
Arian bergabung dengan rekan nya, dia duduk sambil meminum secangkir kopi hitam yang di buatkan oleh Ari, salah satu teman nya selama dia bekerja di mansion ini.
"Bengong aja terus, kenapa?" Tanya nya, saat melihat Arian bengong, seperti punya masalah.
"Biasa, pengen kawin gak punya duit." Jawabnya sambil cengengesan membuat Ari tergelak.
"Kawin, tinggal kawin aja, cewek ada di paviliun kan?"
"Dihh, nikah anjir bukan kawin itu. Brengseek Lo!" Pekik Arian, lagi-lagi membuat tawa Ari pecah.
"Duit bisa nanti, tapi niat baik itu gak bagus kalo di tunda-tunda." Nasehat Ari, sebagai teman yang baik tentunya dia harus memberikan solusi yang terbaik untuk masalah teman nya. Ya meski dia juga di juluki buaya, padahal dia hanya biawak saja, belum ke tahap buaya.
"Buaya sok-sokan ngasih nasehat lagi." Ledek Arian, nama mereka hampir mirip, sikap dan sifat nya hampir sama, maka dari itu mereka di juluki kembar tak seiras.
"Gue seriusan nih, kalo emang Lo udah niat serius, nekat aja."
"Bukan cuma masalah finansial sih, tapi restu aja gua gak dapet Ri, sial banget." Keluh Arian, dia ingat kata-kata pedas yang meluncur dari mulut Sinta, ibu kandung Meisya.
Dia mengatakan sampai kapan pun takkan pernah merestui nya menikahi Meisya, meski pun dia memohon atau mengemis untuk mendapatkan restu itu. Kalau saja yang bicara itu laki-laki, Arian pasti sudah menghajar nya sampai babak belur, tapi itu adalah wanita dan sayang nya itu adalah ibu Meisya, wanita yang dia cintai.
"Bengong lagi, gini ya masalah restu bisa Lu dapetin setelah nikah sama anaknya. Gue juga gitu,"
"Emang nya Lo laku gitu? Perasaan kang jomblo, jangan-jangan itu Lo udah berkarat ya saking lama gak di pake nya?" Ledek Arian membuat Ari mendelik sebal lalu memukul lengan Arian saking kesalnya.
"Nyebelin Lu lama-lama, sialan. Temen ngasih saran malah di becandain!" Kesal Ari. Dia memang paling banyak omong di antara yang lain, tapi paling nyeleneh juga. Ibarat kata, Ari ini adalah Brian di antara kumpulan Zen.
"Gue juga pengen nya gitu, sekarang nikah aja dulu. Masalah restu, nanti aja. Tapi gue mikirin perasaan nya Meisya, gimana perasaan nya nanti kalo seandainya kita nikah tapi tanpa restu."
__ADS_1
"Tanya dulu Meisya nya, dia mau gak? Kalo dia setuju atau mau-mau aja ya udah, nunggu apalagi?" Usul Ari, benar dia harus bertanya serius pada Meisya tentang hal ini.
"Oke Ri, nanti gue tanya sama Mei nya. Kalo dia mau, Lo jadi pendamping gue ya?" Pinta Arian, Ari adalah teman yang paling dekat dengan nya. Tapi bukan berarti dia tak punya teman lain selain Ari di tempat ini.
"Siap, semoga lancar aja terus dapet restu."
"Iya, gue juga doain Lo semoga cepetan laku." Celetuk Arian lalu pergi menjauh sebelum pria itu meneriakan nama nya.
"Ariiiaaannnn, awas Lo ya!"
Di paviliun, Meisya sudah bersiap tidur. Sudah lama dia tak tidur sendirian, tentu saja membuat nya merasa ada yang kurang, dia sudah terbiasa dengan pelukan Arian, pelukan hangat yang membuat tidurnya semakin nyenyak, namun sayang hari ini Arian bagian shift malam dan akan pulang pagi-pagi.
"Abang, Mei kangen.." gumam Meisya, seketika dia punya akal. Dia yakin takkan bisa tidur tanpa pelukan Arian, jadi dia memutuskan untuk menelpon nomor pria itu. Berdering, dan sedetik kemudian di angkat juga.
Nampak wajah tampan Arian sedang tersenyum ke arah nya, Meisya juga tersenyum manis ke arah Arian.
"Kangen.." rengekan Meisya terdengar manja, membuat Arian terkekeh.
"Mas nya kerja dulu, Sayang."
"Pengen di peluk." Rengek nya lagi, Meisya benar-benar membuat hari-hari Arian terasa lebih berwarna.
"Yaudah, kamu nya tidur dulu ya. Besok Mas peluk, mau?"
"Mau sekarang, dingin lho disini Mas."
"Matiin AC nya, Sayang."
__ADS_1
"Mas, pengen di peluk." Lagi-lagi perempuan itu merengek manja.
"Iya, besok ya Sayang. Mas kan lagi kerja buat nafkahin kamu."
"Yaudah, temenin di telpon aja sampe aku tidur ya?" Tawar Meisya, Arian menganggukan kepala nya.
"Iya sayang, Mas temenin sampe kamu bobok. Jangan rewel ya, besok di kasih es krim."
"Seriusan Mas?" Tanya Meisya dengan binar bahagia di wajahnya.
"Serius dong Sayang, emang nya kapan Mas ingkar janji? Kalo kamu nya baik, gak rewel Mas beliin besok, okey?"
"Okey Mas, Mei bobok sekarang." Ucap Meisya, lalu memejamkan mata nya. Dan tak lama berselang, Arian sudah bisa melihat kalau perempuan itu sudah benar-benar tertidur dengan nyaman.
"Cieeee, yang habis ngelonin calon bini." Ledek Parto, teman Arian juga.
"Lagi rewel nih, pengen di peluk terus." Ucap Arian sambil memasukan ponsel nya ke dalam saku.
"Cewek mah udah biasa kek gitu, Ar. Bini gue juga sama, cuman ya kehalang sama anak aja sekarang." Parto juga sudah berkeluarga, memiliki satu orang anak yang masih bayi berumur 8 bulan.
"Ya perempuan itu punya sifat masing-masing, Bang. Mereka harus di perlakukan selembut mungkin." Arian memanggil Parto Abang, karena selisih usia mereka yang cukup jauh.
"Iya dong, gak semua perempuan sifat nya sama."
Dan obrolan pun terjadi beberapa saat, sebelum kepala pasukan pengaman memberi instruksi untuk segera berbaris dan memulai penjagaan malam ini. Arian pun mulai bekerja dengan baik, dia bertugas mengamankan sisi samping mansion.
….
__ADS_1
🌷🌷🌷