
"Ap-apa?" Ica tergagap saat mendengar ucapan sahabat nya.
"Iya, pria asing yang udah ngambil kesucian gue. Sekarang gue tinggal sama dia.." Jawab Hani.
"Astaga, Lu ngikutin jejak gue hah?"
"Ya habis nya yang Lu bilang beneran terjadi, Ca."
"Apanya?"
"Sensasi nya buat ketagihan." Jawab Hani malu-malu, membuat Ica tergelak saat melihat wajah Hani memerah.
"Enak kan? Gue bilang juga apa, candu banget rasa nya."
"Lu bener Ca, cuma sakit di awal aja."
"Btw Lu udah main pake cara apa aja?" Tanya Ica penasaran.
"Apa sih Ca, jangan buat gue malu!" Semakin memerah saja wajah Hani di buat nya.
"Pengen tau aja, kalau gue sama Daddy gaya favorit gue sambil nungging."
"Sakit tau Ca, masuk nya jadi dalem banget."
"Itu karena Lu belom terbiasa Han, gue juga awalnya gitu, tapi kelamaan jadi enak banget." Jelas Ica.
"Gue biasa nya di bawah Ca, pernah sekali nyobain sambil nungging, tapi sakit banget."
"Cobain lagi, gue punya rekomendasi gaya yang enak Han. Mau tau?"
"Apa Ca?" Tanya Hani.
"Coba sambil berdiri, terus kaki nya di angkat sebelah Han. Rasanya, ahhh mantap." Ucap Ica sambil terkekeh.
"Exstrim banget, kayak nya gue gak bakalan berani main gitu."
"Udah nyoba main di kamar mandi belom?" Hani menggeleng.
"Emang nya Lu pernah Ca?"
"Pernah beberapa kali Han, Daddy gue tuh nafsuann, kalo udah pengen gak bisa di tolak. Jadi nya dimana aja bisa, selagi itu aman. Tapi gue belom pernah sih maen di mobil."
"Gila Lu Ca,"
"Ya terus gimana dong? Kalau gak di kasih, Daddy pasti marah banget."
"Iya juga sih, btw gue denger yang nyulik Lo itu Rosa? Beneran Ca?" Tanya Hani.
"Iya, berdua sama laki-laki, tapi gue gak tau nama nya siapa."
__ADS_1
"Terus sekarang mereka dimana?" Tanya Hani lagi.
"Gue gak tau, tapi gue rasa Daddy gak bakal diem aja sih. Cuma gue gak tau mereka bakal di apain sama Daddy."
"Gimana kalo mereka di penggal Ca? Kok ngeri ya,"
"Kenapa Lo punya pikiran gitu? Daddy gak sekejam itu kali, Han."
"Soalnya Daddy Lo kalo marah nyeremin banget, jadi gak menutup kemungkinan itu bisa terjadi Ca."
Ica diam, apa benar pria itu akan melakukan hal sekejam itu pada Rosa? Mengingat wanita itu pernah mengisi hati Zen, tapi seperti yang Hani bilang, tak menutup kemungkinan kalau Zen bisa melakukan nya.
"Jangan bengong, udah lupain. Ini di perban kenapa?" Tunjuk Hani pada kepala Ica yang di balut perban.
"Cuma kena pukul pake balok kayu, ini luka nya kecil kok cuma darah yang keluar tuh banyak banget, gak tau kenapa kok jadi di lilit perban satu kepala gini." Jawab Ica sambil meraba kening nya, masih terasa ngilu.
"Tuh orang nekat banget,"
"Iya Han, dan aneh nya mereka kok bisa culik gue padahal Daddy udah antisipasi dengan jagain gue pake bodyguard, tapi tetep aja bisa kecolongan."
"Pasti ada lengah nya Ca, mereka kan gak mungkin ngikutin Lu ke toilet kan?"
"Iya juga sih, tapi nggak tau lah."
Kedua sahabat itu pun melanjutkan pembicaraan random nya, kadang membahas hal mesoom, menggibahi artis korea, bicara tentang drama, dan masih banyak lagi. Jika wanita sudah bertemu yang sefrekuensi pasti banyak bicara yang tak penting, tapi menurut mereka harus di bahas.
....
"Jadi, kenapa kalian berani menyakiti gadis ku? Ica ku punya salah apa pada kalian hmm?" Zen bertanya dengan suara datar nya.
"Dia bersalah karena sudah merebut mu dariku, Zen!"
"Bangun Rosa! Hubungan kita sudah aku anggap berakhir saat kau di nyatakan mati. Kau kira aku tak tau kalau kau pura-pura mati? Aku tau semua nya, Rosania." Tegas Zen, diam-diam dia menyelidiki semua tentang Rosa, bahkan dia mengerahkan detektif mahal untuk mencari kebenaran tentang Rosa, dia turun tangan sendiri menyelidiki kecelakaan yang menurut nya sangat janggal.
