
Arian berkutat dengan bahan dapur seadanya, dia ingin memasak sup ayam untuk Meisya, sebagai laki-laki yang terbiasa mandiri, tentunya memasak sup bukanlah hal yang sulit, dia pandai membuatnya sehari-hari.
Tapi kali ini sangat istimewa, dia memasak untuk perempuan yang sudah membuat hatinya berdebar tak karuan. Jika mengingat Meisya, senyum kecil di bibirnya selalu saja terbit. Apalagi jika mengingat wajah nya yang memerah, kalau ketahuan sedang menatap nya.
Sedangkan di kamar, Meisya masih saja tertidur, padahal hari sudah menjelang petang. Dia tertidur nyenyak, mungkin karena pengaruh obat yang tadi dia minum.
Hingga aroma wangi sup yang menggugah selera membuat nya terbangun, hidung nya mengendus aroma sup itu, perut nya langsung meronta karena ini memang hampir waktunya makan malam, tapi dia sudah melewatkan jam makan siang karena ketiduran.
"Aaah wangi nya.." gumam Meisya, dia perlahan bangkit dan menuju ke sumber wangi itu. Dia tersenyum, ini pertama kali nya dia melihat Arian memasak sendiri setelah mereka tinggal bersama selama berbulan-bulan lamanya.
"Kakak lagi masak apa?" Sapa Meisya, sambil mendekat dan berdiri di samping Arian yang sedang mengaduk-aduk kaldu.
"Rencana mau buat sup ayam, kok udah bangun? Laper?" Tanya Arian, Meisya mengangguk.
"Sabar ya cantik, sebentar lagi matang kok. Kamu duduk dulu, nanti kakak anter ke meja."
"Mei pengen lihatin Kakak masak aja." Ucap Meisya, akhirnya Arian hanya membiarkan saja Meisya melihatnya memasak. Sesekali mata nya membulat lalu menyipit, entah kenapa. Tapi yang jelas itu membuat Arian gemas.
Arian mematikan kompor, lalu mencubiti kedua pipi Meisya saking gemas nya.
"Gemesin nya kamu.."
"Aassshh, kakak sakit!" Meisya meringis karena Arian terus saja menguyel-uyel pipi nya.
"Habisnya kamu gemesin banget sih."
__ADS_1
"Aku? Gemesin dimana nya Kak?" Tanya Meisya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Arian terkekeh lalu menangkup wajah Meisya, tiba-tiba saja pria itu mencium bibirnya. Meisya membeku dengan kedua mata yang membulat, ini pertama kalinya Arian menciumnya di bibir.
Bahkan bibir pria itu terasa hangat saat menyapu irisan bibir bawah dan atas nya secara bergantian. Wajah nya memerah, tapi beberapa menit kemudian dia memejamkan mata nya dan ikut hanyut dalam ciuman hangat yang di lakukan Arian.
Meisya melingkarkan tangan nya di pinggang Arian, sedangkan pria itu memegangi tengkuk nya memperdalam ciuman itu. Hingga suara decapan terdengar memenuhi ruangan dapur.
Hingga Meisya memukul-mukul dada Arian, pria itu paham dan langsung melepaskan tautan bibirnya. Arian menempelkan dahi mereka hingga hidung runcing mereka saling bersentuhan, Meisya bisa merasakan nafas hangat pria itu menerpa wajahnya. Aroma mint menguar dari mulut Arian, membuat Meisya merasa nyaman.
Arian mengecup singkat kening Meisya, lalu tersenyum dan mengusap ujung bibirnya dengan ibu jari nya. Tentu saja dia tersenyum karena melihat wajah Meisya yang sangat merah seperti tomat.
"Wajah kamu udah Mateng, merah merona gini." Ucap Arian membuat wajah Meisya semakin memerah saja dan memilih memalingkan wajah nya ke samping.
"Silahkan di makan ratuku." Arian tersenyum lagi, setelah tinggal berbulan-bulan bersama, kini Arian tak sedatar dulu, pria itu lebih sering tersenyum sekarang.
Arian juga ikut makan, beberapa kali dia curi-curi pandang ke arah Meisya yang makan dengan lahap.
"Sup nya enak, Kak, makasih." Puji Meisya, tentu saja membuat Arian tersenyum bangga.
"Berhentilah memanggil aku dengan sebutan Kakak, pada dasarnya kita bukan adik kakak."
"Lalu?"
"Panggil aku sayang, atau Mas." Jawab Arian.
__ADS_1
Uhukk.. uhukk..
Meisya tersedak hingga terbatuk, Arian langsung mendekat dan memberikan segelas air pada Meisya.
"Pelan-pelan makan nya, Cantik."
"Kakak yang bikin aku tersedak, bisa gak sih ngomong nya nanti aja setelah makan?" Rutuk Meisya setelah batuk nya mereda.
"Habis nya kamu tuh kayak keenakan manggil kakak, padahal aku bukan kakak mu."
"Terus, kalo bukan kakak apa dong?" Tanya Meisya dengan sedikit pancingan.
"Calon suami tentunya."
blushh..
Wajah Meisya kembali memerah mendengar jawaban Arian, calon suami katanya? Assshh boleh jungkir balik gak? Mungkin itu yang akan di lakukan Meisya kalau saja dia tak malu pada Arian.
"Pipi kamu merona terus, lucu banget."
"Aahh sudahlah, aku ingin melanjutkan makan." Ketus Meisya, dia sudah di buat malu oleh Arian yang terus-menerus menggoda nya. Dari mulai memanggil nya cantik, lalu ciuman mesra di dapur, memperlakukan nya dengan istimewa, lalu sekarang menyebut dirinya sendiri sebagai calon suami. Aaaa siapa yang gak salah tingkah coba?
....
🌷🌷🌷
__ADS_1