Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 56


__ADS_3

Ica termenung di sofa ruang tamu, sedangkan Zen pria itu berada di ruang kerja nya sejak beberapa jam tadi, entah sedang apa dia disana.


"Bosen.." Gumam Ica lalu membaringkan tubuh nya di sofa, tangan nya memencet tombol remot dengan random nya.


"Gak ada yang seru, kenapa gak pernah ada yang lucu atau gemesin kayak drama korea sih?" Gerutu Ica, tapi tak lama gadis itu menguap lebar dan tertidur di sofa.


Di ruangan nya, Zen sedang serius menatap beberapa anak buah nya yang sedang menundukan kepala nya, bahkan mereka bersimpuh di lantai dengan Zen yang menatap mereka tajam.


"Apa kalian tak benar-benar mencari informasi tentang keberadaan Rosa selama ini, bagaimana cara kalian bekerja hah? Hingga hal seperti ini kalian kecolongan?" Tanya Zen dengan nada dingin nya.


"Maaf tuan, tapi kami sangat yakin kalau Nona Rosa memang tewas hari itu."


"Lalu yang tadi di mall itu siapa? Tak mungkin Rosa palsu kan? Aku hafal betul bagaimana Rosa!" Bentak Zen, beruntung lah ruangan ini di desain kedap suara, hingga sekeras apapun orang berteriak di dalam, tak akan ada yang mendengar nya.


"Maaf Tuan.."


"Cari informasi apapun tentang Rosa sekarang juga! Kemana dia selama tiga tahun ini, pastikan niat dan tujuan nya kembali muncul di depan ku."


"Baik tuan." Jawab mereka serempak.


"Lakukan dengan bersih tanpa jejak, kerja yang benar atau kalian ku pecat."


"Kami mengerti tuan.."


"Pergi!" Ucap Zen, mereka pun pergi dari ruangan yang terasa mencekam itu.


Zen menghempaskan tubuh nya di sofa, pertemuan nya dengan Rosa membuat mood nya berantakan.

__ADS_1


Dia mulai mencintai Ica, tapi Zen juga tak bisa membohongi hati nya sendiri bahwa memang ruang hati nya masih terisi oleh wanita bernama Rosania.


"Kenapa harus begini? Kenapa kau muncul lagi Ros, susah payah aku melupakan mu, semua bayang-bayang mu, tapi kenapa kau malah muncul dan membuka luka lama!" Gumam Zen, pria itu memijat pelipis nya yang terasa berdenyut nyeri.


"Apa gadis ku sudah tidur? Sebaiknya aku fokus pada nya, jangan sampai dia salah paham."


Zen keluar dari ruang kerja nya, dia melotot saat melihat Ica yang terkapar di lantai.


"Sayang, Baby.." Zen segera berlari mendekati sang gadis, dia khawatir kalau Ica tak sadarkan diri karena makan banyak tadi.


"Baby, bangun.." Zen menepuk-nepuk pipi cabi gadis nya, tinggal bersama Zen begitu nyaman dan di manjakan, hingga dalam waktu singkat saja berat tubuh Ica bertambah beberapa kilogram, berbeda jauh saat dia tinggal bersama ibu tiri nya, Ica sangat kurus, bahkan pipi nya sangat tirus.


"Uhhh, apa sih Dad?" Tanya Ica, perlahan dia membuka kedua mata nya.


"Syukurlah, Daddy kira kamu pingsan tadi. Soalnya kamu makan nya kayak orang kerasukan." Celetuk Zen, membuat Ica mendelik dan memukul lengan Zen cukup keras hingg membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Apa? Mau ngatain aku kesurupan lagi? Iya, aku kesurupan setan cemburu, kamu tau itu kan?"


"Kamu keceplosan lagi ya sayang?" Tanya Zen dengan senyum jahil nya.


Ica mendengus, dia bangkit dan meninggalkan Zen yang masih mesem-mesem.


"Tunggu Baby.." Teriak Zen, pria itu berlari menyusul gadis nya menaiki tangga menuju ke kamar.


...


"Aku harus bisa membuat Zen bertekuk lutut lagi padaku, apapun cara nya!"

__ADS_1


"Seperti nya kau terobsesi dengan pria bernama Zen itu, sehebat apa sih pria itu di banding aku?" Tanya seorang lelaki yang sedang memangku wanita itu, siapa lagi kalau bukan Rosa.


Wanita itu bergerak tak karuan saat pria itu menyerang dua bulatan kenyal nya dengan rakus.


"Kau hanya mampu memuaskan hasratt ku sebagai wanita dewasa, sedangkan Zen memiliki uang yang tak terbatas, hanya itu perbedaan kalian berdua sayang!" Wanita itu membelai wajah berbulu pria yang sedang memangku nya dengan manja.


"Lalu, rencana mu apa sayang?"


"Merebut nya kembali dari gadis kecil nya, membuat nya berpaling, setelah itu aku bisa mengeruk harta Zen sepenuh nya, kau mengerti? Setelah itu kita akan hidup bahagia." Jawab Rosa dengan senyuman nakal nya.


"Aku hanya bisa mendukung mu sayang, ayo bergerak lebih cepat, aku akan meledak.." Rosa menurut dan bergerak cepat naik turun di atas tubuh bertatto pria itu.


Pria itu mengerang nikmat saat dia meraih pelepasan nya, sedangkan Rosa dia tersenyum puas karena pria nya selalu kalah dengan permainan nya.


"Kamu pernah bermain dengan pria bernama Zen itu sayang?" Tanya pria itu setelah berhasil mengatur nafas nya yang tersengal.


"Pernah beberapa kali, memang nya kenapa?"


"Apa senjata nya lebih besar dari milik ku?"


"Milik mu jauh lebih besar sayang, Zen hanya menang di durasi saja, dia bisa bermain berjam-jam tanpa meledak, tapi senjata nya kecil menurut ku."


Pria itu tersenyum bangga dan mencium bibir Rosa dengan liar, Rosa sudah terbiasa dengan serangan mendadak seperti ini, jadi dia dengan mudah bisa mengimbangi permainan pria itu.


....


🌷🌷🌷

__ADS_1


Jangan mimpi Ros!


__ADS_2