Dan fakta yang dia dapat sangat membuat hati nya panas, tapi meski begitu rasa di hati Zen tetap di isi oleh Rosa, sebelum sekarang tergantikan oleh sosok Wenthrisca, gadis cantik yang tak sengaja dia tolong.
"Baiklah, aku yang akan membuat mu merasakan mati untuk kedua kali nya. Tapi, rasanya itu terlalu mudah, tak sebanding dengan luka gadis ku." Zen mengeluarkan pisau kecil dari saku nya, pisau berkarat yang sama saat Rosa melukai tangan gadis nya.
Rosa melotot, Zen terlihat seperti orang lain. Dia begitu menakutkan, hingga membuat area sekitar nya menjadi terasa dingin.
"Tangan mana yang kau pakai untuk menampar gadis ku hah? Yang ini?" Tanya Zen, memegang tangan Rosa, dengan cepat dia mematahkan jemari wanita itu, hingga membuat nya berteriak.
"Sakit? Ini belum seberapa dengan hukuman yang menanti dirimu, Ros."
"Hentikan Zen, sakit. Kau terlihat seperti orang lain, kau bukan Zen yang aku kenal."
"Aku bukan Zen yang dulu bodohh, Ros. Aku sudah berubah, jauh berubah."
"Kau seperti psikpopat."
__ADS_1
"Ya, aku berubah menjadi pria psikopat Ros. Itu setelah kau dengan bodohh nya membuang berlian seperti ku demi sepotong batu bata penuh kotoran ikan hiu. Pria semacam Alberto, apa bisa di bandingkan dengan ku?"
Zen menjambak rambut Rosa, hingga membuat nya mendongak ke belakang.
"Apa bagus nya Alberto dari pada aku, cihh." Zen meludahi wajah Rosa, mantan kekasih yang tak tau diri itu.
"Zenn.."
"Bahkan ludah ku terasa lebih baik dari pada pria bernama Alberto itu, lalu sekarang kau minta Jackson untuk bersatu dan menghancurkan aku? Kau tak tau saja, Siapa pria yang kau ajak bekerja sama ini."
Zen menyayat wajah Rosa dengan pisau berkarat itu, hingga darah segar mengalir deras dari luka yang Zen buat. Wanita itu menjerit kesakitan, dia tak pernah membayangkan Zen akan membalas seperti ini.
"Jika kau berpikir aku akan diam saja setelah kau menyakiti gadis ku, kau salah besar!"
"Jack, kau sangat pandai memanfaatkan situasi, bagaimana? Kau menikmati nya?"
"Sangat tuan," Jawab Jack pelan.
"Tuan?" Tanya Rosa, dia belum tau saja kalau Jackson adalah salah satu anak buah nya dulu.
"Kau tau siapa Jackson? Dia pria yang aku pungut dari jalan, aku menyekolahkan nya hingga bisa sesukses ini. Bagaimana bisa dia membantu mu untuk menghancurkan hidupku? Sedangkan aku adalah orang yang sangat membantu nya? Kau pasti gila Ros!"
Rosa mati kutu, dia tak tau kalau Jackson adalah mantan anak buah Zen, meski pun sekarang pria itu terlihat tak menyukai Zen, tapi tetap saja dia tak bisa melakukan seperti yang Rosa pinta.
"Kau juga akan di hukum atas perbuatan mu, berani sekali kau menampar gadis ku, Jack!"
"Maaf tuan, s-saya..."
"Saham perusahaan mu aku ambil 100 persen!" Tegas Zen.
"Tapi tuan, itu perusahaan yang saya rintis dari nol."
"Atau kau mau mati?" Jack gelagapan sendiri, di sisi lain dia tak mau perusahaan nya di ambil alih oleh Zen, tapi dia tak mau mati juga. Maju kena mundur juga kena, terpojok sudah Jack.
"Baiklah, ambil saja perusahaan itu."
"Bagus, dan untuk kau Ros, ini belum selesai." Peringat Zen lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Perketat penjagaan, kalau mereka lolos, kepala kalian akan aku jadikan mainan Jerry!"
"Baik tuan, kami mengerti."
"Jangan berani memberi wanita itu makan,"
Zen pergi dari tempat itu di ikuti Bimo, sang asisten setia yang selalu mengintili Zen kemana pun.
....
🌷🌷🌷
__ADS_1
pria selembut Zen pun bisa jadi psikopat kalau menyangkut orang yang dia sayangi😊