Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 64


__ADS_3

Sore hari nya, gadis itu memilih keluar dari hotel tempat yang menjadi saksi bisu saat dia menyerahkan mahkota nya pada seorang pria asing, yang nama nya saja Hani tak tau.


Gadis itu berjalan pelan keluar dari hotel, meski rasa sakit di inti tubuh nya belum sepenuhnya hilang, tapi ini sudah lumayan membaik daripada tadi pagi, kaki nya limbung tak bisa menopang berat tubuh nya, hingga ke kamar mandi saja harus di bantu pria itu.


Hani pergi ke mall, sahabat nya mengajak nya bertemu, katanya ingin curhat penting.


Tapi sialnya, Ica curiga saat melihat cara nya berjalan. Akhirnya, mau tak mau pun Hani memberitahu kejadian yang terjadi padanya tanpa di kurangi atau di lebihkan.


Mereka pun memesan fried chicken di mall itu dan melakukan mukbang besar, karena selera makan kedua nya yang sefrekuensi, tapi lagi asik makan Daddy nya malah datang dan mengajak paksa Ica pulang. Terpaksa lah dia harus memakan ayam itu hingga habis.


...


Zen duduk di sisi ranjang dengan ponsel yang menyala di tangan nya dan Ica yang sedang cemberut di belakang tubuh Zen.


"Yang kuat dong, kamu kan habis makan ayam goreng. Kenapa lemah gini?"


"Iya iya Daddy." Ketus Ica, dia pun memperkuat pijatan nya hingga membuat pria itu meringis karena Ica benar-benar menyalurkan kekuatan nya dengan sekuat tenaga.


"Pelan-pelan Baby.."


"Tadi suruh kuat, udah lah Ica pegel.."


"Ini hukuman mu By, karena melanggar larangan Daddy."


"Tapi Ica pegel, pengen bobo capek."


"Capek habis ngapain memang nya?" Tanya Zen membuta gadis nya mendengus kesal.


"Kuliah, terus ke kantor Daddy, ehh dapet kejutan yang buat nyesek, di hajar di kamar mandi setengah jam, terus jalan-jalan di mall, makan ayam. Jadi Ica gak cuma capek fisik, tapi capek hati juga liat kelakuan mantan Daddy."


"Tapi seriusan, kamu ternyata bisa marah juga ya?"


"Setiap manusia pasti punya batas kesabaran, mau sekuat apapun, kita manusia pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ica gampang tersulut emosi, makanya tadi Ica nampar wanita itu."


"Bagus juga sih, kamu ngasih dia pelajaran!"

__ADS_1


"Harus nya Daddy yang ngasih mantan pacar Daddy itu pelajaran, tapi tadi Daddy diam saja. Apa Daddy merindukan wanita itu sehingga dian saja saat wanita itu mencium Daddy?" Tanya Ica dengan menekankan kata 'mantan pacar' pada Zen, membuat pria itu diam.


"Bukan begitu By..."


Belum selesai Zen bicara, Ica sudah memotong nya duluan.


"Tak usah di jawab Dad, Ica tau Daddy masih punya perasaan pada wanita itu, sedikit atau banyak wanita itu lebih dulu hadir di hidup Daddy sebelum aku."


"Tak perlu khawatir Dad, Ica cuma jadi pelampiasan Daddy, dan Ica sadar betul posisi itu."


"Ica mandi dulu, Daddy kalau mau makan duluan silahkan. Ica mungkin gak makan malam." Ica menutup pintu sedikit kuat, hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Zen merenungkan perkataan Ica, memang benar dia belum sepenuhnya melupakan Rosa di hati nya, tapi dia terlanjur membenci wanita itu saat ini.


Dreett..


Zen membaca pesan dari salah satu anak buah suruhan nya yang dia perintahkan untuk mengorek informasi wanita bernama Rosania.


Zen membulatkan mata nya, wajah nya memerah dengan kedua tangan yang terkepal, menandakan kalau emosi pria itu sedang tak stabil.


Zen pergi dari kamar dengan langkah lebar nya, menutup pintu dengan perlahan. Dia akan mengurung diri di ruang kerja disaat emosi nya tak terkendali, dia hanya khawatir dia akan menyakiti orang terdekat nya.


Kebiasaan Zen, jika dia lelah atau marah pasti melampiaskan nya dengan minum minum. Zen menuang anggur merah ke dalam gelas dan menenggak nya dengan sekali tegukan.


Sensasi panas langsung menyerang tenggorokan nya, tapi Zen menyukai sensasi nya. Dia kembali menenggak minuman beralkohol itu.


Ica keluar dari kamar nya karena haus, biasa nya Zen yang akan membawakan nya segelas jus kesukaan nya, tapi saat ini pria itu malah menghilang entah kemana.


Ica menuang jus ke dalam gelas dan meminum nya perlahan, Bi Arin juga masih terjaga, wanita baya itu sedang menyiapkan beberapa bahan untuk masakan besok.


"Lihat Daddy gak Bi?" Tanya Ica setelah selesai dengan segelas jus nya.


"Tadi kan sama Nona ke kamar.."


"Tadi Ica tinggal mandi, pas Ica keluar Daddy udah gak ada di kamar." Jelas Ica, mau sekesal apapun dia pada Zen, tapi rasa takut kehilangan pria itu terlalu besar.

__ADS_1


"Bibi gak lihat lagi Non, mungkin di ruang kerja. Biasanya tuan muda kalau lagi kesel atau capek pasti ngurung diri di ruang kerja semalaman." Jelas Bi Arin.


"Ngapain di ruang kerja Bi?"


"Bibi kurang tau, Non." Jawab Bi Arin, mana dia tau Zen berbuat apa di ruangan kerja itu, dia tak berani masuk ke dalam ruangan bernuansa dingin itu.


"Makasih info nya ya Bi, Ica cek dulu." Ica pergi menuju ruang kerja Zen.


Gadis itu menempelkan telinga nya di daun pintu, mengetuk pintu itu perlahan tapi tak ada jawaban, bahkan tak terdengar suara adanya aktifitas di dalam.


"Dad.."


Hening, seolah di dalam ruangan itu memang tak ada orang sama sekali. Lalu kemana Daddy nya pergi?


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Ica memutuskan kembali ke kamar nya saja, tapi saat dia berbalik Ica mendengar suara seperti benda jatuh di dalam ruangan itu.


Dia segera membuka pintu dan melihat pemandangan yang membuat nya miris. Zen terkapar tak sadarkan diri dengan botol minuman keras yang berserakan, bahkan beberapa di antara nya pecah berserakan.


"Ya ampun Dad.." Ica berlari mendekati Zen, lalu memangku kepala nya.


"Bangun Dad, Daddy kenapa minum sebanyak ini?"


"Ica, Daddy mencintai mu. Daddy tak menginginkan siapapun, hanya kamu." Racau Zen, entah sadar atau tidak dia menyatakan cinta nya.


"Daddy.."


Ica membantu pria itu bersandar di kursi, dan Ica membersihkan pecahan botol itu dan mengelap sisa-sisa minuman berwarna merah pekat itu dari lantai.


"Apa yang membuat Daddy mabuk-mabukan seperti ini? Pasti terjadi sesuatu!"


....


🌷🌷🌷


Pake acara mabuk-mabukan lagi Dad, ampun dah🙄

__ADS_1


__ADS_2