Partner Ranjang Mr Zen

Partner Ranjang Mr Zen
Bab 243 S2


__ADS_3

Pagi harinya, Arian berjalan gontai menuju paviliun nya. Dia membuka sepatu hitam yang sejak tadi malam selalu melekat di kaki nya, membuat kaki nya terasa panas dan kaos kaki yang jelas saja berbau tak sedap. 


"Perasaan kagak punya penyakit kaki, tapi pas di buka bau amat." Keluh Arian sambil memijat kaki nya yang terasa pegal, bagaimana tidak pegal? Semalaman berdiri menjaga keamanan mansion, tak boleh teledor sedikit pun, karena bisa fatal akibatnya, bisa saja nyawa penghuni mansion dalam bahaya jika pengawal nya ceroboh. 


Tiba-tiba saja, pintu terbuka menampakan Meisya yang sudah rapi dan wangi. 


"Ayang, lho sudah pulang?" Tanya Meisya dengan raut terkejut nya. 


"Iya, kan udah ganti shift Sayang." Jawab Arian lesu, dia lelah. 


"Mei baru aja mau masak, kirain pergantian shift itu jam delapan, ini baru jam tujuh lebih." 


"Mana Mas tahu, ayo masuk. Mas capek," keluh Arian, Meisya yang mengerti pun langsung menggandeng tangan Arian masuk ke dalam paviliun.


Arian duduk di sofa, sedangkan Meisya pergi keluar, mengambil sepatu dan mencuci nya.


"Kok di cuci, Sayang?"


"Bau Mas, nanti kaki kamu ketularan bau. Jadi aku cuci, biar nanti sore kering jadi bisa kamu pakai lagi." Jawab Meisya, membuat Arian tersenyum kecil. Perhatian kecil semacam ini pun bisa membuat hatinya bahagia. 


Meisya sedang menjemur sepatu Arian di rak khusus yang ada di depan paviliun tempat nya tinggal, tak lama berselang datang teman-teman pria itu yang baru pulang, menyapa Meisya dengan ramah. 


"Udah nyuci sepatu aja, Neng." 


"Iya nih, biar nanti sore di pake lagi." Jawab Meisya dengan senyuman manis yang membuat teman-teman Arian ikut tersenyum juga. 


"Arian nya mana?" 


"Ini," suara bariton yang membuat Meisya langsung menoleh ke belakang. Disana Arian berdiri tegak dengan kaos oblong dan celana selutut yang menonjolkan otot-otot nya. 


Melihat itu, Meisya menelan ludahnya dengan kasar. Tubuh Arian kenapa sangat menggoda di pagi hari? Mungkin begitu isi pikiran Meisya saat ini. 

__ADS_1


"Malah bengong, masuk sayang. Disini gak aman, penuh buaya lepas kandang." Celetuk Arian, membuat lamunan Meisya buyar, secepat kilat dia kembali masuk, sebelum Arian mengeluarkan suara nya lagi. 


"Jangan mentang-mentang gue di dalem, kalian bisa godain Meisya ya. Gak bisa banget liat cewek bening lewat," gerutu Arian pada teman-teman nya. 


"Dihh posesif amat, kita kan cuma nyapa!" 


"Gak ada, besok-besok gak usah nyapa cewek gua!" Tegas Arian membuat teman-teman nya itu tersenyum penuh arti. 


Selama ini, Arian belum pernah terlihat sekesal itu karena sesuatu, namun sekarang? Bisa di lihat kan, bagaimana posesif nya pria itu menjaga Meisya dari korban buaya lepas kandang yang berbahaya.


Arian pun memilih masuk setelah mengucapkan itu, dia kesal saat melihat Meisya tersenyum pada laki-laki lain, padahal hanya tersenyum tapi dia sekesal itu? Aaahh dasar Arian, unik memang. 


"Ayang.." panggil Arian sambil melingkarkan tangan nya di pinggang Meisya, memeluk perempuan itu dari belakang.


"Lho kenapa wajah nya di tekuk gitu sih? Kamu jelek tahu." Ucap Meisya yang sedang memotong bahan-bahan untuk dia masak sarapan. 


"Kamu jangan senyum kek gitu ke teman aku bisa gak sih, Yang?"


"Gak boleh, aku gak rela Ayang." Rengek nya manja, membuat Meisya gemes sendiri. 


Dia menghentikan sejenak acara memasak nya, lalu berbalik dan menatap Arian yang sudah cemberut. Dia tergelak melihat ekspresi Arian yang nampak menggemaskan saat cemburu. 


"Jadi ceritanya Masku ini lagi cemburu ya?" 


"Bukan cemburu, Sayang. Tapi aku gak suka aja liat kamu senyum gitu ke cowok lain." Rajuk Arian. 


"Beda nya gak suka sama cemburu apa sih, Mas? Aku seneng lho kalau kamu beneran cemburu." 


"Masak nya nanti aja ya, mau nenenn." Pinta Arian sambil tersenyum genit ke arah perempuan nya. 


"Baiklah Masku, gendong?" 

__ADS_1


"Dengan senang hati." Jawab Arian, lalu menggendong Meisya dengan gaya bridal style, Meisya terkekeh lalu melingkarkan tangan nya di leher kokoh pria nya. Beberapa kali, Arian melayangkan kecupan-kecupan hangat yang membuat Meisya makin tergelak. 


Arian membaringkan tubuh Meisya di ranjang, tangan nya bergerak lincah membuka satu persatu kancing blouse yang Meisya kenakan. Arian nampak kesulitan menelan Saliva nya, di hadapkan dengan pemandangan yang membuat nya menegang. 


"Kalo lebih boleh, Yang?" Tanya Arian. 


"Boleh, tapi apa dulu?"


"Ini?" Tunjuk Arian ke bawah perut Meisya. 


"Waktu itu kan udah pernah, sekarang minta izin lagi gitu?" 


"Ya, kalo gak di bolehin aku berhenti." 


"Boleh." Jawab Meisya, membuat senyuman Arian terbit. 


Dia langsung berdiri dan menutup pintu yang lupa dia tutup, juga mengunci nya sekalian, pasalnya teman-teman nya itu suka masuk seenaknya keluar masuk tempat tinggal nya. 


Arian mendekat dan langsung melahap puncak buah kenyal milik Meisya, namun sayang, belum juga ke tahap yang lebih. Suara pintu di ketuk dari luar membuat Arian dan Meisya kompak menoleh ke arah pintu. 


"Ri, cepet di panggil Tuan Zen!" Teriak nya, membuat Arian mendengus. Baru saja pulang dan ingin bersenang-senang, ada saja gangguan nya. 


"Cepet pergi Mas, nanti kita lanjut ya?" Ucap Meisya sambil merapikan kembali pakaian nya. 


"Aihhh, iya sayang!" Jawab Arian, dia melangkah dengan cepat, bekerja dengan Zen ya harus siap kapanpun di butuhkan. 


Meisya menggelengkan kepala nya, dia kembali ke dapur, melanjutkan acara masak yang tadi sempat tertunda. 


Arian melangkah sambil mengusap wajah nya kasar, beberapa kali mulut nya menggerutu karena merasa terganggu kegiatan pagi nya. Andai saja pria bernama Azzendra itu bukan bos nya, dia takkan mau menurut dan akan lebih melanjutkan kegiatan nya bersama Meisya.


__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2