Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 46


__ADS_3

"Sya, aku pulang dulu ya. Soalnya Daddy ku posesif banget, dia pasti ngamuk kalau aku pulang terlambat." Pamit Ica, setelah kedua nya selesai makan.


"Iya Ca, aku ngerti kok."


"Kenyang banget nih, jadi bawaan nya ngantuk." Celetuk Ica sambil cengengesan, membuat Risya tertawa hambar.


"Perut kamu melar banget, ya jelas kenyang lah kamu makan 3 mangkok mie ayam, belom lagi soto. Itu laper apa doyan?" Ledek Risya, tapi yang di ledek tak peduli, dengan anteng nya dia menyeruput jus alpukat nya.


"Belom lagi jus, apa perut kamu gak begah?" Tanya Risya heran, dirinya juga wanita yang mempunyai selera makan tinggi, tapi tak sebanyak Ica juga.


"Begah sih, tapi gak akan berhenti makan sebelum kenyang."


"Dan aneh nya tubuh kamu langsing banget, malah cenderung kecil mungil Ca." Cetus Risya membuat Ica meraba tubuh nya.


"Bener sih, tapi aku gak sekecil dan semungil itu kali Sya. Aku makan banyak, tapi badan ku tetap segini, paling nambah sekilo atau dua kilo."


"Gak diet Ca?" Tanya Risya, terlihat kalau dia sangat menjaga pola makan, tak seperti Ica yang mengumbar nafsuu makan nya.


"Enggak, aku malah pengen agak gendutan dikit lagi aja. Biar kenyal, hehe.." Jawab Ica sambil cengengesan.


"Aku malah pengen kurus, kita kebalikan Ca."


"Kenapa pengen kurus? Pasti ada alesan nya kan?"


"Karena kakak aku bilang, aku kayak bab* yang gendut dan jelek." Jawab Risya sambil menunduk.


"It's okey Sya, setiap orang cantik dengan cara nya sendiri. Kamu gak perlu dengerin ucapan orang lain, nikmati hidup kamu sendiri, gak usah dengerin pendapat orang lain, selagi kamu sehat, apalagi? Lagian menurut aku, kamu gak gendut kok, dan kamu cantik apa adanya."


"Kamu bilang gini karena kasian kan Ca?" Ucap Risya.

__ADS_1


"Aku? Kasian apa? Kamu gak perlu di kasianin, kamu cantik dan body kamu bagus kok. Udah lah, jangan dengerin omongan orang lain ya Sya, nikmati hidup kamu."


"Thanks ya Ca, cuma kamu yang ngedukung aku saat ini."


"Orang tua kamu kemana?" Tanya Ica.


"Mereka udah gak ada, aku cuma punya kakak perempuan, itu pun keliatan gak peduli sama aku. Malah cenderung malu kalau aku datengin dia pas lagi sama temen-temen nya, ya jelas dari segi penampilan, kita jauh banget. Bagai bumi dan langit.."


"Aku juga yatim piatu, selama ini aku menerima kekerasan dari ibu dan kakak tiri, sampai akhirnya aku di pungut sama Daddy." Jelas Ica.


"Daddy?"


"Semacam hot daddy."


"J-jadi kamu sugar baby Ca?" Ica menganggukan kepala nya pelan, dia malu mengakui kalau dirinya seorang sugar baby, tapi itu fakta nya, mau bagaimana lagi.


"Mau dong, banget malah. Emang nya kenapa kalau kamu sugar baby? Gak masalah kok, yang penting selama sama aku kamu baik." Ucap Risya.


"Oke deh, mau pulang atau masih mau nongki disini Sya?"


"Aku disini dulu, kamu duluan aja dan hati-hati di jalan. Btw pulang sama siapa? Di jemput Daddy?" Tanya Risya.


"Enggak, Daddy lagi di luar negeri. Aku di jemput supir, aku pulang duluan ya, byee.." Ica melambaikan tangan nya, begitu pun Risya.


"Ada ya orang kayak Ica, udah mah cantik, gak mandang fisik dan ramah banget." Gumam Risya. Dia begitu bahagia bertemu Ica, meski baru pertama kali bertemu, tapi gadis itu langsung akrab dengan mudah nya.


...


Di belahan bumi lain, Zen sedang uring-uringan karena mendapat poto dari anak buah suruhan nya.

__ADS_1


"Gadis nakal, ke kampus pake baju gitu. Awas aja ya kamu, kalau Daddy pulang.." Gerutu Zen, dia cemburu level dewa melihat pusar sang gadis yang terekspos.


"Bimoo.."


"Ya tuan.." Bimo segera masuk ke dalam ruangan Zen begitu pria itu memanggil nya.


"Percepat jadwal kerja, aku ingin segera pulang."


"Baik tuan, tapi mungkin jadwal nya akan sangat padat."


"Tak masalah, yang penting cepat pulang!" Tegas nya lagi, membuat Bimo harus bekerja ekstra malam ini, untuk menyusun pekerjaan esok hari.


"Nasib jadi sekretaris plus asisten, lembur lagi bestie.." Rutuk Bimo, dia memulai pekerjaan nya dengan teliti, salah sedikit saja sudah di pastikan perusahaan akan rugi besar.


...


Ica juga tengah uring-uringan di rumah, Zen tak bisa di hubungi. Padahal hari ini dia ingin menceritakan kesan pertama kuliah nya, tapi pria itu malah tak bisa di hubungi.


"Isshh, Daddy ini kemana sih?"


Dia terus menekan icon hijau di ponsel nya, tapi hasilnya nihil. Pria itu sama sekali tak mengangkat panggilan darinya.


"Awas aja ya Dad, pas pulang gak Ica kasih jatah."


Gadis itu pun melempar ponsel nya ke kasur dan dia pun ikut berbaring, hingga rasa kantuk mulai menyerang, akhirnya dia tertidur tanpa bertukar kabar dengan Zen malam ini.


...


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2