bim, lampu merah di tengah jalan."


"Maksud nya?" Tanya Bimo dengan kening yang berkerut.


"Ya berhenti di tengah jalan Bim, ada aja gangguan nya pas lagi enak-enak nya, anak nangis lah, pipis, berak. Pokoknya ada aja gangguan nya." Peringat Zen, membuat Bimo merenung. Banyak sekali cobaan yang harus dia lalui demi meledak nya cairan surgawi nanti.


.....


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Yoo segitu aja ghibah nya ya, jangan lupa vote πŸ₯°πŸŒ»


__ADS_2